Perlengkapan Penyuluhan
Sebagai suatu sistem pendidikan non-formal,
yaitu suatu sistem pendidikan terprogram di luar sekollah, kegiatan
penyuluhan mutlak memerlukan perencanaan yang jelas mengenai
program pendidikan yang akan dilaksanakan. Tentang hal ini, dalam
setiap melaksanakan kegiatan penyuluhan, seorang penyuluh tidak
hanya cukup menetapkan topik materi penyuluhan dan
merancang metoda yang akan diterapkan. Tetapi, yang tidak boleh
dilupakaan adalah persiapan tentang perlengkapan penyuluhan.
Di dalam penyuluhan, perlengkapan penyuluhan sangat
penting untuk: membantu kelancaran pelaksanaan penyuluhan maupun untuk
memperjelas materi yang disampaikan agar mudah diingat dipahami
oleh masyarakat penerima manfaatnya.
A. Alat Bantu
Penyuluhan
Alat bantu penyuluhaan adalah alat-alat atau
perlengkapan penyu-luhan yang diperlukan oleh seorang penyuluh guna
memperlancar proses mengajarnya selama kegiatan penyuluhan itu
dilaksanakan. Alat ini diperlukan, untuk
mempermudah penyuluh selama melaksanakan kegiatan
penyuluhan, baik dalam menentukan/memilih materi penyuluhan atau menerangkan
inovasi yang disuluhkan.
Tentang hal ini, Mardikanto (1985)mengemkakan beragam
alat-bantu penyuluhan yang diperlukan setiap penyuluh,
seperti yang tersebut dalam Gambar 39.
(1) Kurikulum
Berbeda dengan pengertian sehari-hari
yang mengartikan ”kuriku-lum sekadar daftar mata
pelajaran yang akan diberikan/dipela-jari,
kurikulum sebenarnya merupakan pernyataan tertulis tentang
perencanaan pendidikan yang memuat (Mardikanto, 1984):
``
|
|
|
a)
Tujuan-tujuan
yang ingin dicapai atau tujuan-tujuan yang
di-kehendaki, baik tujuan umum dari program pendidikan yang
diselenggarakan maupun tujuan khusus yang berupa
perubahan perilaku yang diinginkan dalam diri penerima manfaat didik.
b)
Kegiatan-kegiatan
yang harus dilaksanakan oleh pendidik dan peserta-didik selama
berlangsungnya proses belajar mengajar, serta mencakup: metoda
mengajar yang akan diterapkan, kegiat-an-kegiatan yang akan dilakukan
pendidik, kegiatan yang akan dan harus dilaksanakan oleh setiap penerima
manfaat didiknya.
c)
Daftar mata
pelajaran yang akan disampaikan, termasuk pokok-pokok bahasan yang
disusun menurut urutan tujuan pendidikan, baik menurut isi (content
area) maupun prosesnya (process area)
d)
Rencana
evaluasi yang akan dilaksanakan, baik yang mengenai waktu
pelaksanaan evaluasi (evaluasi awal, evaluasi antara, dan
evaluasi akhir) aspek perilaku yang akan
dievaluasi (perubahan: sikap, pengetahuan, ketrampilan)
teknik-teknik maupun evaluasi yang akan diterapkan.
Karena itu, kurikulum merupakan suatu "paket"
yang berisi rencana mengajar secara lengkap (Soediyanto, 1978).
Di dalam kegiatan penyuluhan, adanya kurikulum akan
sangat membantu penyuluh dalam merancang kegiatan penyuluhan yang
akan dilaksanakannya, terutama jika ia akan menerapkan ketoda
kursus. Tetapi, hal ini tidak berarti bahwa untuk
penyuluhan dengan menerapkan metoda yang lain tidak
memerlukan kuri-kulum yang jelas.
Bagaimanapun, adanya kurikulum akan
sangaat membantu penyu- luh dalam dalam merancang/merencanakan dan melaksanakan
kegi-atan penyuluhannya.
(2) Lembar-lembar
persiapan penyuluhan
Adanya kurikulum yang telah dipersiapkan,
sebenarnya belum cukup membantu kelancaran kegiatan
penyuluhan di lapangan. Di dalam praktek, setiap
penyuluh sebenarnya masih memerlukan "lembar
persiapan penyuluhan" yang berisikan pokok-pokok kegiatan yang harus
dikerjakan selama kegiatan penyuluhannya berlangsung.
Mengingat kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan oleh
seorang penyuluh sangatlah beragam, maka setiap
penyuluh juga harus mempersiapkan beragam lembar persiapan
penyuluhan yang berupa:
a)
1) Lembar persiapan
menyuluh (LPM), yang berisikan urutan konologis tentang pokok-pokok
bahasan yang akan disampai-kan selama penyuluhan dilaksanakan.
Di dalam LPM, di samping berisikan pokok-pokok
bahasan. juga dicantumkan pula tentang
metoda penyuluhan yang akan diterapkan serta alokasi waktu yang
akan diperlukan. LPM ini, biasanya hanya disiapkan untuk
kegiatan penyuluhan mengenai aspek sikap dan pengetahuan.
b)
Lembar
persiapan latihan (LPL), yaitu serupa LPM yang dikhususkan untuk
kegiatan penyuluhan yang menyangkut aspek pengetahuan dan ketrampilan.
c)
Lembar persiapan
kerja (LPK), yaitu serupa LPM yang dipersiapkan manakala di
dalam penyuluhan nanti akan dilaksanakan latihan
menggunakan peralatan atau latihan
ketrampilan.
(3) Papan tulis dan
atau papan penempel
Pada setiap kegiatan penyuluhan, apalagi jika
dilakukan di dalam ruangaaan, seringkali penyuluh memerlukan papan tulis
atau papan penempel untuk mejelaskan materi yang disuluhkan.
Sedang jika penyuluhan dilakukan di lapangan, diperlukan papan penempel dengan ukuran yang relatif
kecil dan mudah dilipat.
Untuk papan tulis, biasanya digunakan papan tulis
berwarna hitan atau hijau (jika menulis dengan kapur), atau yang berwarna
putih "white board" jika menulisnya dengan tinta.
Papan penempel yang sering digunakan di
lapangan adalah papan yang dilapisi dengan kain panel, atau
hanya berupa kain panel saja yang mudah dilipat. Sedang untuk
keperluan penyuluhan di dalam ruangan, seringkali digunakan
papan panel atau papan bermagnit "magnetic board".
Papan penempel ini, biasanya digunakan untuk tempat menempelkan
gambar-gambar atau tulisan-tulisan
yang telah dipersiapkan sebelumnya.
(4) Alat tulis
Seperti halnya dengan papan tulis, setiap
penyuluh sangat memer-lukan alat tulis, baik untuk
menulis maupun menggambar, untuk mempermudah di dalam
menerangkan materi penyuluhan kepada penerima manfaatnya.
Dalam hal penggunaan alat tulis ini, disarankan agar
penyuluh mempersiapkan alat tulis dengan beragam warna (kapur
berwarna, pensil berwarna, ballpen berwarna, spidol, dll).
(5) Perlengkapan
ruangan
Untuk pelaksanaan penyuluhan di dalam ruangan, setiap
penyuluh akan memerlukan beragam alat bantu menyuluh,
baik untuk membantu memperjelas kegiatan penyuluhannya, maupun
untuk memberikan suasana nyaman bagi penerima manfaatnya. Beragam
alat bantu dalam ruangan itu adalah:
a)
Pengeras suara
(berikut microphone dan amplifiernya), terutama jika penerima manfaat cukup
banyak. Jumlah microphone hendaknya disiapkan lebih dari satu, agar pada saat penerima
manfaat memberikan tanggapannya, dapat pula menggunakan pengeras suara
tersebut.
b)
Penata
cahaya, termasuk lampu (untuk menerangi ruangan) dan kain
gordijn berwarna hitam (untuk menggelapkan ruangan, jika digunakan
proyektor).
c)
Penata udara,
berupa kipas angin atau air conditioner (AC), terutama jika
ruangan yang digunakan relatif sempit dengan ventilasi
yang terbatas, dan penyuluhan dilaksanakan disiang hari yang panas.
