Selasa, 05 November 2013

MENGANALISIS STANDAR DAN PELAKSANAAN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PADA DEMAM BERDARAH DENGUE”



PEDOMAN SURVEILANS DBD

2.1. Pengertian Surveilans Epidemiologi
Menurut WHO, surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan.
Surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.
Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat.

2.2.    Epidemiologi Penyakit DBD
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit DBD dapat menyerang semua umur/orang. Sampai saat ini penyakit DBD lebih banyak menyerang anak-anak, tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi penderita penyakit DBD pada orang dewasa.
2.1.1   Penyebab
Penyebab penyakit ini adalah virus dengue yang sampai sekarang dikenal ada 4 tipe (tipe 1, 2, 3dan 4), termasuk dalam group B Anthropod Borne Virus (Arbovirus), keempat virus ini telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian di Indonesia menunjukkan Dengue tipe-3 merupakan serotype virus yang dominant yang menyebabkan kasus yang berat. Masa inkubasi penyakit demam berdarah dengue diperkirakan ≤ 7 hari.
2.1.2   Penularan
Penularan penyakit demam berdarah dengue umumnya ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti meskipun dapat juga ditularkan oleh Aedes Albopictus yang hidup di kebun. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Orang yang kemasukan virus dengue untuk pertama kali, umumnya hanya menderita sakit demam dengue atau demam yang ringan dengan tanda/gejala yang tidak spesipik atau bahkan tidak memperlihatkan tanda-tanda sakit sama sekali (Asimtomatis). Penderita demam dengue biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu 5 hari tanpa pengobatan. Tetapi apabila orang sebelumnya sudah pernah kemasukan virus dengue, kemudian kemasukan virus dengue dengan virus tipe lain maka orang tersebut dapat terserang penyakit demam berdarah dengue (Teori Infeksi Sekunder).
2.1.3 Tanda dan Gejala Penyakit
1.         Demam
Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus menerus berlangsung 2-7 hari, kemudian turun secara cepat.
2.       Tanda-Tanda Pendarahan
Sebab pendarahan pada penderita penyakit DBD ialah:
a.            Trombositopeni
b.           Gangguan fungsi trombosit
Perdarahan ini terjadi di semua organ. Bentuk perdarahan dapat berupa:
- Uji Tourniquet (Rumple Leede) positif
Uji Torniquet positif sebagai tanda perdarahan ringan, dapat dinilai sebagai ”presumtif test” (dugaan keras) oleh karena Uji Torniquet positif pada hari-hari pertama demam ditemukan pada sebagian besar penderita penyakit DBD. Namum uji Torniquet positif juga dijumpai pada penyakit virus lain (campak, demamchikungunyah) di lengan bawah bagian depan (volar) dekat lipat siku (fosa cubiti).    
-  Petechiae, Purpura, Echymosis dan perdarahan conjunctiva.
- (Petechiae sulit dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk. Untuk  membedakannya: regangkan kulit, jika hilang maka bukan petheciae). Petechiae merupakan tanda perdarahan yang tersering ditemukan. Tanda ini dapat muncul pula perdarahan subkonjunctiva atau hematuri.
-  Hematemesis, melena.
-  Hematuria.
3.       Hepatomegali (Pembesaran Hati)
Sifat pembesaran hati
a.       Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit.
b.      Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit.
c.       Nyeri tekan sering kali ini ditemukan tanpa disrtai ikterus.
Pembesaran hati mungkin disebabkan strain serotipe virus dengue.
4.       Renjatan (Shock)
Tanda-tanda renjatan
a.    Kulit terasa dingin dan lembab terutama pada ujung jari dan kaki,
b.    Penderita menjadi gelisah.
c.  Sianosis disekitar mulut.
d.   Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba.
e.  Tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang).
f.  Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau  kurang).
Sebab renjatan:
a.    Karena perdarahan atau
b.    Karena kebocoran plasma ke darah ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak.
5.Trombositopeni
a.    Jumlah trombosit di bawah 150.000/mm3 biasanya ditemukan diantara heri ketiga samapi ke tujuh sakit.
b.    Pemeriksaan trombosit dilakukan minimal dua kali. Pertama pada waktu  pasien masuk dan apabila normal diulangi pada hari kelima sakit. Bila perlu diulangi lagi pada hari ke 6-7 sakit.
6.Hemokonsentrasi
Meningkatnya nilai hematokrit (Ht) merupakan indikator yang peka terhadap akan terjadinya renjatan sehingga perlu dilakukan pemeriksaan berulang secara periodik.
7.Gejala Klinik lain
a.    Gejala klinik lain yang dapat menyertai penderita penyakit DBD ialah anoreaksi, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare atau konstipasi dan kejang.
b.    Pada beberapa kasus terjadinya kejang disertai hiperpireksia dan penurunan kesadaran sehingga sering di diagnosa sebagai ensefalitis.
c.    Keluhan sakit perut yang hebat sering kali timbul mendahului perdarahan gastrointestinal dan renjatan.
2.1.4 Patofisiologi
            Patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit ialah:
1.             Meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah
2.             Menurunnya volume plasma darah
3.             Terjadinya hipotensi
4.             Trombositopeni
5.              Diatesis hemoragik
2.1.5    Diagnosa Penyakit DBD
Diagnosa penyakit DBD ditegakkan jika ditemukan:
1.             Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari.
2.             Tanda perdarahan dan/atau
3.             Pembesaran hati
4.             Thrombositopeni (150.000/mm3 atau kurang)
5.             Hemokonsentrasi yang dapat dilihat dari meningginya hematokrit sebanyak 20% atau lebih dibandingkan dengan nilai hematokrit selama dalam perawatan.
Dengan patokan ini, 87% penderita yang tersangka penyakit DBD ternyata diagnosanya tepat (dibuktikan dengan pemeriksaan serologi).
2.1.6    Prognose Penyakit
            Prognose penyakit DBD sulit diramalkan. Pasien yang pada waktu masuk keadaan umumnya tampak baik, dalam waktu singkat dapat memburuk dan tidak tergolong. Sebaliknya pasien yang keadaan umumnya sangat buruk dengan pengobatan yang adekuat dapat tergolong.
2.1.7    Pengobatan
            Pengobatan yang spesifik DBD belum ada. Dasar pengobatan penderita penyakit DBD simptomatis adalah penggantian cairan tubuh yang hilang karena kebocoran plasma.
2.3.    Pelaksanaan Surveilans DBD
2.2.1  Justifikasi
Penyakit DBD merupakan vektor-born disease dan potensial terjadi KLB, program penanggulangan dilakukan oleh unit program P2B bersama program terkait. Surveilans DBD terutama ditujukan untuk deteksi KLB dan monitoring program penanggulangan.
Setiap letusan Kejadian Luar Biasa (KLB) dilakukan penyelidikan epidemiologi dan pemutusan penularan serta pengambilan dan pemeriksaan spesimen.
2.2.2  Definisi Kasus
Kriteria klinis DBD:
DBD ditandai dengan gejala awal demam yang mendadak serta timbulnya tanda dan gejala klinis yang tidak khas. Terdapat kecenderungan diatesis hemoragik dan resiko terjadi syok yang dapat berakibat kematian. Hemostatis yang abnormal dan kebocoran plasma adalah perubahan patofisologis yang paling mencolok, disertai trombositoplania dan hemokonsentrasi merupakan temuan yang selalu ada.
1.             Kasus Suspek
Demam Dengue: memiliki dua atau lebih tanda-tanda berikut ini:
a.                   Demam medadak dengan sakit kepala bagian dahi (prontal)
b.                  Nyeri belakang mata
c.                   Nyeri otot dan sendi
d.                  Timbul rash/kemerahan
DHF
Kasus dengan demam tinggi mendadak dalam jangka waktu 2-7 hari dengan satu atau lebih gejala berikut ini:
a.                   Tes torniquet positif
b.                  Perdarahan di bawah kulit( Petechiae, Encymoses, Purpura, perdarahan di sekitar tempat penyuntikan)
c.                   Perdarahan pada mukosa (Hematemisis, Melena)
d.                  Pembesaran hati
DSS
Kasus dengan gejala DHF disertai tanda-tanda adanya shock (tekanan nadi ≤ 20 mm/hg, dingin, kulit basah).
2.             Kasus Tersangka (Probable)
Demam dengue adalah suspeck kasus yang mempunyai hubungan epidemiologi dengan kasus yang mempunyai hubungan epidemiologi dengan kasus pasti dan untuk:
DHF: kasus dengan hitung jenis thrombocyt ≤ 100-000/mm3,
DSS: kasus dengan kenaikan hematocrit 25% atau lebih.
3.             Kasus Pasti (Konfirmasi Laboratorium) adalah kasus dengan gejala di bawah ini:
a.                   Kenaikan titer 4 kali kadar antibodi IgH
b.                   Ditemukan IgM (pada KLB)
c.                   Dapat Isolasi virus dengue dari serum atau spesimen otopsi
4.             Klasifikasi Daerah (desa) Rawan DBD
Desa Rawan I (endemis) yaitu desa yang dalam 3 tahun terakhir selalu ada kasus DBD.
Desa Rawan II (sporadis) yaitu dalam 3 tahun terakhir ada kasus DBD.
Desa Rawan III (potensial) yaitu dalam 3 tahun tidak ada kasus, tetapi berpenduduk padat, transpormasi rawan dan ditemukan jentik ≥ 5%. Desa bebas yaitu desa yang tidak pernah ada kasus.

2.2.3    Sumber Data Surveilans DBD
1.         Rumah Sakit
Laporan morbiditas dan mortalitas bulanan penderita rawat inap dan rawat jalan laporan rumah sakit melalui Laporan RL2a dan RL2b yang dirangkum pada data system surveilans terpadu penyakit (SSTP) Kabupaten/Kota Provinsi.
2.         Puskesmas
Laporan morbiditas puskesmas melalui laporan SP2TP atau SP3 atau SIMPUS yang datanya dirangkum dalam data Sistem Surveilans Terpadu Penyakit (SSTP) kabupaten/Kota atau Provinnsi, arau laporan puskesmas sentinel bagi Kabupaten/Kota dan Surveilans Provinsi, serta laporan W1 (24 jam) bila ada indikasi KLB. Laporan bulan program dengan Form K. DBD di Puskesmas dan tingkat Kabupaten/Kota.
3.         Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Belum semua Balai Laboratorium Kesehatan pusat/daerah dapat melakukan pemeriksaan tetapi data hasil pemeriksaan laboratorium perlu dimanfaatkan dalam analisa surveilans.
4.             Data Kegiatan Program
Laporan pelaksanaan Fogging dari Form K. DBD dan angka jentik berkala (ABJ) hasil kegiatan PJB yang dilakukan surveilans kabupaten/kota.
2.2.4    Presentasi dan Analisa Data
1.         Grafik : Kasus DBD menurut umur, waktu bulan/tahun dan klasifikasi   
  diagnose DBD.
2.         Tabel   : Kasus dan kematian DBD menurut umur dan klasifikasi diagnose
   untuk meningkatkan manajemen kasus.
  Insiden rate per area geografis kasus.
3.         Map     : Insiden Rate/100.000 populasi menurut area geografis.
                          Klasifikasi daerah rawan DBD.

BAB III
PENUTUP
                                                 
3.1       Kesimpulan
Penyakit Deman Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh pnyamuk Aedes Aegypti. Penyakit DBD dapat menyerang semua umur/orang. Sampai saat ini penyakit DBD lebih banyak menyerang anak-anak, tetapi dalam decade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi penderita penyakit DBD pada orang dewasa.

3.2       Saran
1.        Diharapkan individu, kelompok dan masyarakat mampu menciptakan lingkungan yang sehat hingga terbebas dari penyakit DBD.
2.        Diharapkan agar mampu melindungi diri dari penularan penyakit DBD.
3.        Diharapkan kepada masyarakat agar menyadari dan memahami sejak dini betapa besarnya dampak dari penyakit DBD.


DAFTAR PUSTAKA

 Dinkes Kota Jakarta, Data Kasus DBD tahun 2009 dan 2010.
 Dirjen P2PL Depkes RI, Panduan Praktis Surveilans Epidemiologi Penyakit, 2003.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar