Selasa, 05 November 2013

ASPEK PENYULUHAN






Perlengkapan Penyuluhan


Sebagai  suatu  sistem pendidikan non-formal,  yaitu  suatu sistem pendidikan terprogram di luar sekollah, kegiatan  penyuluhan mutlak  memerlukan perencanaan yang jelas  mengenai  program pendidikan yang akan dilaksanakan. Tentang hal ini, dalam  setiap melaksanakan  kegiatan penyuluhan, seorang penyuluh  tidak  hanya cukup  menetapkan  topik materi penyuluhan dan  merancang  metoda yang akan diterapkan. Tetapi, yang tidak boleh dilupakaan  adalah persiapan tentang perlengkapan penyuluhan.
Di dalam penyuluhan, perlengkapan penyuluhan sangat  penting untuk:  membantu kelancaran pelaksanaan penyuluhan maupun untuk memperjelas  materi yang disampaikan agar mudah diingat  dipahami oleh masyarakat penerima manfaatnya.

A. Alat Bantu Penyuluhan
Alat  bantu penyuluhaan adalah alat-alat  atau  perlengkapan penyu-luhan yang diperlukan oleh seorang penyuluh guna  memperlan­car proses mengajarnya selama kegiatan penyuluhan itu  dilaksana­kan.  Alat  ini  diperlukan, untuk  mempermudah  penyuluh  selama melaksanakan  kegiatan penyuluhan, baik dalam menentukan/memilih materi penyuluhan atau menerangkan inovasi yang disuluhkan.
Tentang hal ini, Mardikanto (1985)mengemkakan beragam alat-bantu penyuluhan yang  diperlukan  setiap  penyuluh, seperti yang tersebut dalam Gambar 39.

(1)  Kurikulum
Berbeda  dengan  pengertian  sehari-hari yang mengartikan ”kuriku-lum sekadar   daftar   mata   pelajaran   yang    akan diberikan/dipela-jari,  kurikulum sebenarnya merupakan  pernyataan tertulis tentang perencanaan pendidikan yang memuat (Mardi­kanto, 1984):



``
 


Lembar Persiapan:
i   Menyuluh
i   Melatih
i   Kerja

 
LEMBAR PERSIAPAN
PENYULUHAN
(HANDOUT)
 
 




























Gambar 39, Alat Bantu Penyuluhan
 
 
 

a)      Tujuan-tujuan  yang  ingin  dicapai  atau  tujuan-tujuan  yang di-kehendaki,  baik  tujuan umum dari program  pendidikan  yang diselenggarakan  maupun  tujuan khusus yang  berupa  perubahan perilaku yang diinginkan dalam diri penerima manfaat didik.

b)      Kegiatan-kegiatan  yang harus dilaksanakan oleh  pendidik  dan peserta-didik selama berlangsungnya proses belajar  mengajar, serta  mencakup: metoda mengajar yang akan diterapkan,  kegiat-an-kegiatan yang akan dilakukan pendidik, kegiatan yang  akan dan harus dilaksanakan oleh setiap penerima manfaat didiknya.

c)      Daftar  mata pelajaran yang akan disampaikan, termasuk  pokok-pokok  bahasan yang disusun menurut urutan tujuan  pendidikan, baik  menurut  isi (content area)  maupun  prosesnya  (process area)

d)      Rencana  evaluasi yang akan dilaksanakan, baik  yang  mengenai waktu  pelaksanaan evaluasi (evaluasi awal,  evaluasi  antara, dan  evaluasi  akhir)  aspek  perilaku  yang  akan  dievaluasi (perubahan:  sikap,  pengetahuan,  ketrampilan)  teknik-teknik maupun evaluasi yang akan diterapkan.

Karena itu, kurikulum merupakan suatu "paket" yang berisi rencana mengajar secara lengkap (Soediyanto, 1978).

Di  dalam kegiatan penyuluhan, adanya kurikulum akan  sangat membantu  penyuluh dalam merancang kegiatan penyuluhan yang  akan dilaksanakannya, terutama jika ia akan menerapkan ketoda  kursus. Tetapi,  hal  ini  tidak berarti bahwa untuk penyuluhan dengan menerapkan  metoda  yang  lain tidak memerlukan kuri-kulum yang jelas.
Bagaimanapun,  adanya  kurikulum  akan  sangaat  membantu penyu- luh dalam dalam merancang/merencanakan dan melaksanakan kegi-atan penyuluhannya.

(2) Lembar-lembar persiapan penyuluhan
Adanya  kurikulum yang telah dipersiapkan, sebenarnya  belum cukup  membantu  kelancaran kegiatan penyuluhan di  lapangan.  Di dalam  praktek,  setiap  penyuluh  sebenarnya  masih   memerlukan "lembar persiapan penyuluhan" yang berisikan pokok-pokok kegiatan yang harus dikerjakan selama kegiatan penyuluhannya berlangsung.
Mengingat kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan oleh seorang penyuluh  sangatlah  beragam,  maka setiap  penyuluh  juga  harus mempersiapkan beragam lembar persiapan penyuluhan yang berupa:

a)      1) Lembar persiapan menyuluh (LPM), yang berisikan urutan konolo­gis  tentang pokok-pokok bahasan yang akan disampai-kan  selama penyuluhan  dilaksanakan.
Di dalam LPM, di  samping  berisikan pokok-pokok bahasan. juga dicantumkan pula  tentang   metoda penyuluhan yang akan diterapkan serta alokasi waktu yang  akan diperlukan. LPM  ini, biasanya hanya disiapkan untuk  kegiatan  penyuluhan mengenai aspek sikap dan pengetahuan.
b)      Lembar  persiapan latihan (LPL), yaitu serupa LPM yang  dikhu­suskan untuk kegiatan penyuluhan yang menyangkut aspek  penge­tahuan dan ketrampilan.
c)      Lembar persiapan kerja (LPK), yaitu serupa LPM yang dipersiap­kan  manakala  di  dalam penyuluhan  nanti  akan  dilaksanakan latihan menggunakan peralatan atau latihan  ketrampilan.

(3) Papan tulis dan atau papan penempel
Pada  setiap kegiatan penyuluhan, apalagi jika dilakukan  di dalam ruangaaan, seringkali penyuluh memerlukan papan tulis  atau papan  penempel untuk mejelaskan materi yang  disuluhkan.  Sedang jika penyuluhan dilakukan di lapangan, diperlukan  papan penempel dengan ukuran yang relatif kecil dan mudah dilipat.
Untuk  papan tulis, biasanya digunakan papan tulis  berwarna hitan atau hijau (jika menulis dengan kapur), atau yang  berwarna putih "white board" jika menulisnya dengan tinta.
Papan  penempel  yang sering digunakan  di  lapangan  adalah papan  yang dilapisi dengan kain panel, atau hanya   berupa  kain  panel saja yang mudah dilipat. Sedang untuk keperluan  penyuluhan di  dalam  ruangan, seringkali digunakan papan panel  atau  papan bermagnit "magnetic board". Papan penempel ini, biasanya  diguna­kan  untuk tempat menempelkan gambar-gambar atau  tulisan-tulisan  yang telah dipersiapkan sebelumnya.

(4) Alat tulis
Seperti  halnya dengan papan tulis, setiap  penyuluh  sangat memer-lukan  alat  tulis, baik untuk  menulis  maupun  menggambar, untuk mempermudah di dalam menerangkan materi penyuluhan  kepada penerima manfaatnya.
Dalam hal penggunaan alat tulis ini, disarankan agar  penyu­luh mempersiapkan alat tulis dengan beragam warna (kapur  berwar­na, pensil berwarna, ballpen berwarna, spidol, dll).

(5) Perlengkapan ruangan
Untuk pelaksanaan penyuluhan di dalam ruangan, setiap penyu­luh  akan  memerlukan  beragam alat bantu  menyuluh,  baik  untuk membantu memperjelas kegiatan penyuluhannya, maupun untuk member­ikan  suasana  nyaman bagi penerima manfaatnya. Beragam alat  bantu  dalam ruangan itu adalah:
a)      Pengeras suara (berikut microphone dan amplifiernya), terutama jika penerima manfaat cukup banyak. Jumlah microphone hendaknya disiap­kan lebih dari satu, agar pada saat penerima manfaat memberikan tangga­pannya, dapat pula menggunakan pengeras suara tersebut.
b)      Penata  cahaya, termasuk lampu (untuk menerangi  ruangan)  dan kain gordijn berwarna hitam (untuk menggelapkan ruangan,  jika digunakan proyektor).
c)      Penata  udara, berupa kipas angin atau air  conditioner  (AC), terutama  jika  ruangan yang digunakan relatif  sempit  dengan ventilasi  yang terbatas, dan penyuluhan dilaksanakan  disiang hari yang panas.

Berbeda  dengan  pelaksanaan penyuluhan  di  dalam  ruangan, pelak-sanaan  penyuluhan di lapang seringkali memerlukan  pengeras- suara  yang  dapat diteneteng dengan mudah,  yang  biasa  disebut dengan "megaphone".

(6) Proyektor
Di samping perlengkapan-perlengkapan tersebut, untuk  kegiatan penyuluhan di dalam ruangan seringkali masih memerlukan  alat bantu penyuluhan yang berupa beragam projector, yaitu:

a)      Overhead  projector,  untuk memproyeksikan  tulisan  dan  atau gambar yang ditulis pada bahan tembus cahaya (plastik/transpa­racy sheet).
b)      Direct projector, semacam  overhead  proyector  tetapi  untuk memproyeksikan tulisan dan atau gambar yang tercetak pada kertas biasa.
c)      Solid  projector,  semacam  overhead  proyector  tetapi  untuk memproyeksikan benda-benda tembus cahaya.
d)      Movie projector, untuk memproyeksikan film dan film strip.
e)      Slide  projector,  untuk  memproyeksikan  gambar/tulisan  yang direkam dan slide film.
f)       LCD Projector, yang dihubungkan dengan PC-computer atau notebook/laptop, untuk memproyeksikan tulisan dan atau gambar.

Sehubungan  dengan  penggunaan  beragam  projector  tersebut perlu  juga  dipersiapkan layarnya. Sedang untuk  pemakaian  sled projector yang dihubungkan ke pengeras suara seringkali  diperlu­kan "synchronizer cassete recorder".
Di dalam praktek penyuluhan, ternyata tidak selalu alat-bantu yang disebutkan tadi tersedia semanya, tamanya jika penyuluhan dilak-sanakaan di luar ruangan atau di lapangan.  Oleh sebab   itu,  setiap penyuluh perlu  mempersiapkan  diri  sebaik-baiknya agar dia selalu siap menyuluh dengan baik meskipun  tanpa bantuan beragam alat-alat bantu menyuluh (alat tulis, papan tulis dan  menempel,  serta proyektor) seperti  yang  telah  disebutkan tadi.  Di pihak lain, ketergantungan kepada alat-alat elektronik bisa berakibat fatal, jika ternyata mengalami ganggan teknis di lapangan.

B Alat peraga Penyuluh
Jahod  Sumabrata (Attila Garnadi, 1971)  mengemukakan  bahwa alat-alat peraga adalah sesuatu (alat, benda) yang dapat  dilihat untuk menjelaskan apa yang dimaksudkan.
Tetapi  di  dalam praktek, alat peraga  tidak  selalu  hanya merupakan sesuatu (benda, alat) yang dapat "dilihat" atau diamati dengan mata, melainkan seringkali juga alat atau benda yang dapat dilihat dan didengar.

Sehubungan  dengan itu, Attila Garnadi (1971)  mengartikan  "alat peraga"  bukan  sekadar "visual aid" tetapi  "audio  visual  aid"  yaitu segala  sesuatu yang dapat dilihat dan atau  didengar  dan berfung-si  untuk  meragakan dan atau menjelaskan  segala  sesuatu pengertian yang disampaikan secara lisan. Sedang Patterson mengartikan  alat peraga sebagai alat yang dapat digunakan  untuk memper-lancar proses komunikasi.
Agak  berbeda  dengan pengertian-pengertian  tersebut,  dari penga-lamannya sebagai penyuluh, Mardikanto (1985) mengarti­kan alat peraga sebagai:

Alat  atau benda yang dapat diamati, didengar, diraba,  atau dirasakan  oleh indera manusia, yang berfungsi sebagai  alat untuk meragakan dan atau menjelaskan uraian yang disampaikan secara  lisan (oleh penyuluh) guna membantu  proses  belajar penerima manfaat penyuluhan agar materi penyuluhan lebih mudah diterima dan dipahami oleh penerima manfaat penyuluh-an yang  bersang­kutan.

Lebih  lanjut,  Ooy Sunarya (1978) mengemukakan  bahwa  alat peraga penyuluhan sebenarnya tidak sekadar berfungsi sebagai alat peraga  atau  penjelas, melainkan memiliki  fungsi  yang  beragam yaitu:

a)      Menarik perhatian atau memusatkan perhatian penerima man-faat,  sehingga lebih mengkonsentrasikan diri untuk mengikuti jalannya  penyu­luhan  yang sedang dilaksanakan oleh penyuluh yang  bersangkutan.
b)      Memperjelas  pengertian tentang segala sesuatu yang  diuraikan atau  disampaikan penyuluh secara lisan, sehingga dapat  meng­hindarkan terjadinya salah pengertian yang tidak sesuai dengan yang dimaksudkan oleh penyuluhnya. Ingin dijelaskan.
c)      Membuat  penyuluhan lebih efektif, karena penerima manfaat lebih  cepat menerima  dan memahami segala sesuatu yang dimaksudkan  penyu­luhnya.
d)      Dengan  peragaan  akan dapat menghemat  waktu yang diperlu-kan penyuluh untuk  menjelaskan materi yang ingin disampaikan/  dijelaskan.
e)      Memberikan  kesan yang lebih mendalam, sehingga penerima manfaat  tidak mudah melupakan kegiatan penyuluhan yang pernah diikutinya.

Seperti  halnya  dengan  alat  bantu  penyuluhan,  di  dalam penyuluh-an  dikenal  beragam alat peraga seperti  tersebut  dalam Gambar 40.

(1) Benda
Salah satu alat peraga penyuluhan yang paling mudah  dipero­leh atau dibuat adalah yang berupa "benda". Alat peraga semacam ini terutama dimaksudkan untuk mempenga­ruhi  pengetahuan  dan ketrampilan penerima manfaat dalam tahapan minat, menilai, dan mencoba.
Tentang benda yang dapat digunakan sebagai alat peraga  ini, ada beberapa macam, yaitu:

a)      Sample  atau contoh, yaitu benda atau barang asli  yang  dapat dibawa penyuluh untuk dijelaskan kepada penerima man-faat  penyuluhannya (misal: contoh benih, contoh pupuk, dll).
b)      Model  atau tiruan, ini biasa digunakan sebagai  alat  peraga, jika  benda asli sulit didapat, volumenya terlalu besar  untuk dibawa  ke lokasi tempat pelaksanaan penyuluhan, atau  terlalu kecil  untuk  mudah diamati oleh  penerima manfaatnya tanpa  peralatan khusus (misa: contoh traktor, contoh wereng, dll).
c)      Specimen  atau benda asli yang telah diawetkan,  karena  benda asli sulit didapat.

Dari  ketiga  macam  benda tersebut, benda  asli  merupakan  alat peraga  yang paling baik. Hal ini disebabkan karena,  baik  model maupun  specimen  seringkali  (terutama  warnanya  tidak  setepat aslinya).
 

























                                                                    

 




Gambar 40. Alat Peraga Penyuluhan


(2) Barang cetakan
Di dalam praktek, setiap penyuluh dapat menggunakan  beragam barang  cetakan  sebagai  alat peraga  penyuluhannya,  baik  yang berupa gambar, tulisan, atau campuran dari keduanya dengan kompo­sisi yang sama atau salah satu lebih dominan.

a)      Pamflet  atau  selebaran,  yaitu barang  cetakan  yang  berupa selebar  kertas bergambar dan atau bertulisan,  yaitu  dibagi-bagi-kan  oleh  penyuluh  secara  langsung  kepada  penerima manfaat-nya, disebarkan  ke  jalan raya (sambil mengendarai mobil,  sepeda motor,  atau  kendaraan lainnya), atau disebarkan dari udara melalui pesawat terbang atau helikopter.
Alat peraga seperti ini, biasanya dimaksudkan untuk  menumbuh­kan  kesadaran dan minat penerima manfaatnya. Meskipun demikian (jika berisi  informasi yang lebih lengkap) dapat dimanfaatkan  oleh penerima manfaat pada tahapan menilai dan mencoba.

b)      Leaflet dan folder.  Seperti halnya pamflet, keduanya merupakan barang-barang cetakan  yang juga dibagi-bagikan kepada peneri-ma manfaat  penyuluhan. Bedanya adalah: umumnya dibagikan secara langsung oleh penyuluhnya.
Leaflet merupakan selembar kertas yang dilipat menjadi  dua (4 halaman), sedang folder dilipat menjadi tiga (6 halaman) atau lebih. Di samping itu, leaflet dan folder lebih banyak berisikan tulisan dari pada gambarnya.
Leaflet dan folder, terutama ditujukan kepada penerima manfaat untuk mempengaruhi  pengetahuan dan ketrampilannya pada tahapan minat, menilai, dan mencoba.

c)      Brosur  atau booklet, merupakan barang cetakan yang  berisikan gambar  dan tulisan (lebih dominan) yang berbentuk buku  kecil setebal 10 - 25 halaman, dan paling banyak 50 halaman.
Seperti  halnya leaflet dan folder, booklet  juga  dimaksudkan untuk mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilan penerima manfaat  tetapi pada tahapan menilai, mencoba, dan menerapkan.

d)      Placard  dan poster, keduanya merupakan barang cetakan dengan ukuran  yang relatif besaar untuk ditempel di tembok, di pohon, atau direntangkan dipinggir/ditengah jalan.
Berbeda  dengan placard yang lebih banyak  berisikan  tulisan, poster lebih banyak berisi gambar. Keduanya dimaksudkan  untuk mempengaruhi perasaan/sikap dan pengalaman penerima manfaat pada  taha­pan sadar dan minat.

e)      Flipchart atau peta singkap, adalah sekumpulan poster  selebar kertas  koran,  yang digabungkan menjadi  satu.  Masing-masing berisi  pesan terpisah, yang jika digabungkan  akan  merupakan saatu  kesatuan  yang tak terpisahkan yang  ingin  disampaikan secara utuh.
Tergantung  isi  pesan yang ingin disampaikan,  flipchart  ada yang  dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap, pengetahuan dan atau ketrampilan.  Tetapi, karena biasaa digunakan dalam perte-muan-kelompok, alat peraga ini lebih efektif dan efisien untuk disediakan bagi penerima manfaat pada tahapan minat, menilai, dan mencoba.

f)       Photo,  merupakan  salah satu alaat  peraga  yang  dimaksudkan untuk mengenalkan inovasi, atau menunjukkan bukti-bukti keber­hasilan/keunggulan satu inovasi yang ditawarkan.
Photo  ini, biasanya dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap  dan pengetahuaan penerima manfaat pada tahapan sadar, minat, dan menilai.

g)      Flanelgraph,  merupakan alat peraga berbentuk potongan gambar  atau  tulisan  yang ditempelkan pada papan  magnit  atau  kain flanel.
Berbeda  dengan  photo, flanelfraph  terutama  digunakan  pada pertemuan kelompok untuk mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilan penerima manfaat  pada  tahapan: minat, menilai,  mencoba,  dan bahkan dapat pula pada tahapan menerapkan.
Meskipun disajikan dalam bentuk dan cara yang berbeda, semua alat  peraga  yang berupa barang cetakan ini harus memuat pesan yang  lengkap  yang mudah dipahami oleh penerima manfaat-nya.  Karena  itu, baik  gambar dan atau tulisan yang disampaikan harus  komunikatif  dan  dengan  tata  warna yang menarik per-hatian pula (meskipun kadang-kadang nampak jelek, tetapi harus menarik perhatian masya­rakat umum).

Kecuali flipchart dan flanelgraph, semua barang cetakan yang lain,  merupakan alat peraga yang disampaikan  dengan  pendekatan tak langsung. Sedaang flipchart dan flanelgraph harus disampaikan dengan pendekatan langsung pada pertemuan kelompok atau kunjungan (anjangsana, anjang karya).

(3) Gambar yang diproyeksikan
Meskipun  alat peraga ini dinamakan gambar  terproyeksi,  ka­dang-kadang  juga banyak berisikan tulisan, seperti halnya  dalam penggunaan transparancy sheet, slide-slide, dan film strip.
Tentang  penggunaan alat peraga kelompok ini, kecuali  movie/ film  yang  dapat digunakan dalam  pendekatan  masal,  selebihnya hanya efektif digunakan dengan pendekatan kelompok.

a)      Transparancy  sheet, adalah lembaran mika (plastik)  bergambar dan atau bertulisan yang diproyeksikan ke layar dengan menggu­nakan overhead projector.
Alat  peraga seperti ini, biasa digunakan di  dalam  pertemuan kelompok di dalam ruangan, terutaama untuk mempengaruhi penge­tahuan dan ketrampilan penerima manfaat.

b)      Slide  film, adalah suatu hasil karya photografi  yang  berupa film positif yang diberi bingkai untuk diproyeksikan ke  layar dengan menggunakan slide projektor. Di dalam pelaksanaan penyuluhan, biasanya disediakan  beberapa buah  slide  film yang telah disusun  berurutan  sebagai  satu kesatuan paket penyuluhan yang utuh.
Alat peraga ini, terutama digunakan untuk mengenalkan,  mende­monstrasikan  hasil-hasil yang  dicapai   atau   keunggulan-keung- yang dimiliki oleh sesuau inovasi, serta  menjelas­kaan  cara  kerja suatu peralatan yang  ditawarkan.  Sehingga, sangat efektif untuk  mempengaruhi  sikap,  pengetahuan,  dan ketrampilan penerima manfaatnya pada tahap minat, menilai, dan mencoba.
Karena  berupa gambar bisu (tidak bersuara),  maka  penjelasan dari  gambar tersebut disampaikan secara terpisah oleh  penyu­luhnya  atau  dikaitkan  dengan pemberian  narasi  yang  telah disiapkan  pada kaset (pita rekaman), melalui penggunaan  syn­chronizer cassete recorder.

c)      Film  strip,  seperti halnya slide film,  hanya  saja  masing-masing  gambar  tidak dipisahkan dan  diberi  bingkai,  tetapi menjadi  satu rangkaian yang tak terpisahkan dalam satu  paket penyuluhan yang utuh.
Alat peraga ini diproyeksikan ke layar dengan menggunakan film strip  projector  dan untuk  memberikan  penjelasan  (narasi), penyajian  film  strip selalu  dikaitkan  dengan  synchronizer cassete recorder.
Film  strip  juga  digunakan dalam  pertemuan  kelompok  untuk mempengaruhi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan penerima manfaat  pada  tahapan minat, menilai, dan mencoba.



d)      Movie film
Sebagai  karya photografie, alat peraga ini merupakan  perkem­bangan  lebih  lanjut dari film strip. Bedanya  adalah,  obyek  yang diproyeksikan tidak berujud gambar mati (tidak  bergerak) melainkan berupa gambar bergerak. Di samping itu, pada umumnya telah  diisi  dengan suara (dubbing) sehingga benar-benar alami (menyerupai keadaan aslinya).
Penyajian  movie  film dilakukan dengan memproyeksikannya  ke layar menggunakan movie projector.
Alat  peraga  seperti  ini,  kebanyakan  digunakan  di   dalam pertemuan umum, terutama untuk mempengaruhi sikap dan pengeta­huan penerima manfaat pada tahap sadar dan menilai. Akan tetapi,  dapat pula  digunakan untuk pertemuan kelompok bagi  penerima manfaat  sampai dengan tahapan mencoba. Alat  peraga  ini juga merupakan karya  photografi  yang  jika diproyeksikan ke layar dapat menghasilkan gambar bergerak  dan bersuara seperti halnya movie film. Bedanya, film positif yang dihasilkan  tersimpan  dalam  kotak  kaset,  dan  penyajiannya selalu dihubungkan dengan televisi sebagai layarnya.
Tujuan penggunaan alat peraga ini juga sama dengan penggunaan  movie film untuk pertemuan kelompok.

Berdasarkan  uraian  di atas,  kecuali  transparancy  sheet, seolah-olah seluruh alat peraga yang berupa gambar yang diproyek­sikan  ini dapat digunakan sendiri oleh penerima manfaat penyuluhan  tanpa didam-pingi  sendiri oleh penyuluhnya.
/Tetapi,  bagaimanapun kehadiran penyuluh dalam penggunaan, alat peraga ini masih sangat diperlukan  untuk  memberikan penjelasan tentang  pengertian  dan  tujuan  pesan  yang ingin disampaikan. Apalagi,  dalam  penyajian slide,  film,  dan film-stryp biasanya tidak  dilengkapi/disertai dengan narasi.

(4)  Lambang grafika
Untuk  mempermudah pemahaman penerima manfaatnya, di dalam kegiatan penyuluhan dapat digunakan berbagai ”lambang  grafika” (yang berupa  gambar dengan keterangan tertulis seperlunya) untuk alat peraganya.
Sebagai  alat peraga, penyajian lambang grafika  dapat  disajikan secara langsung (ditulis dan atau digambar pada bidang  tertentu, dan diletakkan pada tempat-tempat yang dapat dilihat dengan jelas oleh penerima manfaatnya), atau disajikan secara  tak  langsung  (dengan proyeksikan)  menggunakan  overhead-projector,  slide  projector, atau film strip projector, serta video dan TV.
Beberapa lambang grafika yang dimaksudkan di sini, antara lain adalah:

a)      Grafik,  yaitu  hubungan antar dua  perubah  yang  digambarkan
dalam  bentuk: titik, garis, atau gambar-gambar tertentu  yang mudah  dipahami  oleh penerima manfaatnya.
Pembuatan  grafik,  umumnya didasarkan  pada  data nyata atau data  hipotetis  yang  ingin disampaikan kepada penerima manfaatnya.
Untuk  beberapa kasus, penyajian grafik relatif lebih  singkat dan  lebih  mudah dipahami dibanding  jika  disampaikan  dalam bentuk narasi. Di dalam praktek, dikenal beragam frafik, yaitu:

i  Grafis  garis, baik berupa garis lurus ("line  graph"),  garis lengkung  ("curve graph"), ataupun garis  bergelombang  ("fre­quency polygon").
Jika  dalam  satu gambar ingin disajikan  banyak  grafik  yang menerangkan  banyak  data atau gejala yang  dapaat  dibanding-bandingkan,  sebaiknya  ditampilkan  atau  diberi  warna  yang berbeda dan mudah dibedakan.
i  Grafik batang ("bar graph"), berupa gambar batang atau  bidang segi empat mendatar (horizontal) atau tegak (vertical).
Jika  dalam  satu gambar ingin disajikan  banyak  grafik  yang ingin  dibandingkan, dapat dilakukan dengan  pemberian:  warna yang berbeda, luas batang yang berbeda, atau ciri-ciri terten­tu yang berbeda pula.
i  "Area  graph" atau "solid graph", yaitu grafik yang  disajikan berupa  gambar atau bentuk-bentuk tertentu sesuai dengan  data yang ingin ditampilkan (tanaman, hewan, orang, dll).
Jika  dalam  satu gambar ingin dibanding  data  yang  berbeda, dapat  dilakukan  dengan  memberikan  perbandingan  luas  atau volume dari bentuk-bentuk yang disajikan.
i  "Pie chart" atau "segmented curve", yaitu grafik yang  disaji­kan  dalam bentuk lingkaran yang terbagi-bagi menurut  perban­dingan angka riil atau nilai prosentasenya.
Penyajian  antar  data/gejala yang ingin  dibandingkan,  dapat dilakukan  dengan  pemberian warna  yang  berbeda  (dilengkapi dengan  angka atau nilai prosentasenya). Jika ada  data/gejala yang ingin ditonjolkan, data tersebut digambarkan  seolah-olah keluar dari lingkaran tersebut.
i  "Pictorial statistical graph".
Penyajian  grafik ini hampir serupa dengan "area  graph"  atau "solid graph" yang dalam bentuk gambar benda/gejala yang ingin dijelaskan. Bedanya  adalah,  pada  grafik ini, perbandingan nilai  untuk masing-masing data disajikan dalam jumlah gambar yang berbeda, yang masing-masing memiliki nilai satuan yang sama.

b) Diagram
Berbeda dengan grafik, lambang grafika ini tidak dapat diguna­kan untuk menjelaskan hubungan antar peubah (variabel), tetapi hanya  dapat  digunakan  untuk menjelaskan  suatu  benda  atau per-alatan tertentu.
Diagram merupakan lambang grafika yang berupa gambar penampang dari  suatu benda/alat tertentu yang dingin  dijelaskan,  baik dalam bentuk penampang melintang maupun penampung membujurnya.

c) Bagan, schema, atau "chart".
Lambang  grafika  ini  merupakan gambar  dari  hubungan  antar bagian  atau sub sistem dari suatu sistem tertentu yang  ingin dijelaskan.  Di  dalam  praktek, dikenal  beragam  bagan  atau schema, yaitu:

i  Picturial  chart, yaitu gambar dari suatu sistem  tertentu, yang dilengkapi rincian dari sub sistem yang menyusunnya.
i  Tabula  chart,  merupakan chart  yang  digambarkan  sebagai suatu  Tabel berisikan keterangan tentang  keadaan  masing-masing  bagian  (sub sistem) dari suatu sistem  yang  ingin dijelaskan.
i  Ginealogical  chart, yaitu gambaran tentang hubungan  antar sub sistem dari suatu sistem yang ingin dijelaskan,  berda­sarkan hubungan garis keturunannya.
i  Flow chart, yaitu gambaran tentang hubungan antar subsistem dari  suatu sistem yang ingin dijelaskan, berdasarkan  alur kegiatan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab  masing-masing sub sistem yang bersangkutan.
i  Organizational  chart,  yaitu  gambaran  tentang   struktur organi-sasi  yang  menunjukkan  saling  hubungan  antar  sub-sistem dalam sistem yang ingin dijelaskan.
i  Progress  chart, yaitu gambaran tingkat  perkembangan  yang ditunjukkan  atau  dialami oleh  masing-masing  sub  sistem dalam suatu sistem yang ingin dijelaskan.

Untuk  menyajikan  lambang grafika pada suatu  tempat  (jika ingin  ditampilkan  secara langsung,  tidak  melalui  projector), dapat dilakukan dengan beragam cara, yaitu:

a)      Pin-up chart, yang dilakukan dengan cara memaku atau menempel­kan  lambar  grafika  tersebut pada suatu  tempat  yang  telah disediakan, yang dinilai akan mudah diamati dengan jelas  oleh penerima manfaatnya.
b)      Hinged-card chart, yang dilakukan dengan cara menempelkan atau melekatkan untuk sementara pada suatu tempat yang telah  dise­diakan, seperti halnya jika kita menggunakan flenel graph.
c)      Hidden chart, yang ditempatkan pada suatu tempat tetapi  ditu­tupi  atau  disembunyikan dengan  memberikan  lapisan  penutup tertentu, (seperti pada album photo atau perangko).

C. Pemilihan Alat peraga
Satu  hal  yang  perlu diperhatikan  dalam  penggunaan  alat-peraga di  dalam pelaksanaan penyuluhan adalah,  pemilihan  alat0peraga yang  paling efektif dan efisien untuk  tujuan  perubahan perilaku penerima manfaat, yang diinginkan penyuluhnya. Pengetahuan seperti ini sangat penting, karena:

1)      Tidak semua alat peraga selalu tersedia atau mudah  disediakan oleh penyuluhnya pada sembarang tempat dan waktu.
2)      Alat peraga yang mahal tidak selalu merupakan jaminan  sebagai alat  peraga  yang  efektif untuk  tujuan  perubahan  perilaku tertentu.
3)      Untuk  tujuan  perubahan perilaku  tertentu,  tersedia  banyak alternatif  alat  peraga yang dapat digunakan,  tetapi  dengan tingkat efektivitas dan tingkat kemahalan yang berbeda.

Berkaitan dengan itu, Mardikanto (1985) telah  mencoba memberikan acuan seperti yang tersebut dalam Tabel 9.


Tabel 9. Acuan Jenjang Pemilihan Alat peraga Penyuluhan

RAGAM
Ranah Perilaku Yang Dipengaruhi
ALAT-PERAGA
pengetahuan
sikap
Ketrampilan

Benda

Contoh/Sample
Specimen
Model

Contoh/Sample
Model

Contoh/Sample
Model

Barang Cetakan

Poster, Placard
Selebaran

Brosur, folder,
flipchart, leaf-let, flanel-graph

Brosur, flanel-graph, folder,
leaflet

Gambar tang diproyeksikan

Video, TV, VCD, DVD, movie-film, film-strip, slide

Transparancy,
Slide, film-strip,

Video, TV, VCD, DVD, slide, film-strip

Pendekatan


Tak-langsung

Langsung

Langsung
Sumber: Mardikanto, dan Sri Sutarni, 1985 (dengan perbaikan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar