Rabu, 06 November 2013

TUMBUH KEMBANG ANAK




A.                DEFENISI PERKEMBANGAN
Perkembangan (Development) merupakan suatu proses yang pasti di alami oleh setiap individu, perkembangan ini adalah proses yang bersifat kualitatif dan berhubungan dengan kematangan seorang individu yang ditinjau dari perubahan yang bersifat progresif serta sistematis di dalam diri manusia. Akhmad Sudrajat : 2008, memberikan definisi bahwa “Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.” Seseorang individu mengalami perkembangan sejak masa konsepsi, serta akan berlangsung selama hidupnya.
“Perkembangan adalah proses yang berlangsung sejak konsepsi, lahir dan sesudahnya, dimana badan, otak, kemampuan dan tingkah laku pada masa usia dini, anak-anak, dan dewasa menjadi lebih kompleks dan berlanjut dengan kematangan sepanjang hidup. hal ini didefinisikan oleh”( Dr Siti Aminah Soepalarto, SpS (K). : 2008 ). Maka dengan kata lain dapat kita artikan bahwa sepanjang hidup kita merupakan suatu rangkaian proses yang terus berlanjut, proses tersebut meliputi perkembangan (development), pertumbuhan (growth) serta kematangan (maturation) baik fisik maupun psikis. Tidak ada periode usia yang mendominasi perkembangan hidup. Perkembangan meliputi keuntungan dan kerugian, yang berinteraksi dalam cara yang dinamis sepanjang siklus kehidupan. Sehingga selama proses bertambahnya usia, maka selama itulah proses perkembangan akan terus berjalan. Proses ini terjadi dalam diri manusia secara bertahap dan memiliki fase – fase tertentu yang menjadi acuan proses perkembangan tersebut, seperti yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, fase perkembangan dibagi menjadi 6 fase yaitu ; Fase Oral atau mulut yang merupakan sentral pokok keaktifan yang dinamis, Fase Anal, Fase Falis atu alat kelamin, Fase Latent, Fase Pubertas dan Fase Genital atau proses menginjak kedewasaan.


Soetjiningsih (1995) mengemukakan bahwa perkembangan atau development adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.
Definisi Perkembangan




B.                 CIRI – CIRI PERKEMBANGAN SECARA UMUM 
  • Terjadinya perubahan dalam aspek fisik (perubahan berat badan dan organ – organ tubuh)
    dan aspek psikis (matangnya kemampuan berpikir, mengingat, dan berkreasi)
  • Terjadinya perubahan dalam proporsi; aspek fisik (proporsi tubuh anak beubah sesuai
    dengan fase perkembangannya) dan aspek psikis (perubahan imajinasi dari fantasi ke
    realitas)
  • Lenyapnya tanda – tanda yang lama; tanda - tanda fisik (lenyapnya kelenjar thymus
    (kelenjar anak – anak) seiring bertambahnya usia) aspek psikis (lenyapnya gerak – gerik
    kanak – kanak dan perilaku impulsif).
  • Diperolehnya tanda – tanda yang baru; tanda – tanda fisik (pergantian gigi dan karakter
    seks pada usia remaja) tanda – tanda psikis (berkembangnya rasa ingin tahu tentang
    pengetahuan, moral, interaksi dengan lawan jenis)
Ciri Khusus:
1.      Perkembangan melibatkan perubahan
Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan sistem reproduksi misalnya, disertai dengan perubahan pada organ kelamin. Perubahan-perubahan ini meliputi perubahan ukuran tubuh secara umum, perubahan proporsi tubuh, berubahnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri baru sebagai tanda kematangan suatu organ tubuh tertentu.

2.      Perkembangan awal menentukan pertumbuhan selanjutnya
Seseorang tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Misalnya, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya.

3.      Perkembangan mempuyai pola yang tetap
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu:
a.       Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kaudal. Pola ini disebut pola sefalokaudal.
b.      Perkembangan terjadi terlebih dahulu di daerah proksimal (gerakan kasar) lalu berkembang di daerah distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan dalam gerakan halus. Pola ini disebut proksimodistal.

4.      Perkembangan memiliki tahap yang berurutan
Tahap ini dilalui seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan, tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, berdiri sebelum berjalan, dan lain-lain.



5.      Perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
Perkembangan berlangsung dalam kecepatan yang berbeda-beda. Kaki dan tangna berkembang pesata pada awal masa remaja, sedangkan bagian tubuh yang lain mungkin berkembang pesat pada masa lainnya.

6.      Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, ingatan, daya nalar, asosiasi, dan lain-lain.


C.        FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
1.    Menurut Teori Empirisme 
        Teori empirisme disebut juga teori tabularasa dan environmentalism. Teori ini dipelopori oleh JOHN LOCKE (1632-1704). Menurut teori empirisme, perkembangan individu ditentukan oleh lingkungannya. Teori ini beranggapan bahwa pembawaan itu tidak ada. John Locke menyatakan bahwa pada saat dilahirkan, jiwa individu dalam keadaan kosong (ibarat tabularasa yang belum tertulis), dan lingkunganlah yang akan mengisi kekosongan tersebut.
2.    Menurut Teori Nativisme 
   Teori nativisme dengan tokohnya ARTHUR SCHOPENHASUER (1788-1880), beranggapan bahwa perkembangan individu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (pembawaan). Bila individu dilahirkan dengan pembawaan yang baik dengan sendirinya perkembangannya anak baik, dan sebaliknya.
3.    Menurut Teori Konvergensi 
    Teori konvergensi disebut juga teori interaksionisme. Teori ini dikemukakan oleh WILLIAM STERN (1871-1939). Menurut Stern, perkembangan individu merupakan hasil perpaduan atau interaksi antara faktor pembawaan dengan faktor lingkungan. Pembawaan sudah ada pada masing-masing individu sejak kelahirannya. Dan pembawaan ini tidak dapat berkembangan menjadi kecakapan nyata bila tidak mendapat pengaruh dari lingkungan.


D.        PRINSIP PERKEMBANGAN 
Ciri perkembangan menunjukkan gejala yang secara relatif teratur, sehingga terjadinya pola perkembangan sistematik. Atas dasar hal tersebut, para ahli merumuskan dalam bentuk prinsip – prinsip perkembangan. Beberapa prinsip perkembangan antara lain :
Ø  Perkembangan merupakan fungsi jasmaniah dan kejiwaan yang berlangsung dalam proses  satu kesatuan yang menyeluruh;
Ø  Setiap individu mempunyai kecepatan perkembangan yang berbeda-beda;
Ø  Perkembangan seseorang, baik secara keseluruhan maupun setiap aspek tidak konstan melainkan berirama;
Ø  Proses perkembangan dengan mengikuti pola tertentu;
Ø  Proses perkembangan berlangsung secara berkesinambungan;
Ø  Antara aspek perkembangan yang satu dengan aspek yang lain saling berkaitan atau berkolerasi secara signifikan;
Ø  Perkembangan berlangsung dari pola yang bersifat umum ke khusus;
Ø  Perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan;
Ø  Memiliki fungsi kepribadian yang bersifat jasmaniah.


PERKEMBANGAN ANAK BALITA
            Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional, dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian juga dibentuk pada masa ini. Bahkan ada sarjana yang mengatakan bahwa “the child is the father of the man”. Sehingga setiap kelainan/penyimpangan sekecil apapun apabila tidak terdeteksi apalagi tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak kemudian hari.
Dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana diperlukan rangsangan/stimulasi yang berguna agar potensi berkembang, sehingga perlu mendapat perhatian. Perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tuanya/orang dewasa  lainnya. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial disusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangannya, bahkan sejak bayi masih di dalam kandungan. Sedangkan lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembagan anak.
Frankenburg dkk. (1981) melalui DDST (Denver Developmental Screeening Test) mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu:
1.                  Personal social (kepribadian/tingkah laku sosial)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
2.                  Fine motor adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya kemampuan untuk menggambar, memegang sesuatu benda, dll.
3.                  Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan.
4.                  Gross motor (perkembangan motorik kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

Ada juga yang membagi perkembangan Balita ini menjadi 7 aspek perkembangan, saperti pada buku petunjuk program BKB (Bina Keluarga dan Balita) yaitu perkembangan:
1.      Tingkah laku sosial
2.      Menolong diri sendii
3.      Intelektual
4.      Gerakan motorik halus
5.      Komunikasi pasif
6.      Komunikasi aktif
7.      Gerakan motorik kasar



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
·         Perkembangan atau development adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.
·         Perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ individu.
·         Setiap individu mempunyai kecepatan perkembangan yang berbeda-beda;
·         Perkembangan seseorang, baik secara keseluruhan maupun setiap aspek tidak konstan melainkan berirama;
·         Proses perkembangan dengan mengikuti pola tertentu;
·         Proses perkembangan berlangsung secara berkesinambungan;
·         Antara aspek perkembangan yang satu dengan aspek yang lain saling berkaitan atau berkolerasi secara signifikan;
·         Perkembangan berlangsung dari pola yang bersifat umum ke khusus;
·         Perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan;
·         Memiliki fungsi kepribadian yang bersifat jasmaniah.

Saran
Pengetahuan mengenai perkembangan kanak-kanak akam memberi banyak faedah kepada guru, ibu bapa dan golongan professional untuk membuat keputusan mengenai pembelajaran dan persepsi yang peril ditegaskan. Setiap satu teori mempunyai penegasannya yang tersendiri terhadap sesuatu konsep yang dikemukakan. Oleh itu kita perlu mengenali kesemua teori agar dapat kita mengetahui kesannya terhadap perkembangan kanak-kanak.





DAFTAR PUSTAKA

Soetjiningsih.1955. Tumbuh Kembang Anak. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.

IsmanRahmaniYoezronblogspot.com. Pengertian Perkembangan. Diunduh pada tanggal 01 November 2013 Pukul : 19.00

WyndaIndahblogspot.com.2011.Defenisi Pertumbuhan dan Perkembangan. Diunduh pada tanggal 01 November 2013 Pukul : 19.00

http://apadefinisinya.blogspot.com/2008/06/definisi-perkembangan. Diunduh pada tanggal 01 November 2013 Pukul : 19.00



Selasa, 05 November 2013

CONTOH LPJ PERJALANAN DELEGASI

I.       PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Kegiatan
Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa dengan letak geografisnya yang sedemikian rupa itu Indonesia merupakan negeri rawan bencana alam. Banjir, tanah longsor, angin puting beliung, letusan gunung berapi, gempa bumi dan tsunami; datang secara silih berganti. Tetapi, pengetahuan umum ini tak serta-merta malahirkan kesadaran berkenaan dengan perlunya upaya-upaya sistematis menghadapi datangnnya bencana alam. Pada titik persoalan inilah, solusi bencana alam harus dikaitkan dengan peran konstruktif dunia pendidikan.
Secara sederhana dapatlah dijelaskan, bahwa solusi bencana alam meniscayakan adanya kapasitas-kapasitas tertentu pada sektor pemerintahan. Dalam konteks ini, sektor pemerintahan harus memiliki tingkat penguasaan secara optimal terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang relevan menjawab tantangan bencana alam. Namun masalahnya, hingga kini pemerintahan di Indonesia berwatak feodalistis, sehingga bingung saat diharapkan mampu berpijak pada prinsip tata kelola berkecerdasan. Bukan saja sektor pemerintahan gagap Iptek, tetapi juga tak memiliki gairah untuk menguasai secara mumpuni Iptek dengan segala dimensinya.
Kita pada akhirnya tak bisa mengelak dari kesimpulan, bahwa pemerintahan Indonesia di berbagai lini kedodoran mengatasi bencana alam. Bercermin pada kegagalan antisipasi dan penanggulangan yang mencuat selama ini, maka tak berlebihan manakala dikatakan dengan nada kritis. Bahwa rezim kekuasaan di Indonesia compang-camping oleh lemahnya basis Iptek dalam keseluruhan totalitas pemerintahan. Tragisnya lagi, realitas buruk itu tak dimengerti secara utuh oleh kalangan internal pemerintahan, sehingga karena itu pula tak pernah diperhadapkan pada proses koreksi dan perbaikan.
Di mana lalu letak peran konstruktif pendidikan? Mulai saat ini hingga ke masa depan, pendidikan harus diarahkan menjadi faktor penting terhapusnya orientasi feodalistik dalam pengelolaan pemerintahan. Landasan filosofinya mengacu pada tidak bergesernya peran pemerintah mengantisipasi dan menanggulangi bencana alam. Pendidikan dalam konteks ini mempersiapkan lapisan sumber daya manusia yang sungguh-sungguh mumpuni bekerja dalam kerangka organisasi pemerintahan dengan tingkat kepekaan yang tinggi mengatasi bencana alam.
 Dengan alasan itulah, ISMKMI sebagai motor pergerakan mahasiswa kesehatan masyarakat Indonesia memiliki kewajiban besar dalam mempersiapkan jajaran mahasiswa kesehatan masyarakat yang tanggap terhadap bencana melalui Pelatihan dan Workshop Siaga Bencana Nasional Dengan tema kegiatan “Revitalisasi peran tenaga kesehatan masyarakat dalam sistem siaga bencana” 4-8 juni 2012,bertempat di Medan, Sumatra Utara.
1.2  Tujuan mengikuti kegiatan
a.       Meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai kesiapsiagaan bencana.
b.      Meningkatkan ketanggapan mahasiswa mengenai kedaruratan bencana yang akan terjadi nantinya.
c.       Meningkatkan peran mahasiswa kesehatan masyarakat dalam upaya kesiapsiagaan bencana.
d.      Pembentukan Tian Siaga Bencana Nasional ISMKMI.
II. KEGIATAN
2.1  Tema kegiatan
“ Revitalisasi Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat Dalam Sistem Siaga Bencana”
2.2     Jadwal kegiatan
1.      Ramah tamah pengurus ISMKMI dan peserta kegiatan dengan panitia pelaksana.
Tanggal                 : 4 Juni 2012
Waktu                  : 17.30 s.d Selesai
Tempat                  : kampus Stikes Mutiara Indonesia.
2.      Pembukaan acara dan seminar I,II,dan III Siaga Bencana Nasional.
Tanggal                 : 5 Juni 2012
Waktu                  : 08.00 s.d 13.00
Tempat                  : kampus Stikes Mutiara Indonesia.
3.      Workshop I, “Rapid Health Assessment pada saat bencana” oleh dr.Wily (PROMKES KEMENKES)
Tanggal                 : 5 Juni 2012
Waktu                  : 14.00 s.d Selesai
Tempat                  : Bapelkes Kota Medan


4.      Workshop II, “Manajemen Sanitasi : Penyediaan Air Bersih di Pengungsian” oleh Dra.Indah Anggraini Msi (BTKL PP Medan)
Tanggal                 : 6 Juni 2012
Waktu                  : 08.00 s.d 10.30
Tempat                  : Bapelkes Kota Medan
5.      Workshop III, “Manajemen Gizi Darurat di Pengungsian” oleh Bpk.Galopong Sianturi, SKM,Mph.
Tanggal                 : 6 Juni 2012
Waktu                  : 10.30 s.d 12.00
Tempat                  : Bapelkes Kota Medan
6.      Pembahasan bentuk dan struktur Pokja Siaga Bencana Nasional.
Tanggal                 : 6 Juni 2012
Waktu                  : 20.00 s.d 24.00
Tempat                  : Bapelkes Kota Medan
7.      Workshop IV, “Koordinasi Siaga Bencana Antar Daerah” oleh Bpk.Anasuddin Panjaitan (BPBD)
Tanggal                 : 7 Juni 2012
Waktu                  : 08.00 s.d 10.00
Tempat                  : Bapelkes Kota Medan

8.      Workshop VI, “Pemberdayaan Masyarakat Dalam Upaya Mitigasi Dan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana” oleh Bpk.Zia Urridho (PKPU Kacab.Medan)
Tanggal                 : 7 Juni 2012
Waktu                  :  10.00 s.d 12.00
Tempat                  : Bapelkes Kota Medan
9.      Simulasi dan evaluasi oleh PPK regional , PPK dan PROMKES KEMENKES.
Tanggal                 : 7 Juni 2012
Waktu                  :  13.00 s.d 15.30
Tempat                  : Bapelkes Kota Medan
2.3  Sasaran Kegiatan
1.      Masyarakat FKM se-Indonesia (delegasi dari tiap institusi yang tergabung dalam anggota ISMKMI)
2.      Pemerintah
3.      LSM
4.      Akademisi
5.      Masyarakat umum




2.4  Penyelenggara kegiatan
Penyelenggara kegiatan Siaga Bencana Nasional ini adalah Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Stikes Mutiara Indonesia Medan.

2.5     Delegasi
Delegasi dari program studi ilmu kesehatan masyarakat berjumlah 2 orang, yaitu :
1.      Nama : Febriani sofyan lubis
Bp      :1110332047
2.      Nama : Rizki handayani lubis
Bp      :1110332096









III.PELAKSANAAN KEGIATAN
3.1  H 1-Senin, 4 juni 2012
Hari pertama merupakan hari kedatangan delegasi seminar dan workshop siaga  bencana nasional, kedatangan delegasi disambut di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) dimulai sejak pukul 8.00 hingga 16.30. Delegasi yang telah tiba saat itu ialah delegasi yang berasal dari Stikes Bengkulu,Stikes Nauli Husada Sibolga, dan disusul dengan kedatangan saya yang merupakan salah satu delegasi Universitas Andalas pada pukul16.00 WIB di Bapelkes, jl.Petunia Kel.Namu gajah Kec. Medan Tuntungan. Dan pada pukul 16.30 peserta dan panitia berkumpul di halaman Bapelkes untuk berangkat ke kampus Stikes Mutiara Indonesia dengan menggunakan  bus dinas Stikes MI. Setibanya di Aula pertemuan Stikes Mutiara Indonesia.
 para delegasi disambut hangat oleh panitia yang telah berada disana sebelumnya, dan telah hadir pula Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (PSIKM) Stikes MI Ibu Taruli Rohana Sinaga, Ketua BEM Stikes MI, dan Ketua Panitia pelaksana. Lalu  tepat pada pukul 17.35 acara pembukaan pun dimulai, yang diawali dengan kata sambutan selamat datang dari MC,dan dilanjutkan dengan kegiatan Tour de Mutiara Indonesia dan ISHOMA.
Pada pukul, 19.30 acara kembali dilanjutkan dengan malam keakraban antara peserta, pengurus ISMKMI,dan panitia pelaksana yang diawali dengan kata sambutan  dari Ketua Panitia, lalu sambutan dari Ketua BEM PSIKM MI dan sambutan dari Ketua PSIKM. Usai kata sambutan, acara malam keakraban ini dimeriahkan dengan “tembang” yang dibawakan oleh mahasiswa Berbakat  STIKes MI dan Games Keakraban. Pukul 22.05 kegiatan malam keakraban selesai dan  seluruh peserta,serta beberapa panitia kembali ke Bapelkes dengan menggunakan Bus STIKes MI.
3.2  H 2-Selasa, 5 Juni 2012
Hari kedua, merupakan hari pembukaan Seminar Workshop Siaga Bencana Nasional. Acara ini dibuka oleh Ketua STIKes MI. Seminar untuk hari pertama disampaikan oleh 3 pemateri berkompeten di bidangnya, yaitu :
1.      Drs. SIGIT PADMONO DEWO, M.Si (BNPB) dengan judul materi “ Potensi, Dampak, dan Manajemen Bencana Nasional dan Daerah”
2.      dr.ARIFIN (PPK KEMENKES) dengan judul materi “ Kebijakan Kementerian Kesehatan dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan”
3.      dr.ADANG BACHTIAR MD, MPH, DSc (IAKMI) dengan judul materi “ Revitalisasi Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat dalam Sistem Siaga Bencana”
Pada workshop sesi pertama, Bapak Sigit Padmono menyampaikan bahwa Manajemen bencana merupakan Segala upaya atau kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan berkaitan dengan bencana yang dilakukan pada sebelum, pada saat dan setelah bencana. Sehingga penangganan bencana tidak hanya dilakukan saat terjadinya bencana, tetapi lebih ditekankan pada saat kesiapsiagaan sebelum bencana dan pemulihan setelah bencana.
Pada saat pra bencana, yang dilakukan adalah :
1.      Upaya pencegahan
            Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana (UU No. 24/2007).Misalnya:
-          Melarang pembakaran hutan dalam perladangan
-          Melarang penambangan batu di daerah yang curam.
-          Membuat Peta Daerah Bencana
-          Mengadakan dan Mengaktifkan Isyarat-Isyarat tanda bahaya
-          Menyusun Rencana Umum tata ruang
-          Menyusun Perda mengenai syarat keamanan, bangunan pengendalian limbah dsb.
-          Mengadakan peralatan/perlengkapan Ops. PB
-          Membuat Prosedur tetap, Petunjuk Pelaksanaan, Petunjuk Teknis PB.
-          Perbaikan kerusakan lingkungan
2.      Mitigasi
Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (UU no. 24/2007)Ada 2 bentuk mitigasi :
-          Mitigasi struktural (membuat chekdam, bendungan, tanggul sungai, dll)
-          Mitigasi non struktural (peraturan, tata           ruang, pelatihan) termasuk spiritual.
Dengan melakukan :
-          Menegakkan peraturan yg telah ditetapkan
-          Memasang tanda-tanda bahaya/larangan
-          Membangun Pos-pos pengamanan, pengawasan/pengintaian
-          Membangun sarana pengaman bahaya dan memperbaiki sarana kritis (tanggul, dam, sudetan dll)
-          Pelatihan kebencanaan
3.      Kesiapsiagaan
            Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna (UU No. 24/2007).  Misalnya: Penyiapan sarana komunikasi, pos komando, penyiapan lokasi evakuasi, Rencana Kontinjensi, dan sosialisasi peraturan / pedoman penanggulangan bencana.
Pada saat  bencana, yang dilakukan adalah :
1.      Peringatan dini
Serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang (UU no. 24/2007). Pemberian peringatan dini harus :
-          Menjangkau masyarakat (accesible)
-          Segera (immediate)
-          Tegas tidak membingungkan  (coherent)
-          Bersifat resmi (official)
2.      Tanggap darurat
Serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana (UU No. 24/2007).
3.      Bantuan darurat
Kebutuhan dasar berupa: pangan, sandang, tempat tinggal sementara, kesehatan, sanitasi dan air bersih
Pada saat pasca bencana, yang dilakukan adalah :
1.      Pemulihan
Serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi. (UU No. 24/2007). Pemulihan meliputi pemulihan fisik dan non fisik.
2.      Rehabilitasi
Perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca-bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat. (UU No. 24/2007)
3.      Rekonstruksi
Pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pasca-bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat.
Pada workshop sesi kedua, Bapak dr.Arifin menjelaskan bahwa kebijakan  penanggulangan krisis kesehatan lebih menitik beratkan pada upaya :
1.      sebelum terjadi krisis kesehatan dengan tetap melaksanakan upaya saat dan pasca krisis kesehatan.
2.      Pemerataan kemampuan sumber daya penanggulangan krisis kesehatan.
3.      Peningkatan keterpaduan melalui jejaring lintas program, lintas sektor dan masyarakat
4.      Peningkatan peran regional dalam penanggulangan krisis kesehatan
5.      Penyediaan informasi krisis kesehatan yang cepat, tepat dan akurat
Dimana program penggulangan krisis kesehatan ini tergantung kepada tingkat kualitas SDM, baik tenaga kesehatan maupun masyarakat yang dilanda krisis. Oleh karena itu, peran masyarakat juga sangat diperlukan dalam  implementasi upaya pemberdayaan masyarakat dalam
 kegiatan penanggulangan krisis kesehatan, yaitu dengan :
1.      Peningkatan Kapasitas Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan dengan
Tujuan: Mengintegrasikan upaya penanggulangan krisis kesehatan dalam proses pendidikan mahasiswa kesehatan
Peserta: Dosen Poltekkes di lingkungan BPPSDM Kesehatan
2.      Penyusunan Pedoman Pemberda yaan Masyarakat dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan
Tujuan: Melengkapi Pedoman Pemberdayaan Masyarakat dengan materi penanggulangan  krisis kesehatan
Peserta: Intern Kemkes, Puskesmas, Forum Masyarakat
Pada workshop sesi ketiga, Bapak dr. Adang Bachtiar menjelaskan bahwa kecepatan pertumbuhan bencana di dunia sejak tahun 1994-2004 sangat cepat, yang ditandai dengan 1 juta kali badai angin topan, 100.000 peristiwa banjir, Lebih dari 10,000 kali longsor, gempa, kebakaran hutan dan tornado, ribuan kali tsunami dan letupan gunung berapi (CDC & EK Noji, The Public Health Consequences of Disaster). hal tersebut disebabkan oleh Kerawanan sosial terkait kemiskinan dan ketidak-adilan, kerusakan lingkungan akibat kerakusan manusia, dan pertumbuhan penduduk dunia yang luar biasa terutama di negara-negara miskin, salah satunya Indonesia, sehingga mutlak dibutuhkan peran tenaga kesehatan  masyarakat yang berkompeten dalam penanganan dan kesiapsiagaan bencana.Dengan kompetensi profesi ;
a.      ” Mengembangkan kesadaran hubungan timbal balik lingkungan dan mahluk hidup “
Mengembangkan kebijakan dan implementasi program untuk hidup sehat dalam lingkungan lestari. Partisipasi semua lapiran masyarakat dalam pelayanan kesehatan masyarakat sebelum, saat dan pasca bencana, pada semua tahapan termasuk pembelajaran, pengembangan, dan pelayanan kesmas
b.      “Kepemimpinan profesi kesmas untuk mengelola perubahan secara dinamis & bertanggung jawab”
Perubahan yang di inisiasi bertahap mulai dari jenjang berbagai kesisteman (kesehatan & lainnya), organisasi pelaksana, dan profesi
Pengembangan struktur dan program dalam profesi kesmas yang kokoh untuk penanggulangan bencana (mis dalam ISMKMI, IAKMI, dll) dan aliansi berbagai organisasi untuk penanggulangan bencana
Pengembangan kapasitas dan kompetensi anggota profesi dalam penanggulangan bencana (mitigasi dan adaptasi)
c.       “Memahami kekuatan dalam masyarakat (social capital), dan memanfaatkannya untuk mitigasi & adaptasi “
Menekankan pentingnya kebijakan dan program populis yang melestarikan lingkungan untuk hidup sehat
Memahami keberlangsungan hidup manusia dalam lingkungan yang beragam, mel “evidence based”
Memahami berbagai faktor risiko keberlangsungan hidup sehat, termasuk praktek kehidupan yang mencegah bencana (mitigasi) dan kemampuan adaptif saat bencana
Mengadopsi dan me replikasi sukses (best practices) untuk kepentingan2 pembaruan dalam penanggulangan bencana
d.      “Mengembangkan kemitraan dan aliansi, sebagai bentuk utama tanggung jawab bersama”
Pentingnya multi sektor dalam penanggulangan bencana
Menekankan kerjasama yang bersifat jangka panjang dan strategis dalam mitigasi & adaptasi bencana
Kolaborasi yang kuat antar berbagai sektor, profesi kesmas, masy sipil lain dan donor.
Setelah seminar siaga bencana berakhir, kami para delegasi kembali ke Bapelkes untuk istirahat serta melakukan kegiatan selanjutnya yaitu workshop Rapid Health Assessment pada saat bencana” oleh Bapak dr.Wily (Promkes Kemenkes).
            Workshop dimulai setelah istirahat sholat dan makan siang, workshop yang disampaikan oleh Bapak dr.Wily mengenai RHA dimulai dengan tanya jawab sebelum materi, dan menjelaskan bahwa RHA (Rapid Health Assesment) merupakan kegiatan pengumpulan data dan informasi dengan tujuan untuk menilai kerusakan dan mengidentifikasi kebutuhan dasar yang diperlukan segera sebagai respon dalam suatu kejadian bencana. (WHO).
Adapun tujuan RHA adalah :
-          Untuk membuktikan adanya kedaruratan.
-          Untuk memperoleh gambaran mengenai jenis, dampak dan kemungkinan perkembangan lebih lanjut dari kedaruratan.
-          Untuk menilai dampak bencana dan potensi ancaman bidang kesehatan.
-          Untuk menilai kapasitas tanggapdarurat yang ada dan menetapkan jenis kebutuhan yang diperlukan segera.
-          Untuk membuat rekomendasi tindakan prioritas dalam pelaksanaan ketanggapdaruratan.
Rangkaian kegiatan RHA yang dijelaskan oleh Bpk.dr wily meliputi :
1.      Pengumpulan data
2.      Analisis data
3.      Penyajian hasil dan rekomendasi/pelaporan
Sebelum melakukan RHA, tentukan prioritas penilaian terlebih dahulu
Setelah workshop 1 selesai. Kami peserta dipersilahkan istrahat kembali dan kembali melanjutkan aktivitas lainnya pada malam hari, yaitu pembentukan Pokja Siaga Bencana.
3.3     H 3-Rabu, 6 Juni 2012
Workshop untuk hari ketiga disampaikan oleh 2 pemateri berkompeten di bidangnya, yaitu:
1.      Workshop II, “Manajemen Sanitasi : Penyediaan Air Bersih di Pengungsian” oleh DRA.INDAH ANGGRAINI MSI (BTKL PP Medan)
2.      Workshop III, “Manajemen Gizi Darurat di Pengungsian” oleh Bpk.GALOPONG SIANTURI, SKM,MPH.
3.      Pembahasan bentuk dan struktur POKJA SIAGA BENCANA NASIONAL.
Pada pemateri pertama, Ibu Dra.Indah anggraini menjelaskan bahwa pengadaan air bersih di pengungsian sangat sulit, disebabkan karena akses terhadap sumber air bersih sult didapatkan. Oleh karena itu, dilakukan upaya pengolahan air setempat menjadi air  bersih yang layak pakai untuk kebutuhan para pengungsi. Salah satu contohnya, yaitu penjernihan air dengan tawas, dll. untuk air yang siap minum digunakan teknik penjernihan Sodis, menjemur,memasak dan menyuling. Tetapi, teknik yang biasa dipakai di lapangan adalah dengan memasak dan menyuling. Pada pemateri kedua, oleh Bapak Galopong sianturi menerangkan bahwa kebencanaan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi,
1.      Letak geografis Indonesia yang berada di antara 2 samudra dan 2 benua, yang memungkinkan terjadinya bencana.
2.      Akibat ulah manusia yan tidak ramah lingkungan kemungkinan terjadinya bencana.
3.      Faktor demografi, yaitu keragaman sosio-kultural memungkinkan terjadinya konflik social yang memungkinkan terjadinya bencana.
Dampak bencana yang terjadi menyebabkan kedaruratan di segala bidang, terutama berdampak di bidang kesehatan dan gizi, diantaranya : timbulnya permasalahan kesehatan dan gizi, rusaknya sarana  pelayanan kesehatan, terputusnya jalur distribusi pangan, rusaknya sarana air bersih, sanitasi lingkungan yang buruk.
Sehingga diperlukan upaya persiapan pengurangan dampak risiko bencana yang akan terjadi di bidang kesehatan dan gizi, adapun kegiatan gizi dalam penanggulangan bencana, mencakup :
1.      Pra-bencana
Penanganan gizi saat pra-bencana pada dasarnya adalah kegiatan antipasti terjadinya bencana, dan mengurangi risiko dampak bencana dengan : Sosialisasi dan pelatihan  petugas ( gizi darurat, MP ASI, Konseling), Pembinaan teknis, Rencana kontijesi (Buffer stock MP-ASI),dan  Pengumpulan data awal.
2.      Bencana
Penanganan gizi pada saat bencana meliputi 3 tahap, diantaranya : tahap siaga darurat, tahap tanggap darurat, tahap transisi darurat. Kegiatan gizi pada siaga darurat dan transisi darurat sesuai dengan situasi dan  kondisi yang adapat dapat dilaksanakan kegiatan gizi seperti pada tangap darurat : fase 1 tanggap darurat awal, fase 2 tanggap darurat awal, dan tanggap darurat lanjut.
3.      Pasca bencana
Kegiatan penanganan gizi paska-bencana pada dasarnya melaksanakan pemantauan dan evaluasi sebagai bagian dari surveilans, untuk:
§  mengetahui kebutuhan yang diperlukan (need assessment)
§  melaksanakan kegiatan pembinaan gizi sebagai tindak lanjut atau respon dari informasi yang diperoleh secara terintegrasi dengan kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat (public health response) untuk meningkatkan dan mempertahankan status gizi dan kesehatan pengungsi
Seterusnya setelah materi kedua selesai, kegiatan yang dilakukan adalah istirahat dan acara keakraban panitia dengan peserta workshop. Selanjutnya, setelah makan malam, kegiatan dilajutkan dengan pembahasan dan pembentukan struktur pokja siaga bencana nasional.
3.3     H 4-Kamis, 7 Juni 2012
Workshop untuk hari ketiga disampaikan oleh 2 pemateri berkompeten di bidangnya, yaitu:
1.      Workshop IV, “Koordinasi Siaga Bencana Antar Daerah” oleh BPK.ANASUDDIN PANJAITAN (BPBD)
2.      Workshop VI, “Pemberdayaan Masyarakat Dalam Upaya Mitigasi Dan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana” oleh BPK.ZIA URRIDHO (Pkpu Kacab.Medan)
3.      Simulasi dan evaluasi oleh PPK regional , PPK dan PROMKES KEMENKES.
Pemateri pertama, Bpk.Anassudin Panjaitan menjelaskan bahwa bencana adalah rangkaian peristiwa yang mengancamdan mengganggu kehidupan masyarakat, yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana tersebut dipicu oleh 2 faktor, yakni :ancaman (hazard) dan kerentanan (vulnerability). Filosofi BNPB dalam menganggulangi bencana adalah :
1.      Jauhkan bencana dari manusia
2.      Jauhkan menusia dari bencana
3.      Beradaptasi dengan bencana
4.      Mendorong kearafin lokal sebagai kekuatan utama.
Dengan filosofi itu, BNPB SU melakukan rangkaian penanggulangan bencana yang meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan.  Selain menerangkan kegiatan yang dilakukan BNPB dalam penanggulangan bencana, Bpk.Anas juga menjelaskan KOMANDO TANGGAP DARURAT BENCANA, yang merupakan suatu sistem penanganan darurat bencana yang digunakan oleh semua instansi dengan mengintegrasikan pemanfaatan sumberdaya manusia, perlatan, dan anggaran dilakukan dengan Organisasi penanganan tanggap darurat bencana yang dipimpin oleh seorang komandan tanggap darurat bencana dan dibantu oleh staf komando dan staf umum.
Sebagai penutup, Bpk.Anas memberikan 10 langkah siaga bencana :
1.      Mengenali lingkungan kita yang kemungkinan terjadinya bencana.
2.      Mengetahui jenis dan resiko bencana yang dapat terjadi di lingkungan kita.
3.      Selalu siaga setiap saat saat terhadap kemungkinan terjadinya bencana.
4.      Mengetahui tempat evakuasi bila terjadi bencana
5.      Merencanakan tindakan yang akan diambil bila terjadi bencana.
6.      Menempatkan surat dokumen penting dan barang berharga di tempat yang mudah ditemukan.
7.      Melakukan penyiapan keamanan umum dilingkungan sebelum dan saat terjadi bencana.
8.      Mengetahui lembaga mana yang menangani bencana.
9.      Menyiapkan sarana, prasarana dan perlatan yang berguna untuk mitigasi dan penanganan bencana.
10.  Mengadakan pelatihan dan simulasi secara berkala sebelum terjadi bencana.    
Pada kegiatan simulasi workshop siaga bencana yang diadakan oleh PPK Regional dan Dinkes SUMUT
 Kegiatan ini berupa penerapan dari hasil Workshop I s/d Workshop VI. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh delegasi dan HAGANA STIKes Mutiara Indonesia. Bertindak sebagai pengarah simulasi dari PPK Kemenkes RI dan Dinkes Provsu. Bentuk simulasinya berupa role play, dimana delegasi dibagi dalam beberapa kelompok institusi, antara lain BPBD Provsu, BPBD Mandailing Natal, Dinkes Provsu dan HAGANA STIKes Mutiara Indonesia + ISMKMI. Kelompok delegasi yang sudah dibagi memainkan perannya sesuai dengan institusi yang  diperankan. Sebelumnya diberikan kasus berupa kejadian bencana untuk kemudian dibahas penanganan kasus bencana tersebut oleh masing-masing kelompok sesuai tupoksinya. Evaluator kegiatan ini adalah Bpk. Otniel Kentaren, M.Si dari STIKes Mutiara Indonesia dan BNPB.
3.4        H 5-Jumat, 8 Juni 2012
City Tour
Tempat : Taman Wisata Gundaling, Brastagi.
                Pemandian Air Panas, Lau Debuk debuk
                Penatapan, Sibolangit
Peserta :
·         22 orang delegasi + panitia
·         Mendampingi dari unsur pendidikan , Mido Ester Sitorus, SKM , Dame Simarmata dan Surya Anita, SKM.

Deskripsi Kegiatan :
Kegiatan ini berupa kegitan kunjungan ke tempat- tempat wisata guna memperkenalkan tempat – tempat wisata Sumatera Utara yang memiliki keindahan dan nilai eksotika yang tinggi.

4.      Penafsiran Terhadap Kegiatan Perjalanan dan hasilnya
Alhamdulillah, selama rangkaian kegiatan seminar dan Wokshop siga bencana nasional dan rekomendasi pembentukan Pokja ISMKMI ini terlaksana dengan cukup baik, dan bermanfaat. Rangkaian ini memberikan pengalaman dan pengetahuan tentang siaga bencana bagi para delegasi yang tentuya berguna dalam kesiapsiagaan di daerah masing-masing. Semoga ilmu dan pengetahuan ini dapat diaplikasikan seoptimal mungkin demi meminimalkan dampak bencana dimana pun terjadi. Selain itu, kegiatan ini juga menumbuhkan jalinan persaudaraan antara mahasiswa kesehatan masyarakat se Indonesia. semoga kedepannya persaudaraan ini akan semakin erat dan diharapkan komunikasi antar mahasiswa kesehatan se Indonesia tidak terputus begitu saja.

5.      Hal-hal yang dibutuhkan dalam mengikuti kegiatan
a.       Komunikasi yang baik dengan paitia sebelum keberangkatan hingga sampai di tempat acara.
b.      Persiapan fisik,mental dan dana yang diperlukan di Hari H.

6.      Pencapaian target
a.        Delegasi FKM Unand mengikuti semua rangkaian acara Seminar dan Workshop siaga bencana nasional
b.      Menjalin komunikasi yang dengan perwakilan delegasi Kesehatan Masyarakat lain Se-Indonesia.
c.       Delegasi FKM Unand berperan aktif dalam setiap rangaian kegiatan workshop siaga bencana nasional.

7.      Kendala
a.       Rapat pembentukan pengurus yang molor sampai larut malam.
b.      Ada beberapa workhop yang tidak dilaksanakan karena pemateri tidak hadir.

8.      Saran dan rekomendasi
a.       Tingkatkan komunikasi dan koordinasi yang baik antar sesame delegasi dan panitia.
b.      Tingkatkan kedisiplinan mengenai waktu pelaksanaan kegiatan.

9.      Penutup
Demikianlah laporan pertanggungjwaban ini kami sampaikan sebagai gambran dari kegiatan workshop siaga bencana nasional agar dapat dijadikan pedoman dan bahan pertimbangan. Akhirnya kepada Allah jualah kita berlindung dan memohon ampun, agar senantiasa diberkahi dalam setiap langkah dan perbuatan yang kita lakukan.amiin…