I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kegiatan
Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa dengan letak geografisnya yang
sedemikian rupa itu Indonesia merupakan negeri rawan bencana alam. Banjir,
tanah longsor, angin puting beliung, letusan gunung berapi, gempa bumi dan
tsunami; datang secara silih berganti. Tetapi, pengetahuan umum ini tak
serta-merta malahirkan kesadaran berkenaan dengan perlunya upaya-upaya
sistematis menghadapi datangnnya bencana alam. Pada titik persoalan inilah,
solusi bencana alam harus dikaitkan dengan peran konstruktif dunia pendidikan.
Secara sederhana dapatlah dijelaskan, bahwa solusi bencana alam
meniscayakan adanya kapasitas-kapasitas tertentu pada sektor pemerintahan.
Dalam konteks ini, sektor pemerintahan harus memiliki tingkat penguasaan secara
optimal terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang relevan menjawab
tantangan bencana alam. Namun masalahnya, hingga kini pemerintahan di Indonesia
berwatak feodalistis, sehingga bingung saat diharapkan mampu berpijak pada
prinsip tata kelola berkecerdasan. Bukan saja sektor pemerintahan gagap Iptek,
tetapi juga tak memiliki gairah untuk menguasai secara mumpuni Iptek dengan
segala dimensinya.
Kita pada akhirnya tak bisa mengelak dari kesimpulan, bahwa pemerintahan
Indonesia di berbagai lini kedodoran mengatasi bencana alam. Bercermin pada
kegagalan antisipasi dan penanggulangan yang mencuat selama ini, maka tak
berlebihan manakala dikatakan dengan nada kritis. Bahwa rezim kekuasaan di
Indonesia compang-camping oleh lemahnya basis Iptek dalam keseluruhan totalitas
pemerintahan. Tragisnya lagi, realitas buruk itu tak dimengerti secara utuh
oleh kalangan internal pemerintahan, sehingga karena itu pula tak pernah
diperhadapkan pada proses koreksi dan perbaikan.
Di mana lalu letak peran konstruktif pendidikan? Mulai saat ini hingga ke
masa depan, pendidikan harus diarahkan menjadi faktor penting terhapusnya
orientasi feodalistik dalam pengelolaan pemerintahan. Landasan filosofinya
mengacu pada tidak bergesernya peran pemerintah mengantisipasi dan
menanggulangi bencana alam. Pendidikan dalam konteks ini mempersiapkan lapisan
sumber daya manusia yang sungguh-sungguh mumpuni bekerja dalam kerangka
organisasi pemerintahan dengan tingkat kepekaan yang tinggi mengatasi bencana
alam.
Dengan alasan itulah, ISMKMI
sebagai motor pergerakan mahasiswa kesehatan masyarakat Indonesia memiliki
kewajiban besar dalam mempersiapkan jajaran mahasiswa kesehatan masyarakat yang
tanggap terhadap bencana melalui Pelatihan dan Workshop Siaga Bencana Nasional
Dengan tema kegiatan “Revitalisasi peran tenaga kesehatan masyarakat dalam
sistem siaga bencana” 4-8 juni 2012,bertempat di Medan, Sumatra Utara.
1.2 Tujuan mengikuti kegiatan
a. Meningkatkan
pengetahuan mahasiswa mengenai kesiapsiagaan bencana.
b. Meningkatkan
ketanggapan mahasiswa mengenai kedaruratan bencana yang akan terjadi nantinya.
c. Meningkatkan
peran mahasiswa kesehatan masyarakat dalam upaya kesiapsiagaan bencana.
d. Pembentukan
Tian Siaga Bencana Nasional ISMKMI.
II.
KEGIATAN
2.1
Tema
kegiatan
“ Revitalisasi
Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat Dalam Sistem Siaga Bencana”
2.2
Jadwal
kegiatan
1. Ramah
tamah pengurus ISMKMI dan peserta kegiatan dengan panitia pelaksana.
Tanggal : 4 Juni 2012
Waktu : 17.30 s.d
Selesai
Tempat : kampus Stikes Mutiara Indonesia.
2. Pembukaan
acara dan seminar I,II,dan III Siaga Bencana Nasional.
Tanggal : 5 Juni 2012
Waktu : 08.00 s.d
13.00
Tempat : kampus Stikes Mutiara Indonesia.
3. Workshop
I, “Rapid Health Assessment pada saat bencana” oleh dr.Wily (PROMKES KEMENKES)
Tanggal : 5 Juni 2012
Waktu : 14.00 s.d
Selesai
Tempat : Bapelkes Kota Medan
4. Workshop
II, “Manajemen Sanitasi : Penyediaan Air Bersih di Pengungsian” oleh Dra.Indah
Anggraini Msi (BTKL PP Medan)
Tanggal : 6 Juni 2012
Waktu : 08.00 s.d
10.30
Tempat : Bapelkes Kota Medan
5. Workshop
III, “Manajemen Gizi Darurat di Pengungsian” oleh Bpk.Galopong Sianturi,
SKM,Mph.
Tanggal : 6 Juni 2012
Waktu : 10.30 s.d
12.00
Tempat : Bapelkes Kota Medan
6. Pembahasan
bentuk dan struktur Pokja Siaga Bencana Nasional.
Tanggal : 6 Juni 2012
Waktu : 20.00 s.d
24.00
Tempat : Bapelkes Kota Medan
7. Workshop
IV, “Koordinasi Siaga Bencana Antar Daerah” oleh Bpk.Anasuddin Panjaitan (BPBD)
Tanggal : 7 Juni 2012
Waktu : 08.00 s.d
10.00
Tempat : Bapelkes Kota Medan
8. Workshop
VI, “Pemberdayaan Masyarakat Dalam Upaya Mitigasi Dan Kesiapsiagaan Menghadapi
Bencana” oleh Bpk.Zia Urridho (PKPU Kacab.Medan)
Tanggal : 7 Juni 2012
Waktu : 10.00 s.d 12.00
Tempat : Bapelkes Kota Medan
9. Simulasi
dan evaluasi oleh PPK regional , PPK dan PROMKES KEMENKES.
Tanggal : 7 Juni 2012
Waktu : 13.00 s.d 15.30
Tempat : Bapelkes Kota Medan
2.3
Sasaran
Kegiatan
1. Masyarakat
FKM se-Indonesia (delegasi dari tiap institusi yang tergabung dalam anggota
ISMKMI)
2. Pemerintah
3. LSM
4. Akademisi
5. Masyarakat
umum
2.4
Penyelenggara
kegiatan
Penyelenggara kegiatan Siaga Bencana Nasional ini adalah Badan Eksekutif
Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Stikes Mutiara Indonesia
Medan.
2.5
Delegasi
Delegasi dari
program studi ilmu kesehatan masyarakat berjumlah 2 orang, yaitu :
1. Nama : Febriani sofyan lubis
Bp :1110332047
2. Nama : Rizki handayani lubis
Bp :1110332096
III.PELAKSANAAN KEGIATAN
3.1
H 1-Senin, 4
juni 2012
Hari pertama merupakan hari kedatangan delegasi seminar dan workshop
siaga bencana nasional, kedatangan
delegasi disambut di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) dimulai sejak pukul
8.00 hingga 16.30. Delegasi yang telah tiba saat itu ialah delegasi yang berasal
dari Stikes Bengkulu,Stikes Nauli Husada Sibolga, dan disusul dengan kedatangan
saya yang merupakan salah satu delegasi Universitas Andalas pada pukul16.00 WIB
di Bapelkes, jl.Petunia Kel.Namu gajah Kec. Medan Tuntungan. Dan pada pukul
16.30 peserta dan panitia berkumpul di halaman Bapelkes untuk berangkat ke
kampus Stikes Mutiara Indonesia dengan menggunakan bus dinas Stikes MI. Setibanya di Aula pertemuan
Stikes Mutiara Indonesia.
para delegasi disambut hangat oleh
panitia yang telah berada disana sebelumnya, dan telah hadir pula Ketua Program
Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (PSIKM) Stikes MI Ibu Taruli Rohana Sinaga,
Ketua BEM Stikes MI, dan Ketua Panitia pelaksana. Lalu tepat pada pukul 17.35 acara pembukaan pun
dimulai, yang diawali dengan kata sambutan selamat datang dari MC,dan
dilanjutkan dengan kegiatan Tour de
Mutiara Indonesia dan ISHOMA.
Pada pukul, 19.30 acara kembali dilanjutkan dengan malam keakraban antara
peserta, pengurus ISMKMI,dan panitia pelaksana yang diawali dengan kata
sambutan dari Ketua Panitia, lalu
sambutan dari Ketua BEM PSIKM MI dan sambutan dari Ketua PSIKM. Usai kata
sambutan, acara malam keakraban ini dimeriahkan dengan “tembang” yang dibawakan
oleh mahasiswa Berbakat STIKes MI dan
Games Keakraban. Pukul 22.05 kegiatan malam keakraban selesai dan seluruh peserta,serta beberapa panitia
kembali ke Bapelkes dengan menggunakan Bus STIKes MI.
3.2
H 2-Selasa,
5 Juni 2012
Hari kedua, merupakan hari pembukaan Seminar
Workshop Siaga Bencana Nasional. Acara ini dibuka oleh Ketua STIKes MI.
Seminar untuk hari pertama disampaikan oleh 3 pemateri berkompeten di
bidangnya, yaitu :
1. Drs. SIGIT PADMONO DEWO, M.Si (BNPB) dengan judul materi “
Potensi, Dampak, dan Manajemen Bencana Nasional dan Daerah”
2. dr.ARIFIN
(PPK KEMENKES) dengan judul materi “ Kebijakan Kementerian Kesehatan dalam
Penanggulangan Krisis Kesehatan”
3. dr.ADANG
BACHTIAR MD, MPH, DSc (IAKMI) dengan judul materi “ Revitalisasi Peran Tenaga
Kesehatan Masyarakat dalam Sistem Siaga Bencana”
Pada workshop sesi pertama, Bapak Sigit Padmono menyampaikan bahwa
Manajemen bencana merupakan Segala upaya
atau kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pencegahan, mitigasi,
kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan berkaitan dengan bencana yang
dilakukan pada sebelum, pada saat dan setelah bencana. Sehingga penangganan
bencana tidak hanya dilakukan saat terjadinya bencana, tetapi lebih ditekankan
pada saat kesiapsiagaan sebelum bencana dan pemulihan setelah bencana.
Pada saat pra bencana, yang dilakukan adalah :
1. Upaya
pencegahan
Serangkaian
kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana,
baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam
bencana (UU No. 24/2007).Misalnya:
-
Melarang pembakaran hutan dalam perladangan
-
Melarang penambangan batu di daerah yang curam.
-
Membuat Peta Daerah Bencana
-
Mengadakan dan Mengaktifkan Isyarat-Isyarat tanda
bahaya
-
Menyusun Rencana Umum tata ruang
-
Menyusun Perda mengenai syarat keamanan, bangunan
pengendalian limbah dsb.
-
Mengadakan peralatan/perlengkapan Ops. PB
-
Membuat Prosedur tetap, Petunjuk Pelaksanaan, Petunjuk
Teknis PB.
-
Perbaikan kerusakan lingkungan
2. Mitigasi
Serangkaian
upaya untuk mengurangi risiko bencana baik melalui pembangunan fisik maupun
penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (UU no.
24/2007)Ada 2 bentuk mitigasi :
-
Mitigasi struktural (membuat chekdam, bendungan,
tanggul sungai, dll)
-
Mitigasi non struktural (peraturan, tata ruang, pelatihan) termasuk spiritual.
Dengan
melakukan :
-
Menegakkan peraturan yg telah ditetapkan
-
Memasang tanda-tanda bahaya/larangan
-
Membangun Pos-pos pengamanan, pengawasan/pengintaian
-
Membangun sarana pengaman bahaya dan memperbaiki sarana
kritis (tanggul, dam, sudetan dll)
-
Pelatihan kebencanaan
3. Kesiapsiagaan
Serangkaian kegiatan yang dilakukan
untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah
yang tepat guna dan berdaya guna (UU No. 24/2007). Misalnya: Penyiapan sarana komunikasi, pos
komando, penyiapan lokasi evakuasi, Rencana Kontinjensi, dan sosialisasi
peraturan / pedoman penanggulangan bencana.
Pada saat bencana, yang dilakukan adalah
:
1. Peringatan
dini
Serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada
masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh
lembaga yang berwenang (UU no. 24/2007). Pemberian peringatan dini harus :
-
Menjangkau masyarakat (accesible)
-
Segera (immediate)
-
Tegas tidak membingungkan (coherent)
-
Bersifat resmi (official)
2. Tanggap
darurat
Serangkaian
kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk
menangani dampak buruk yang ditimbulkan, meliputi kegiatan penyelamatan dan
evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan,
pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana (UU
No. 24/2007).
3.
Bantuan darurat
Kebutuhan dasar berupa: pangan,
sandang, tempat tinggal sementara, kesehatan, sanitasi dan air bersih
Pada saat pasca bencana, yang dilakukan adalah :
1.
Pemulihan
Serangkaian kegiatan untuk
mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana
dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan
upaya rehabilitasi. (UU No. 24/2007). Pemulihan meliputi pemulihan fisik dan
non fisik.
2.
Rehabilitasi
Perbaikan dan pemulihan semua
aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah
pasca-bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara
wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat. (UU No. 24/2007)
3.
Rekonstruksi
Pembangunan kembali semua
prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pasca-bencana, baik pada tingkat
pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya
kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban dan
bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat.
Pada workshop sesi kedua, Bapak dr.Arifin menjelaskan bahwa kebijakan penanggulangan krisis kesehatan lebih menitik
beratkan pada upaya :
1.
sebelum terjadi krisis kesehatan dengan tetap
melaksanakan upaya saat dan pasca krisis kesehatan.
2.
Pemerataan kemampuan sumber daya penanggulangan krisis kesehatan.
3.
Peningkatan keterpaduan melalui jejaring lintas
program, lintas sektor dan masyarakat
4.
Peningkatan peran regional dalam penanggulangan krisis
kesehatan
5.
Penyediaan informasi krisis kesehatan yang cepat, tepat
dan akurat
Dimana program penggulangan
krisis kesehatan ini tergantung kepada tingkat kualitas SDM, baik tenaga
kesehatan maupun masyarakat yang dilanda krisis. Oleh karena itu, peran
masyarakat juga sangat diperlukan dalam implementasi upaya pemberdayaan masyarakat
dalam
kegiatan penanggulangan krisis kesehatan,
yaitu dengan :
1.
Peningkatan Kapasitas Fasilitator Pemberdayaan
Masyarakat dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan dengan
Tujuan:
Mengintegrasikan upaya penanggulangan krisis kesehatan dalam proses pendidikan
mahasiswa kesehatan
Peserta: Dosen
Poltekkes di lingkungan BPPSDM Kesehatan
2.
Penyusunan Pedoman Pemberda yaan Masyarakat dalam
Penanggulangan Krisis Kesehatan
Tujuan: Melengkapi
Pedoman Pemberdayaan Masyarakat dengan materi penanggulangan krisis kesehatan
Peserta: Intern
Kemkes, Puskesmas, Forum Masyarakat
Pada workshop sesi ketiga, Bapak dr. Adang Bachtiar menjelaskan
bahwa kecepatan pertumbuhan bencana di dunia sejak tahun 1994-2004 sangat
cepat, yang ditandai dengan 1 juta kali badai angin topan, 100.000 peristiwa
banjir, Lebih
dari 10,000 kali longsor, gempa, kebakaran hutan dan tornado, ribuan kali tsunami dan letupan gunung
berapi (CDC & EK Noji, The Public Health Consequences of Disaster). hal
tersebut disebabkan oleh Kerawanan sosial terkait kemiskinan dan
ketidak-adilan, kerusakan
lingkungan akibat kerakusan manusia, dan pertumbuhan penduduk dunia yang luar biasa terutama di negara-negara
miskin, salah satunya Indonesia,
sehingga mutlak dibutuhkan peran tenaga kesehatan masyarakat yang berkompeten dalam penanganan
dan kesiapsiagaan bencana.Dengan kompetensi profesi ;
a.
”
Mengembangkan kesadaran hubungan timbal balik lingkungan dan mahluk hidup “
Mengembangkan
kebijakan dan implementasi program untuk hidup sehat dalam lingkungan lestari. Partisipasi
semua lapiran masyarakat dalam pelayanan kesehatan masyarakat sebelum, saat dan
pasca bencana, pada semua tahapan termasuk pembelajaran, pengembangan, dan
pelayanan kesmas
b.
“Kepemimpinan
profesi kesmas untuk mengelola perubahan secara dinamis & bertanggung
jawab”
Perubahan
yang di inisiasi bertahap mulai dari jenjang berbagai kesisteman (kesehatan
& lainnya), organisasi pelaksana, dan profesi
Pengembangan
struktur dan program dalam profesi kesmas yang kokoh untuk penanggulangan
bencana (mis dalam ISMKMI, IAKMI, dll) dan aliansi berbagai organisasi untuk
penanggulangan bencana
Pengembangan
kapasitas dan kompetensi anggota profesi dalam penanggulangan bencana (mitigasi
dan adaptasi)
c.
“Memahami
kekuatan dalam masyarakat (social capital), dan memanfaatkannya untuk
mitigasi & adaptasi “
Menekankan
pentingnya kebijakan dan program populis yang melestarikan lingkungan untuk
hidup sehat
Memahami
keberlangsungan hidup manusia dalam lingkungan yang beragam, mel “evidence
based”
Memahami
berbagai faktor risiko keberlangsungan hidup sehat, termasuk praktek kehidupan
yang mencegah bencana (mitigasi) dan kemampuan adaptif saat bencana
Mengadopsi
dan me replikasi sukses (best practices) untuk kepentingan2 pembaruan
dalam penanggulangan bencana
d. “Mengembangkan kemitraan dan
aliansi, sebagai bentuk utama tanggung jawab bersama”
Pentingnya
multi sektor dalam penanggulangan bencana
Menekankan
kerjasama yang bersifat jangka panjang dan strategis dalam mitigasi &
adaptasi bencana
Kolaborasi
yang kuat antar berbagai sektor, profesi kesmas, masy sipil lain dan donor.
Setelah seminar siaga
bencana berakhir, kami para delegasi kembali ke Bapelkes untuk istirahat serta
melakukan kegiatan selanjutnya yaitu workshop Rapid Health Assessment pada saat bencana” oleh Bapak dr.Wily (Promkes
Kemenkes).
Workshop
dimulai setelah istirahat sholat dan makan siang, workshop yang disampaikan
oleh Bapak dr.Wily mengenai RHA dimulai dengan tanya jawab sebelum materi, dan
menjelaskan bahwa RHA (Rapid Health Assesment) merupakan kegiatan pengumpulan
data dan informasi dengan tujuan untuk menilai kerusakan dan mengidentifikasi
kebutuhan dasar yang diperlukan segera sebagai respon dalam suatu kejadian
bencana. (WHO).
Adapun tujuan RHA adalah :
-
Untuk membuktikan adanya kedaruratan.
-
Untuk
memperoleh gambaran mengenai jenis, dampak dan kemungkinan perkembangan
lebih lanjut dari kedaruratan.
-
Untuk menilai dampak bencana dan potensi ancaman bidang
kesehatan.
-
Untuk menilai kapasitas tanggapdarurat yang ada dan
menetapkan jenis kebutuhan yang diperlukan segera.
-
Untuk membuat rekomendasi tindakan prioritas dalam
pelaksanaan ketanggapdaruratan.
Rangkaian kegiatan RHA yang
dijelaskan oleh Bpk.dr wily meliputi :
1.
Pengumpulan data
2.
Analisis data
3.
Penyajian hasil dan rekomendasi/pelaporan
Sebelum melakukan RHA,
tentukan prioritas penilaian terlebih dahulu
Setelah workshop 1 selesai. Kami
peserta dipersilahkan istrahat kembali dan kembali melanjutkan aktivitas
lainnya pada malam hari, yaitu pembentukan Pokja Siaga Bencana.
3.3
H 3-Rabu, 6
Juni 2012
Workshop untuk hari ketiga disampaikan oleh 2 pemateri berkompeten di
bidangnya, yaitu:
1. Workshop
II, “Manajemen Sanitasi : Penyediaan Air Bersih di Pengungsian” oleh DRA.INDAH
ANGGRAINI MSI (BTKL PP Medan)
2. Workshop
III, “Manajemen Gizi Darurat di Pengungsian” oleh Bpk.GALOPONG SIANTURI,
SKM,MPH.
3.
Pembahasan bentuk dan struktur POKJA SIAGA BENCANA
NASIONAL.
Pada pemateri pertama, Ibu Dra.Indah anggraini menjelaskan bahwa
pengadaan air bersih di pengungsian sangat sulit, disebabkan karena akses
terhadap sumber air bersih sult didapatkan. Oleh karena itu, dilakukan upaya
pengolahan air setempat menjadi air bersih yang layak pakai untuk kebutuhan para
pengungsi. Salah satu contohnya, yaitu penjernihan air dengan tawas, dll. untuk
air yang siap minum digunakan teknik penjernihan Sodis, menjemur,memasak dan
menyuling. Tetapi, teknik yang biasa dipakai di lapangan adalah dengan memasak
dan menyuling. Pada pemateri kedua, oleh
Bapak Galopong sianturi menerangkan bahwa kebencanaan dipengaruhi oleh beberapa
faktor yang meliputi,
1.
Letak geografis Indonesia yang berada di antara 2
samudra dan 2 benua, yang memungkinkan terjadinya bencana.
2.
Akibat ulah manusia yan tidak ramah lingkungan
kemungkinan terjadinya bencana.
3.
Faktor demografi, yaitu keragaman sosio-kultural
memungkinkan terjadinya konflik social yang memungkinkan terjadinya bencana.
Dampak bencana
yang terjadi menyebabkan kedaruratan di segala bidang, terutama berdampak di
bidang kesehatan dan gizi, diantaranya : timbulnya permasalahan kesehatan dan
gizi, rusaknya sarana pelayanan
kesehatan, terputusnya jalur distribusi pangan, rusaknya sarana air bersih, sanitasi
lingkungan yang buruk.
Sehingga diperlukan upaya
persiapan pengurangan dampak risiko bencana yang akan terjadi di bidang
kesehatan dan gizi, adapun kegiatan gizi dalam penanggulangan bencana, mencakup
:
1.
Pra-bencana
Penanganan gizi
saat pra-bencana pada dasarnya adalah kegiatan antipasti terjadinya bencana,
dan mengurangi risiko dampak bencana dengan : Sosialisasi dan pelatihan petugas ( gizi darurat, MP ASI, Konseling), Pembinaan
teknis, Rencana kontijesi (Buffer stock MP-ASI),dan Pengumpulan data awal.
2.
Bencana
Penanganan gizi
pada saat bencana meliputi 3 tahap, diantaranya : tahap siaga darurat, tahap
tanggap darurat, tahap transisi darurat. Kegiatan gizi pada siaga darurat dan
transisi darurat sesuai dengan situasi dan
kondisi yang adapat dapat dilaksanakan kegiatan gizi seperti pada tangap
darurat : fase 1 tanggap darurat awal, fase 2 tanggap darurat awal, dan tanggap
darurat lanjut.
3.
Pasca bencana
Kegiatan penanganan gizi
paska-bencana pada dasarnya
melaksanakan pemantauan dan evaluasi sebagai bagian dari surveilans, untuk:
§
mengetahui kebutuhan yang diperlukan (need assessment)
§
melaksanakan kegiatan pembinaan gizi sebagai tindak
lanjut atau respon dari informasi yang diperoleh secara terintegrasi dengan
kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat (public health response) untuk
meningkatkan dan mempertahankan status gizi dan kesehatan pengungsi
Seterusnya setelah materi kedua
selesai, kegiatan yang dilakukan adalah istirahat dan acara keakraban panitia
dengan peserta workshop. Selanjutnya, setelah makan malam, kegiatan dilajutkan
dengan pembahasan dan pembentukan struktur pokja siaga bencana nasional.
3.3
H 4-Kamis, 7
Juni 2012
Workshop untuk hari ketiga
disampaikan oleh 2 pemateri berkompeten di bidangnya, yaitu:
1. Workshop
IV, “Koordinasi Siaga Bencana Antar Daerah” oleh BPK.ANASUDDIN PANJAITAN (BPBD)
2. Workshop
VI, “Pemberdayaan Masyarakat Dalam Upaya Mitigasi Dan Kesiapsiagaan Menghadapi
Bencana” oleh BPK.ZIA URRIDHO (Pkpu Kacab.Medan)
3.
Simulasi dan evaluasi oleh PPK regional , PPK dan
PROMKES KEMENKES.
Pemateri pertama, Bpk.Anassudin
Panjaitan menjelaskan bahwa bencana adalah rangkaian peristiwa yang
mengancamdan mengganggu kehidupan masyarakat, yang mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,kerugian harta benda, dan dampak
psikologis. Bencana tersebut dipicu oleh 2 faktor, yakni :ancaman (hazard) dan
kerentanan (vulnerability). Filosofi BNPB dalam menganggulangi bencana adalah :
1.
Jauhkan
bencana dari manusia
2.
Jauhkan
menusia dari bencana
3.
Beradaptasi
dengan bencana
4.
Mendorong
kearafin lokal sebagai kekuatan utama.
Dengan
filosofi itu, BNPB SU melakukan rangkaian penanggulangan bencana yang meliputi
pencegahan, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan. Selain menerangkan kegiatan yang dilakukan
BNPB dalam penanggulangan bencana, Bpk.Anas juga menjelaskan KOMANDO TANGGAP
DARURAT BENCANA, yang merupakan suatu sistem penanganan darurat bencana yang
digunakan oleh semua instansi dengan mengintegrasikan pemanfaatan sumberdaya
manusia, perlatan, dan anggaran dilakukan dengan Organisasi penanganan tanggap
darurat bencana yang dipimpin oleh seorang komandan tanggap darurat bencana dan
dibantu oleh staf komando dan staf umum.
Sebagai
penutup, Bpk.Anas memberikan 10 langkah siaga bencana :
1.
Mengenali lingkungan kita yang kemungkinan terjadinya
bencana.
2.
Mengetahui jenis dan resiko bencana yang dapat terjadi
di lingkungan kita.
3.
Selalu siaga setiap saat saat terhadap kemungkinan
terjadinya bencana.
4.
Mengetahui tempat evakuasi bila terjadi bencana
5.
Merencanakan tindakan yang akan diambil bila terjadi
bencana.
6.
Menempatkan surat dokumen penting dan barang berharga
di tempat yang mudah ditemukan.
7.
Melakukan penyiapan keamanan umum dilingkungan sebelum
dan saat terjadi bencana.
8.
Mengetahui lembaga mana yang menangani bencana.
9.
Menyiapkan sarana, prasarana dan perlatan yang berguna
untuk mitigasi dan penanganan bencana.
10. Mengadakan
pelatihan dan simulasi secara berkala sebelum terjadi bencana.
Pada kegiatan simulasi workshop siaga bencana yang diadakan oleh PPK
Regional dan Dinkes SUMUT
Kegiatan
ini berupa penerapan dari hasil Workshop I s/d Workshop VI. Kegiatan ini
diikuti oleh seluruh delegasi dan HAGANA STIKes Mutiara Indonesia. Bertindak
sebagai pengarah simulasi dari PPK Kemenkes RI dan Dinkes Provsu. Bentuk
simulasinya berupa role play, dimana
delegasi dibagi dalam beberapa kelompok institusi, antara lain BPBD Provsu,
BPBD Mandailing Natal, Dinkes Provsu dan HAGANA STIKes Mutiara Indonesia +
ISMKMI. Kelompok delegasi yang sudah dibagi memainkan perannya sesuai dengan
institusi yang diperankan. Sebelumnya
diberikan kasus berupa kejadian bencana untuk kemudian dibahas penanganan kasus
bencana tersebut oleh masing-masing kelompok sesuai tupoksinya. Evaluator
kegiatan ini adalah Bpk. Otniel Kentaren, M.Si dari STIKes Mutiara Indonesia dan
BNPB.
3.4
H 5-Jumat, 8
Juni 2012
City Tour
Tempat : Taman
Wisata Gundaling, Brastagi.
Pemandian Air Panas, Lau Debuk debuk
Penatapan, Sibolangit
Peserta :
·
22 orang delegasi + panitia
·
Mendampingi dari unsur pendidikan , Mido Ester
Sitorus, SKM , Dame Simarmata dan Surya Anita, SKM.
Deskripsi Kegiatan :
Kegiatan ini berupa
kegitan kunjungan ke tempat- tempat wisata guna memperkenalkan tempat – tempat
wisata Sumatera Utara yang memiliki keindahan dan nilai eksotika yang tinggi.
4.
Penafsiran
Terhadap Kegiatan Perjalanan dan hasilnya
Alhamdulillah, selama rangkaian kegiatan seminar dan Wokshop
siga bencana nasional dan rekomendasi pembentukan Pokja ISMKMI ini terlaksana
dengan cukup baik, dan bermanfaat. Rangkaian ini memberikan pengalaman dan
pengetahuan tentang siaga bencana bagi para delegasi yang tentuya berguna dalam
kesiapsiagaan di daerah masing-masing. Semoga ilmu dan pengetahuan ini dapat
diaplikasikan seoptimal mungkin demi meminimalkan dampak bencana dimana pun terjadi.
Selain itu, kegiatan ini juga menumbuhkan jalinan persaudaraan antara mahasiswa
kesehatan masyarakat se Indonesia. semoga kedepannya persaudaraan ini akan
semakin erat dan diharapkan komunikasi antar mahasiswa kesehatan se Indonesia
tidak terputus begitu saja.
5.
Hal-hal
yang dibutuhkan dalam mengikuti kegiatan
a.
Komunikasi yang baik dengan paitia sebelum
keberangkatan hingga sampai di tempat acara.
b.
Persiapan fisik,mental dan dana yang diperlukan
di Hari H.
6.
Pencapaian
target
a.
Delegasi
FKM Unand mengikuti semua rangkaian acara Seminar dan Workshop siaga bencana
nasional
b.
Menjalin komunikasi yang dengan perwakilan
delegasi Kesehatan Masyarakat lain Se-Indonesia.
c.
Delegasi FKM Unand berperan aktif dalam setiap
rangaian kegiatan workshop siaga bencana nasional.
7.
Kendala
a.
Rapat pembentukan pengurus yang molor sampai
larut malam.
b.
Ada beberapa workhop yang tidak dilaksanakan
karena pemateri tidak hadir.
8.
Saran
dan rekomendasi
a.
Tingkatkan komunikasi dan koordinasi yang baik
antar sesame delegasi dan panitia.
b.
Tingkatkan kedisiplinan mengenai waktu
pelaksanaan kegiatan.
9.
Penutup
Demikianlah laporan
pertanggungjwaban ini kami sampaikan sebagai gambran dari kegiatan workshop
siaga bencana nasional agar dapat dijadikan pedoman dan bahan pertimbangan.
Akhirnya kepada Allah jualah kita berlindung dan memohon ampun, agar senantiasa
diberkahi dalam setiap langkah dan perbuatan yang kita lakukan.amiin…