Berbeda dengan pelaksanaan penyuluhan
di dalam ruangan, pelak-sanaan penyuluhan di lapang
seringkali memerlukan pengeras- suara yang dapat diteneteng
dengan mudah, yang biasa disebut dengan
"megaphone".
(6) Proyektor
Di samping perlengkapan-perlengkapan tersebut, untuk
kegiatan penyuluhan di dalam ruangan seringkali masih memerlukan
alat bantu penyuluhan yang berupa beragam projector, yaitu:
a)
Overhead
projector, untuk memproyeksikan tulisan dan atau
gambar yang ditulis pada bahan tembus cahaya (plastik/transparacy sheet).
b)
Direct projector, semacam
overhead proyector tetapi untuk memproyeksikan tulisan
dan atau gambar yang tercetak pada kertas biasa.
c)
Solid projector,
semacam overhead proyector tetapi untuk
memproyeksikan benda-benda tembus cahaya.
d)
Movie projector,
untuk memproyeksikan film dan film strip.
e)
Slide
projector, untuk memproyeksikan gambar/tulisan
yang direkam dan slide film.
f)
LCD Projector, yang
dihubungkan dengan PC-computer atau notebook/laptop, untuk memproyeksikan
tulisan dan atau gambar.
Sehubungan dengan penggunaan beragam
projector tersebut perlu juga dipersiapkan layarnya.
Sedang untuk pemakaian sled projector yang dihubungkan ke pengeras
suara seringkali diperlukan "synchronizer cassete recorder".
Di dalam praktek penyuluhan, ternyata tidak selalu
alat-bantu yang disebutkan tadi tersedia semanya, tamanya jika penyuluhan dilak-sanakaan
di luar ruangan atau di lapangan. Oleh sebab itu, setiap penyuluh perlu
mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar dia selalu siap
menyuluh dengan baik meskipun tanpa bantuan beragam alat-alat bantu
menyuluh (alat tulis, papan tulis dan menempel, serta proyektor)
seperti yang telah disebutkan tadi. Di pihak lain,
ketergantungan kepada alat-alat elektronik bisa berakibat fatal, jika ternyata
mengalami ganggan teknis di lapangan.
B Alat peraga
Penyuluh
Jahod Sumabrata (Attila Garnadi, 1971)
mengemukakan bahwa alat-alat peraga adalah sesuatu (alat, benda)
yang dapat dilihat untuk menjelaskan apa yang dimaksudkan.
Tetapi di dalam praktek, alat peraga
tidak selalu hanya merupakan sesuatu (benda, alat) yang dapat
"dilihat" atau diamati dengan mata, melainkan seringkali juga alat
atau benda yang dapat dilihat dan didengar.
Sehubungan dengan itu, Attila Garnadi (1971)
mengartikan "alat peraga" bukan sekadar
"visual aid" tetapi "audio visual
aid" yaitu segala
sesuatu yang dapat dilihat dan atau didengar dan berfung-si
untuk meragakan dan atau menjelaskan segala sesuatu
pengertian yang disampaikan secara lisan. Sedang Patterson mengartikan
alat peraga sebagai alat yang dapat digunakan untuk memper-lancar
proses komunikasi.
Agak berbeda dengan pengertian-pengertian
tersebut, dari penga-lamannya sebagai penyuluh, Mardikanto (1985)
mengartikan alat peraga sebagai:
Alat atau benda yang dapat diamati, didengar,
diraba, atau dirasakan oleh indera manusia, yang berfungsi sebagai
alat untuk meragakan dan atau menjelaskan uraian yang disampaikan secara
lisan (oleh penyuluh) guna membantu proses belajar penerima
manfaat penyuluhan agar materi penyuluhan lebih mudah diterima dan dipahami
oleh penerima manfaat penyuluh-an yang bersangkutan.
Lebih lanjut, Ooy Sunarya (1978) mengemukakan
bahwa alat peraga penyuluhan sebenarnya tidak sekadar berfungsi
sebagai alat peraga atau penjelas, melainkan memiliki fungsi
yang beragam yaitu:
a)
Menarik perhatian
atau memusatkan perhatian penerima man-faat, sehingga lebih
mengkonsentrasikan diri untuk mengikuti jalannya penyuluhan yang
sedang dilaksanakan oleh penyuluh yang bersangkutan.
b)
Memperjelas
pengertian tentang segala sesuatu yang diuraikan atau
disampaikan penyuluh secara lisan, sehingga dapat menghindarkan
terjadinya salah pengertian yang tidak sesuai dengan yang dimaksudkan oleh
penyuluhnya. Ingin dijelaskan.
c)
Membuat
penyuluhan lebih efektif, karena penerima manfaat lebih cepat
menerima dan memahami segala sesuatu yang dimaksudkan penyuluhnya.
d)
Dengan
peragaan akan dapat menghemat waktu yang diperlu-kan penyuluh untuk menjelaskan
materi yang ingin disampaikan/ dijelaskan.
e)
Memberikan
kesan yang lebih mendalam, sehingga penerima manfaat tidak mudah
melupakan kegiatan penyuluhan yang pernah diikutinya.
Seperti halnya dengan alat bantu
penyuluhan, di dalam penyuluh-an dikenal beragam
alat peraga seperti tersebut dalam Gambar 40.
(1) Benda
Salah satu alat peraga penyuluhan yang paling mudah
diperoleh atau dibuat adalah yang berupa "benda". Alat peraga
semacam ini terutama dimaksudkan untuk mempengaruhi pengetahuan
dan ketrampilan penerima manfaat dalam tahapan minat, menilai, dan
mencoba.
Tentang benda yang dapat digunakan sebagai alat peraga
ini, ada beberapa macam, yaitu:
a)
Sample atau contoh, yaitu benda atau barang asli
yang dapat dibawa penyuluh untuk dijelaskan kepada penerima man-faat
penyuluhannya (misal: contoh benih, contoh pupuk, dll).
b)
Model atau tiruan, ini biasa digunakan sebagai
alat peraga, jika benda asli sulit didapat, volumenya terlalu
besar untuk dibawa ke lokasi tempat pelaksanaan penyuluhan, atau
terlalu kecil untuk mudah diamati oleh penerima
manfaatnya tanpa peralatan khusus (misa:
contoh traktor, contoh wereng, dll).
c)
Specimen atau benda asli yang telah diawetkan, karena
benda asli sulit didapat.
Dari ketiga macam benda tersebut, benda
asli merupakan alat peraga yang paling baik. Hal ini
disebabkan karena, baik model maupun specimen seringkali
(terutama warnanya tidak setepat aslinya).
Gambar 40. Alat
Peraga Penyuluhan
(2) Barang cetakan
Di dalam praktek, setiap penyuluh dapat menggunakan
beragam barang cetakan sebagai alat peraga
penyuluhannya, baik yang berupa gambar, tulisan, atau
campuran dari keduanya dengan komposisi yang sama atau salah satu lebih
dominan.
a)
Pamflet atau selebaran, yaitu barang
cetakan yang berupa selebar kertas bergambar dan atau
bertulisan, yaitu dibagi-bagi-kan oleh penyuluh
secara langsung kepada penerima manfaat-nya, disebarkan
ke jalan raya (sambil mengendarai mobil, sepeda motor, atau kendaraan
lainnya), atau disebarkan dari udara melalui pesawat terbang atau helikopter.
Alat peraga seperti ini, biasanya dimaksudkan untuk
menumbuhkan kesadaran dan minat penerima manfaatnya. Meskipun
demikian (jika berisi informasi yang lebih lengkap) dapat dimanfaatkan
oleh penerima manfaat pada tahapan menilai dan mencoba.
b)
Leaflet dan folder. Seperti halnya
pamflet, keduanya merupakan barang-barang cetakan yang juga
dibagi-bagikan kepada peneri-ma manfaat penyuluhan. Bedanya adalah: umumnya
dibagikan secara langsung oleh penyuluhnya.
Leaflet merupakan
selembar kertas yang dilipat menjadi dua (4 halaman), sedang folder
dilipat menjadi tiga (6 halaman) atau lebih. Di samping itu, leaflet dan folder
lebih banyak berisikan tulisan dari pada gambarnya.
Leaflet dan folder, terutama ditujukan kepada penerima
manfaat untuk mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilannya pada tahapan
minat, menilai, dan mencoba.
c)
Brosur atau
booklet, merupakan barang cetakan yang berisikan gambar
dan tulisan (lebih dominan) yang berbentuk buku kecil setebal 10 -
25 halaman, dan paling banyak 50 halaman.
Seperti halnya leaflet dan folder, booklet
juga dimaksudkan untuk mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilan penerima
manfaat tetapi pada tahapan menilai, mencoba, dan menerapkan.
d)
Placard dan poster, keduanya merupakan barang cetakan
dengan ukuran yang relatif besaar untuk
ditempel di tembok, di pohon, atau direntangkan dipinggir/ditengah jalan.
Berbeda dengan placard yang lebih banyak
berisikan tulisan, poster lebih banyak berisi gambar. Keduanya
dimaksudkan untuk mempengaruhi perasaan/sikap dan pengalaman penerima
manfaat pada tahapan sadar dan minat.
e)
Flipchart atau peta singkap, adalah sekumpulan poster
selebar kertas koran, yang digabungkan menjadi satu.
Masing-masing berisi pesan terpisah, yang jika digabungkan
akan merupakan saatu kesatuan yang tak terpisahkan yang
ingin disampaikan secara utuh.
Tergantung
isi pesan yang ingin disampaikan, flipchart ada yang
dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap, pengetahuan dan atau ketrampilan. Tetapi, karena biasaa digunakan dalam perte-muan-kelompok,
alat peraga ini lebih efektif dan efisien untuk disediakan bagi penerima
manfaat pada tahapan minat, menilai, dan mencoba.
f)
Photo, merupakan salah satu alaat peraga
yang dimaksudkan untuk mengenalkan inovasi, atau menunjukkan
bukti-bukti keberhasilan/keunggulan satu inovasi yang ditawarkan.
Photo ini, biasanya dimaksudkan untuk mempengaruhi
sikap dan pengetahuaan penerima manfaat pada tahapan sadar, minat, dan
menilai.
g)
Flanelgraph, merupakan alat peraga berbentuk potongan gambar atau tulisan yang ditempelkan pada
papan magnit atau kain flanel.
Berbeda dengan photo, flanelfraph
terutama digunakan pada pertemuan kelompok untuk mempengaruhi
pengetahuan dan ketrampilan penerima manfaat pada tahapan: minat,
menilai, mencoba, dan bahkan dapat
pula pada tahapan menerapkan.
Meskipun disajikan dalam bentuk dan cara yang berbeda,
semua alat peraga yang berupa barang cetakan ini harus memuat pesan
yang lengkap yang mudah dipahami oleh penerima manfaat-nya.
Karena itu, baik gambar dan atau tulisan yang disampaikan
harus komunikatif dan dengan
tata warna yang menarik per-hatian pula (meskipun kadang-kadang
nampak jelek, tetapi harus menarik perhatian masyarakat umum).
Kecuali flipchart dan flanelgraph, semua barang cetakan
yang lain, merupakan alat peraga yang disampaikan dengan pendekatan
tak langsung. Sedaang flipchart dan flanelgraph harus disampaikan dengan
pendekatan langsung pada pertemuan kelompok atau kunjungan (anjangsana, anjang
karya).
(3) Gambar yang
diproyeksikan
Meskipun alat peraga ini dinamakan gambar
terproyeksi, kadang-kadang juga banyak berisikan tulisan,
seperti halnya dalam penggunaan transparancy sheet, slide-slide, dan film
strip.
Tentang penggunaan alat peraga kelompok ini,
kecuali movie/ film yang dapat digunakan dalam
pendekatan masal, selebihnya hanya efektif digunakan dengan
pendekatan kelompok.
a)
Transparancy
sheet, adalah lembaran mika (plastik) bergambar dan atau
bertulisan yang diproyeksikan ke layar dengan menggunakan overhead projector.
Alat peraga seperti ini, biasa digunakan di
dalam pertemuan kelompok di dalam ruangan, terutaama untuk
mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilan penerima manfaat.
b)
Slide film, adalah suatu hasil karya photografi yang
berupa film positif yang diberi bingkai untuk diproyeksikan ke
layar dengan menggunakan slide projektor. Di dalam pelaksanaan
penyuluhan, biasanya disediakan beberapa buah slide film yang
telah disusun berurutan sebagai satu kesatuan paket
penyuluhan yang utuh.
Alat peraga ini, terutama digunakan untuk mengenalkan,
mendemonstrasikan hasil-hasil yang dicapai
atau keunggulan-keung- yang dimiliki oleh sesuau
inovasi, serta menjelaskaan cara kerja suatu peralatan yang
ditawarkan. Sehingga, sangat efektif untuk mempengaruhi sikap, pengetahuan,
dan ketrampilan penerima manfaatnya pada tahap minat, menilai, dan
mencoba.
Karena berupa gambar bisu (tidak bersuara),
maka penjelasan dari gambar tersebut disampaikan secara
terpisah oleh penyuluhnya atau dikaitkan dengan pemberian
narasi yang telah disiapkan pada kaset (pita rekaman),
melalui penggunaan synchronizer cassete recorder.
c)
Film strip, seperti halnya slide film, hanya saja
masing-masing gambar tidak dipisahkan dan diberi
bingkai, tetapi menjadi satu rangkaian yang tak terpisahkan
dalam satu paket penyuluhan yang utuh.
Alat peraga ini diproyeksikan ke layar dengan menggunakan
film strip projector dan untuk memberikan penjelasan
(narasi), penyajian film strip selalu dikaitkan
dengan synchronizer cassete recorder.
Film strip juga digunakan dalam
pertemuan kelompok untuk mempengaruhi sikap, pengetahuan, dan
ketrampilan penerima manfaat pada
tahapan minat, menilai, dan mencoba.
d)
Movie film
Sebagai karya photografie, alat peraga ini
merupakan perkembangan lebih lanjut dari film strip. Bedanya
adalah, obyek yang
diproyeksikan tidak berujud gambar mati (tidak bergerak) melainkan berupa
gambar bergerak. Di samping itu, pada umumnya telah diisi dengan
suara (dubbing) sehingga benar-benar alami (menyerupai keadaan aslinya).
Penyajian movie film dilakukan dengan
memproyeksikannya ke layar menggunakan
movie projector.
Alat peraga seperti ini,
kebanyakan digunakan di dalam pertemuan umum,
terutama untuk mempengaruhi sikap dan pengetahuan penerima manfaat pada tahap
sadar dan menilai. Akan tetapi, dapat pula digunakan untuk
pertemuan kelompok bagi penerima manfaat sampai dengan tahapan
mencoba. Alat peraga ini juga merupakan karya photografi
yang jika diproyeksikan ke layar dapat menghasilkan gambar bergerak
dan bersuara seperti halnya movie film. Bedanya, film positif yang
dihasilkan tersimpan dalam kotak kaset, dan
penyajiannya selalu dihubungkan dengan televisi sebagai layarnya.
Tujuan penggunaan alat peraga ini juga sama dengan
penggunaan movie film untuk pertemuan
kelompok.
Berdasarkan uraian di atas, kecuali
transparancy sheet, seolah-olah seluruh alat peraga yang berupa
gambar yang diproyeksikan ini dapat digunakan sendiri oleh penerima
manfaat penyuluhan tanpa didam-pingi sendiri oleh penyuluhnya.
/Tetapi, bagaimanapun kehadiran penyuluh dalam
penggunaan, alat peraga ini masih sangat diperlukan untuk
memberikan penjelasan tentang pengertian dan tujuan pesan yang ingin
disampaikan. Apalagi, dalam penyajian slide, film, dan
film-stryp biasanya tidak dilengkapi/disertai dengan narasi.
(4) Lambang grafika
Untuk mempermudah pemahaman penerima manfaatnya, di
dalam kegiatan penyuluhan dapat digunakan berbagai ”lambang grafika” (yang berupa gambar dengan keterangan
tertulis seperlunya) untuk alat peraganya.
Sebagai alat peraga, penyajian lambang grafika
dapat disajikan secara langsung (ditulis dan atau digambar pada
bidang tertentu, dan diletakkan pada tempat-tempat yang dapat dilihat
dengan jelas oleh penerima manfaatnya), atau disajikan secara tak
langsung (dengan proyeksikan) menggunakan
overhead-projector, slide projector, atau film strip
projector, serta video dan TV.
Beberapa lambang grafika yang dimaksudkan di sini, antara
lain adalah:
a)
Grafik, yaitu hubungan antar dua perubah
yang digambarkan
dalam bentuk: titik, garis, atau gambar-gambar
tertentu yang mudah dipahami oleh penerima manfaatnya.
Pembuatan grafik, umumnya didasarkan
pada data nyata atau data hipotetis yang ingin
disampaikan kepada penerima manfaatnya.
Untuk beberapa kasus, penyajian grafik relatif
lebih singkat dan lebih mudah dipahami dibanding jika
disampaikan dalam bentuk narasi. Di dalam praktek, dikenal beragam
frafik, yaitu:
i Grafis garis, baik berupa garis lurus ("line
graph"), garis lengkung ("curve graph"),
ataupun garis bergelombang ("frequency polygon").
Jika dalam satu gambar ingin disajikan
banyak grafik yang menerangkan banyak data atau
gejala yang dapaat dibanding-bandingkan, sebaiknya
ditampilkan atau diberi warna yang berbeda dan
mudah dibedakan.
i Grafik batang ("bar graph"), berupa
gambar batang atau bidang segi empat mendatar (horizontal) atau
tegak (vertical).
Jika dalam satu gambar ingin disajikan
banyak grafik yang ingin dibandingkan, dapat dilakukan
dengan pemberian: warna yang berbeda, luas batang yang berbeda,
atau ciri-ciri tertentu yang berbeda pula.
i "Area graph" atau "solid
graph", yaitu grafik yang disajikan berupa gambar atau
bentuk-bentuk tertentu sesuai dengan data yang ingin ditampilkan
(tanaman, hewan, orang, dll).
Jika dalam satu gambar ingin dibanding
data yang berbeda, dapat dilakukan dengan
memberikan perbandingan luas atau volume dari
bentuk-bentuk yang disajikan.
i "Pie chart" atau "segmented
curve", yaitu grafik yang disajikan dalam bentuk
lingkaran yang terbagi-bagi menurut perbandingan angka riil atau nilai
prosentasenya.
Penyajian antar data/gejala yang ingin
dibandingkan, dapat dilakukan dengan pemberian warna
yang berbeda (dilengkapi dengan angka atau nilai
prosentasenya). Jika ada data/gejala yang ingin ditonjolkan, data
tersebut digambarkan seolah-olah keluar dari lingkaran tersebut.
i "Pictorial statistical graph".
Penyajian grafik ini hampir serupa dengan
"area graph" atau "solid graph" yang dalam
bentuk gambar benda/gejala yang ingin dijelaskan. Bedanya adalah,
pada grafik ini, perbandingan nilai untuk masing-masing data disajikan dalam
jumlah gambar yang berbeda, yang masing-masing memiliki nilai satuan yang sama.
b) Diagram
Berbeda dengan grafik, lambang grafika ini tidak dapat
digunakan untuk menjelaskan hubungan antar peubah (variabel), tetapi hanya
dapat digunakan untuk menjelaskan suatu benda
atau per-alatan tertentu.
Diagram merupakan lambang grafika yang berupa gambar
penampang dari suatu benda/alat tertentu yang dingin dijelaskan,
baik dalam bentuk penampang melintang maupun penampung membujurnya.
c) Bagan, schema, atau "chart".
Lambang grafika ini merupakan gambar
dari hubungan antar bagian atau sub sistem dari suatu
sistem tertentu yang ingin dijelaskan. Di dalam praktek, dikenal beragam bagan atau
schema, yaitu:
i Picturial chart, yaitu gambar dari suatu sistem tertentu, yang dilengkapi rincian
dari sub sistem yang menyusunnya.
i Tabula chart, merupakan chart yang digambarkan sebagai suatu
Tabel berisikan keterangan tentang keadaan masing-masing
bagian (sub sistem) dari suatu sistem yang ingin
dijelaskan.
i Ginealogical chart, yaitu gambaran tentang hubungan antar sub sistem dari suatu sistem
yang ingin dijelaskan, berdasarkan hubungan garis keturunannya.
i Flow chart, yaitu gambaran
tentang hubungan antar subsistem dari suatu sistem yang ingin dijelaskan,
berdasarkan alur kegiatan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab
masing-masing sub sistem yang bersangkutan.
i Organizational chart, yaitu gambaran tentang struktur organi-sasi
yang menunjukkan saling hubungan antar sub-sistem
dalam sistem yang ingin dijelaskan.
i Progress chart, yaitu gambaran tingkat perkembangan yang ditunjukkan
atau dialami oleh masing-masing sub sistem dalam
suatu sistem yang ingin dijelaskan.
Untuk menyajikan lambang grafika pada suatu
tempat (jika ingin ditampilkan secara langsung,
tidak melalui projector), dapat dilakukan dengan beragam
cara, yaitu:
a)
Pin-up chart, yang dilakukan dengan cara memaku atau menempelkan
lambar grafika tersebut pada suatu tempat yang
telah disediakan, yang dinilai akan mudah diamati dengan jelas oleh
penerima manfaatnya.
b)
Hinged-card chart, yang dilakukan dengan cara menempelkan atau melekatkan
untuk sementara pada suatu tempat yang telah disediakan, seperti halnya
jika kita menggunakan flenel graph.
c)
Hidden chart, yang ditempatkan pada suatu tempat tetapi ditutupi
atau disembunyikan dengan memberikan lapisan
penutup tertentu, (seperti pada album photo atau perangko).
C. Pemilihan Alat
peraga
Satu hal yang perlu diperhatikan
dalam penggunaan alat-peraga di dalam pelaksanaan
penyuluhan adalah, pemilihan alat0peraga yang paling efektif
dan efisien untuk tujuan perubahan perilaku penerima manfaat, yang
diinginkan penyuluhnya. Pengetahuan seperti ini sangat penting, karena:
1)
Tidak semua alat
peraga selalu tersedia atau mudah disediakan oleh penyuluhnya pada
sembarang tempat dan waktu.
2)
Alat peraga yang mahal
tidak selalu merupakan jaminan sebagai alat peraga yang
efektif untuk tujuan perubahan perilaku tertentu.
3)
Untuk tujuan
perubahan perilaku tertentu, tersedia banyak alternatif
alat peraga yang dapat digunakan, tetapi dengan tingkat
efektivitas dan tingkat kemahalan yang berbeda.
Berkaitan dengan itu, Mardikanto (1985) telah
mencoba memberikan acuan seperti yang tersebut dalam Tabel 9.
Tabel 9. Acuan Jenjang Pemilihan Alat peraga Penyuluhan
|
RAGAM
|
Ranah Perilaku Yang Dipengaruhi
|
||
|
ALAT-PERAGA
|
pengetahuan
|
sikap
|
Ketrampilan
|
|
Benda
|
Contoh/Sample
Specimen
Model
|
Contoh/Sample
Model
|
Contoh/Sample
Model
|
|
Barang Cetakan
|
Poster, Placard
Selebaran
|
Brosur, folder,
flipchart, leaf-let, flanel-graph
|
Brosur, flanel-graph, folder,
leaflet
|
|
Gambar tang diproyeksikan
|
Video,
TV, VCD, DVD, movie-film, film-strip, slide
|
Transparancy,
Slide,
film-strip,
|
Video, TV, VCD, DVD, slide, film-strip
|
|
Pendekatan
|
Tak-langsung
|
Langsung
|
Langsung
|
Sumber: Mardikanto, dan Sri Sutarni, 1985 (dengan
perbaikan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar