PEDOMAN SURVEILANS DBD
2.1.
Pengertian Surveilans Epidemiologi
Menurut WHO, surveilans adalah
proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara
sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang
membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan.
Surveilans epidemiologi adalah
kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau
masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan
dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat
melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses
pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada
penyelenggara program kesehatan.
Sistem surveilans epidemiologi
merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintegrasi
antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium, sumber-sumber
data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan,
meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota,
Propinsi dan Pusat.
2.2. Epidemiologi Penyakit DBD
Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus
dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit DBD dapat menyerang
semua umur/orang. Sampai saat ini penyakit DBD lebih banyak menyerang
anak-anak, tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan
kenaikan proporsi penderita penyakit DBD pada orang dewasa.
2.1.1 Penyebab
Penyebab
penyakit ini adalah virus dengue yang sampai
sekarang dikenal ada 4 tipe (tipe 1, 2, 3dan 4), termasuk dalam group B
Anthropod Borne Virus (Arbovirus), keempat virus ini telah ditemukan di
berbagai daerah di Indonesia. Penelitian di Indonesia menunjukkan Dengue tipe-3 merupakan serotype virus yang dominant yang menyebabkan kasus
yang berat. Masa inkubasi penyakit demam berdarah
dengue diperkirakan ≤ 7 hari.
2.1.2 Penularan
Penularan
penyakit demam berdarah dengue umumnya ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti meskipun dapat juga
ditularkan oleh Aedes Albopictus yang hidup di kebun. Kedua jenis nyamuk ini
terdapat hampir di seluruh pelosok
Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di
atas permukaan laut. Orang yang kemasukan virus
dengue untuk pertama kali, umumnya hanya menderita sakit demam dengue atau
demam yang ringan dengan tanda/gejala yang tidak spesipik atau bahkan tidak memperlihatkan tanda-tanda sakit sama sekali
(Asimtomatis). Penderita demam dengue biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu
5 hari tanpa pengobatan. Tetapi apabila orang sebelumnya sudah pernah kemasukan
virus dengue, kemudian kemasukan virus dengue dengan virus tipe lain maka orang
tersebut dapat terserang penyakit demam berdarah dengue (Teori Infeksi
Sekunder).
2.1.3 Tanda dan Gejala Penyakit
1. Demam
Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus menerus
berlangsung 2-7 hari, kemudian turun secara cepat.
2. Tanda-Tanda Pendarahan
Sebab
pendarahan pada penderita penyakit DBD ialah:
a. Trombositopeni
b. Gangguan fungsi trombosit
Perdarahan ini
terjadi di semua organ. Bentuk perdarahan dapat berupa:
- Uji
Tourniquet (Rumple Leede) positif
Uji Torniquet
positif sebagai tanda perdarahan ringan, dapat dinilai sebagai ”presumtif test”
(dugaan keras) oleh karena Uji Torniquet positif pada hari-hari pertama demam
ditemukan pada sebagian besar penderita penyakit DBD. Namum uji Torniquet
positif juga dijumpai pada penyakit virus lain (campak, demamchikungunyah) di
lengan bawah bagian depan (volar) dekat lipat siku (fosa cubiti).
- Petechiae, Purpura, Echymosis dan
perdarahan conjunctiva.
- (Petechiae
sulit dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk. Untuk membedakannya: regangkan kulit, jika hilang
maka bukan petheciae). Petechiae merupakan tanda perdarahan yang tersering
ditemukan. Tanda ini dapat muncul pula perdarahan subkonjunctiva atau hematuri.
- Hematemesis, melena.
- Hematuria.
3. Hepatomegali (Pembesaran Hati)
Sifat
pembesaran hati
a. Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit.
b. Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit.
c. Nyeri tekan sering kali ini ditemukan tanpa disrtai ikterus.
Pembesaran hati
mungkin disebabkan strain serotipe virus
dengue.
4. Renjatan (Shock)
Tanda-tanda
renjatan
a. Kulit terasa dingin dan lembab
terutama pada ujung jari dan kaki,
b. Penderita menjadi gelisah.
c. Sianosis
disekitar mulut.
d. Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba.
e. Tekanan nadi
menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang).
f. Tekanan darah
menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang).
Sebab renjatan:
a. Karena perdarahan atau
b. Karena kebocoran plasma ke darah
ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak.
5.Trombositopeni
a. Jumlah trombosit di bawah
150.000/mm3 biasanya ditemukan diantara heri ketiga samapi ke tujuh sakit.
b. Pemeriksaan trombosit dilakukan
minimal dua kali. Pertama pada waktu pasien masuk
dan apabila normal diulangi pada hari kelima sakit. Bila perlu diulangi lagi
pada hari ke 6-7 sakit.
6.Hemokonsentrasi
Meningkatnya
nilai hematokrit (Ht) merupakan indikator yang peka terhadap akan terjadinya
renjatan sehingga perlu dilakukan pemeriksaan berulang secara periodik.
7.Gejala Klinik lain
a. Gejala klinik lain yang dapat
menyertai penderita penyakit DBD ialah anoreaksi, lemah, mual, muntah, sakit
perut, diare atau konstipasi dan kejang.
b. Pada beberapa kasus terjadinya
kejang disertai hiperpireksia dan penurunan kesadaran sehingga sering di
diagnosa sebagai ensefalitis.
c. Keluhan sakit perut yang hebat
sering kali timbul mendahului perdarahan gastrointestinal dan renjatan.
2.1.4 Patofisiologi
Patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit ialah:
1. Meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah
2. Menurunnya volume plasma darah
3. Terjadinya hipotensi
4. Trombositopeni
5. Diatesis hemoragik
2.1.5 Diagnosa
Penyakit DBD
Diagnosa penyakit DBD ditegakkan jika ditemukan:
1.
Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama
2-7 hari.
2. Tanda perdarahan dan/atau
3. Pembesaran hati
4. Thrombositopeni (150.000/mm3 atau kurang)
5.
Hemokonsentrasi yang dapat dilihat dari meningginya hematokrit sebanyak 20%
atau lebih dibandingkan dengan nilai hematokrit selama dalam perawatan.
Dengan patokan
ini, 87% penderita yang tersangka penyakit DBD ternyata diagnosanya tepat
(dibuktikan dengan pemeriksaan serologi).
2.1.6 Prognose
Penyakit
Prognose penyakit DBD sulit
diramalkan. Pasien yang pada waktu masuk keadaan umumnya tampak baik, dalam
waktu singkat dapat memburuk dan tidak tergolong. Sebaliknya pasien yang
keadaan umumnya sangat buruk dengan pengobatan yang adekuat dapat tergolong.
2.1.7 Pengobatan
Pengobatan yang spesifik DBD belum
ada. Dasar pengobatan penderita penyakit DBD simptomatis adalah penggantian
cairan tubuh yang hilang karena kebocoran plasma.
2.3. Pelaksanaan Surveilans DBD
2.2.1 Justifikasi
Penyakit DBD
merupakan vektor-born disease dan potensial terjadi KLB, program penanggulangan
dilakukan oleh unit program P2B bersama program terkait. Surveilans DBD
terutama ditujukan untuk deteksi KLB dan monitoring program penanggulangan.
Setiap letusan
Kejadian Luar Biasa (KLB) dilakukan penyelidikan
epidemiologi dan pemutusan penularan serta pengambilan dan pemeriksaan spesimen.
2.2.2 Definisi Kasus
Kriteria klinis
DBD:
DBD ditandai
dengan gejala awal demam yang mendadak serta timbulnya tanda dan gejala klinis
yang tidak khas. Terdapat kecenderungan diatesis hemoragik dan resiko terjadi
syok yang dapat berakibat kematian. Hemostatis yang abnormal dan kebocoran
plasma adalah perubahan patofisologis yang paling mencolok, disertai
trombositoplania dan hemokonsentrasi merupakan temuan yang selalu ada.
1.
Kasus Suspek
Demam Dengue: memiliki dua atau lebih tanda-tanda berikut ini:
a.
Demam medadak dengan sakit kepala bagian dahi (prontal)
b.
Nyeri belakang mata
c.
Nyeri otot dan sendi
d.
Timbul rash/kemerahan
DHF
Kasus dengan
demam tinggi mendadak dalam jangka waktu 2-7 hari dengan satu atau lebih gejala
berikut ini:
a.
Tes torniquet positif
b.
Perdarahan di bawah kulit(
Petechiae, Encymoses, Purpura, perdarahan di sekitar tempat penyuntikan)
c.
Perdarahan pada
mukosa (Hematemisis, Melena)
d.
Pembesaran hati
DSS
Kasus dengan
gejala DHF disertai tanda-tanda adanya shock (tekanan nadi ≤ 20 mm/hg, dingin,
kulit basah).
2. Kasus Tersangka (Probable)
Demam dengue
adalah suspeck kasus yang mempunyai hubungan epidemiologi dengan kasus yang
mempunyai hubungan epidemiologi dengan kasus pasti dan untuk:
DHF: kasus
dengan hitung jenis thrombocyt ≤ 100-000/mm3,
DSS: kasus
dengan kenaikan hematocrit 25% atau lebih.
3. Kasus Pasti (Konfirmasi Laboratorium) adalah kasus dengan gejala di bawah ini:
a.
Kenaikan titer
4 kali kadar antibodi IgH
b.
Ditemukan IgM
(pada KLB)
c.
Dapat Isolasi
virus dengue dari serum atau spesimen otopsi
4. Klasifikasi Daerah (desa) Rawan DBD
Desa Rawan I (endemis) yaitu desa
yang dalam 3 tahun terakhir selalu ada kasus DBD.
Desa Rawan II (sporadis) yaitu
dalam 3 tahun terakhir ada kasus DBD.
Desa Rawan III (potensial) yaitu
dalam 3 tahun tidak ada kasus, tetapi berpenduduk padat, transpormasi rawan dan
ditemukan jentik ≥ 5%. Desa bebas yaitu desa yang tidak pernah ada kasus.
2.2.3 Sumber Data
Surveilans DBD
1. Rumah Sakit
Laporan
morbiditas dan mortalitas bulanan penderita rawat inap dan rawat jalan laporan
rumah sakit melalui Laporan RL2a dan RL2b yang dirangkum pada data system
surveilans terpadu penyakit (SSTP) Kabupaten/Kota Provinsi.
2. Puskesmas
Laporan
morbiditas puskesmas melalui laporan SP2TP atau SP3 atau SIMPUS yang datanya
dirangkum dalam data Sistem Surveilans Terpadu Penyakit (SSTP) kabupaten/Kota
atau Provinnsi, arau laporan puskesmas sentinel bagi Kabupaten/Kota dan
Surveilans Provinsi, serta laporan W1 (24 jam) bila ada indikasi KLB. Laporan bulan program dengan Form K. DBD di Puskesmas dan tingkat
Kabupaten/Kota.
3. Hasil
Pemeriksaan Laboratorium
Belum semua
Balai Laboratorium Kesehatan pusat/daerah dapat melakukan pemeriksaan tetapi
data hasil pemeriksaan laboratorium perlu dimanfaatkan dalam analisa
surveilans.
4.
Data Kegiatan Program
Laporan
pelaksanaan Fogging dari Form K. DBD dan angka jentik berkala (ABJ) hasil
kegiatan PJB yang dilakukan surveilans kabupaten/kota.
2.2.4 Presentasi dan
Analisa Data
1. Grafik : Kasus DBD menurut umur, waktu bulan/tahun dan
klasifikasi
diagnose DBD.
2. Tabel : Kasus dan kematian DBD
menurut umur dan klasifikasi diagnose
untuk meningkatkan manajemen kasus.
Insiden rate per area geografis kasus.
3. Map : Insiden Rate/100.000 populasi menurut
area geografis.
Klasifikasi
daerah rawan DBD.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penyakit Deman
Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue
dan ditularkan oleh pnyamuk Aedes Aegypti. Penyakit DBD dapat menyerang semua
umur/orang. Sampai saat ini penyakit DBD lebih banyak menyerang anak-anak,
tetapi dalam decade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan
proporsi penderita penyakit DBD pada orang dewasa.
3.2 Saran
1. Diharapkan individu, kelompok dan masyarakat mampu menciptakan lingkungan yang sehat hingga terbebas dari penyakit DBD.
2. Diharapkan agar mampu melindungi diri dari penularan penyakit DBD.
3. Diharapkan kepada masyarakat agar menyadari dan memahami sejak dini betapa
besarnya dampak dari penyakit DBD.
DAFTAR
PUSTAKA
Dinkes Kota
Jakarta, Data Kasus DBD tahun 2009 dan 2010.
Dirjen P2PL
Depkes RI, Panduan Praktis Surveilans Epidemiologi Penyakit, 2003.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar