Selasa, 05 November 2013

GAYA KEPENGIKUTAN



GAYA KEPENGIKUTAN
I.          Pengertian Kepengikutan
Kepengikutan bukan peran yang pasif. sebaliknya, para pengikut yang paling berharga adalah seorang yang terampil, karyawan yang mandiri, orang yang berpartisipasi aktif dalam menetapkan arah kelompok, menginvestasikan waktu dan tenaganya dalam kerja kelompok, berpikir kritis, dan pendukung bagi ide-ide baru (Grossman & Valiga, 2000).
Bayangkan bekerja pada sebuah unit perawatan klien di mana semua anggota staf, dari sekretaris unit sampai ke asisten manajer perawat, rela melakukan tugas ekstra tanpa diminta (spreitzer & quinn, 2001), datang kembali lebih awal dari istirahat minum kopi, melengkapi charting mereka tepat waktu, menyarankan cara untuk meningkatkan perawatan klien, dan bangga dengan perawatan berkualitas tinggi yang mereka berikan

Pemimpin & Pengikut terjadi ketika seseorang  melakukan upaya  untuk mempengaruhi perilaku  orang  lain atau dalam organisasi. (Hersey & Campbell, 2004, hal. 12)
1.      Untuk memimpin, seseorang harus mengembangkan tiga kompetensi penting:
kemampuan dalam mempengaruhi situasi
2.      Perubahan untuk memungkinkan perilaku Anda dan sumber daya lain untuk menutup kesenjangan antara situasi saat ini dan apa yang Anda berharap untuk mencapai, dan
3.      Komunikasi,tidak  peduli berapa banyak Anda mendiagnosa adaptasi, jika Anda tidak bisa berkomunikasi secara efektif, Anda mungkin tidak akan memenuhi tujuan Anda (hersey & campbell, 2004)
Pemimpin perawat yang efektif adalah mereka yang melibatkan orang lain untuk bekerja sama secara efektif dalam mengejar tujuan bersama.



II.                Klasifikasi  Kepengikutan
Menurut Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A, dalam Psikologi Manajemen dan Administrasi (1989 : 169), kepengikutan dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 
1. Kepengikutan Berdasarkan Naluri
Dalam klasifikasi ini, terjadinya kepengikutan pada sejumlah orang disebabkan timbulnya dorongan untuk menaruh kepercayaan kepada seseorang, sehingga mereka bersedia untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu yang dikehendaki orang yang memperoleh kepercayaan itu. Orang yang menerima kepercayaan itu diakui sebagai pemimpin karena dianggapnya mampu melindungi kepentingan atau mewujudkan aspirasi orang-orang yang menaruh kepercayaan tadi.Kepemimpinan dan kepengikutan jenis ini dinamakan kepemimpinan kharismatik (charismatic leadership).
2. Kepengikutan Berdasarkan Tradisi
Kepengikutan ini timbul disebabkan adanya kebiasaan secara turun menurun. Kepengikutan jenis ini terdapat baik dalam masyarakat skala besar seperti negara, maupun dalam skala kecil seperti desa. Dalam kepengikutan jenis ini, orang-orang yang menjadi pengikutnya tidak melakukan penilaian terhadap benar salahnya atau baik buruknya kebijakan yang dijalankan pemimpin.
3.Kepengikutan Berdasarkan Agama
Para pengikut berdasarkan agama acapkali bersifat fanatik, berani mati, karena matinya itu demi Tuhan penguasa dunia akhirat. Khalayak yang menjadi pengikut pimpinannya berdasarkan agama menganggap bahwa pimpinannya itu adalah orang yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya, karena sebagai tokoh agama ia selain menguasai ketentuan-ketentuan agama mengenai apa yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, ia sendiri yang pertama-tama akan mematuhinya.

4. Kepengikutan Berdasarkan Rasio
Kepengikutan ini dapat dijumpai di kalangan orang-orang terpelajar dalam suatu masyarakat. Mereka mengakui seseorang sebagai pimpinannya berdasarkan pertimbangan rasional, berlandaskan penalaran (reasoning).Biasanya, khalayak yang secara rasional mengakui seseorang sebagai pemimpinnya karena orang itu berpendidikan tinggi dan berwawasan luas. Oleh karena itu, khalayak menganggap bahwa prilaku sang pemimpin itu didasari pemikiran yang matang dengan menyadari akibat prilakunya itu, serta mengetahui pula tindakan apa yang dijadikan antisipasi jika kegiatannya itu keliru.
5.    Kepengikutan Berdasarkan PeraturanKepengikutan
berdasarkan peraturan terdapat pada masyarakat modern, dimana orang-orang mengelompokkan diri untuk mencapai suatu tujuan berdasarkan kepentingan yang sama secara bersama-sama. 

III.             Gaya Kepengikutan
           Tidak ada kepemimpinan tanpa pengikut dan pemimpin ada karena adanya pengikut. Sejarah agama menunjukkan bahwa para nabi memulainya dengan hanya mempunyai seorang pengikut. Karena kemampuan mereka meyakinkan anggota masyarakat, pengikutnya makin lama makin banyak. Keberhasilan kepemimpinan dan pemimpinnya sangat ditentukan oleh prilaku, sikap, motivasi, semangat, disiplin kepuasan kerja dan sebagainya darin pengikutnya. Dalam kepemimpinan jumlah pengikut lebih banyak pada dari pada pemimpin walaupun dalam kepemimpinan kolektif. Dalam berinteraksi dengan pemimpinnya, pengikut berperilaku dengan pola tertentu.
Gaya kiepengikutan adalah pola perilaku yang digunakan oleh pengikut dalam interaksi sosial dengan pemimpinnya. Istilah pola perilaku disini dipakai dalam pengertian dinamis, tidak statis. Artinya pengikut dapat merubah pola perilakunya dari satu jenis pola perilaku ke pola perilaku lainnya tergantung situasi yang dihadapinya. Dengan kata lain pengikut dapat menggunakan sejumlah perilaku dalam waktu dan situasi yang berbeda.
      Walaupun pengikut sangat penting dalam kepemimpinan, tidak banyak pakar menaruh perhatianya kepada pengikut seperti perhatian terhadap pemimpin. Oleh karena itu jumlah teori mengenai gaya kepengikutan lebih sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan teorimengenai gaya kepemimpinan. Teori yang berhubungan dengan kepengikutan:
1.      Teori kepengikutan dinamik
Teori Kepengikutan Dinamik atau Followership Dynamics dikemukakan oleh Joseph A.stenger, George E. Manners, Jr dan Thomas W. Zimmerer (2001). Mereka berpendapat bahwa manajer yang sukses selalu mempelajari dan merespon kepada perilaku para pengikut. Peran pemimpin adalah meyakinkan pengikut bahwa jika mereka meningkatkan kinerjanya akan menerima imbalan atau peningkatan sekuriti. Menurut mereka perilakuperilaku pengikut ditentukan oleh 2 dimensi:
a.       Enhancement self (peningkatan diri sendiri)
Yaitu keinginan pengikut untuk berpartisipasi dalam sistem status dan imbalan organisasi. Pengikut ingin lebih banyak tanggung jawab dan risiko. Jadi pengikut ingin bermain “solo” untuk menjadi bintang dalam mendapatkan status dan imbalan untuk diri sendiri.
b.      Protection of self (perlindungan diri)
Yaitu kekhawatiran dari pengikut untuk gagal dan keinginannya untuk melindungi dirinya dari kegagalan. Pengikut juga takut akan konsekuensi sosial dari kegagalan. Contoh dari perilaku menghadapi kegagalan adalah apati, defensif, dan melakukan agresi.
Berdasarkan tinggi rendahnya kedua dimensi tersebut terbentuk 9 gaya kepengikutan seperti berikut:


Tabel 24. Gaya Kepengikutan Follower Dynamics

ENHANCEM ENT

OF
  SELF
PROTECTION OF SELF
High                                       Medium                                            low
High
The Game Player (pemain pertandingan)
·    Mensubsitut status untuk kinerja. Memfokuskan pada isyarat politik. Defensif. Mempergunakan hubungan kekuasaan untuk menolak perubahan
The Achiever (pencapai prestasi)
·    Produktif. Menetapkan tujuan terus-menerus. Memerlukan balikan. Gerakan pasti untuk perubahan.
The Kamikaze (kamikaze)
·    Tingkat energi tinggi. Produktif. Menekankan pada perubahan organisasi. Sering bodoh. Dapat menimbulkan biaya mahal untuk organisasi.
Medium
The Bureucrat (birokrat)
·    Produktif. Senang simbol status akan tetapi mengenal keterbatasan personal. Prngambil resiko rendah.mempertahankan status quo.
The Super Follower (pengikut super)
·    Produktif. Perlindungan diri sedang. Sejumlah gerakan diarahkan untuk perubahan. Pengikut bernilai tertinggi.
The Artist (Artis)
·    Produktif. Sikap positif kearah perubahan. Harus menghitung lever risiko. Sering bekerja untuk kepuasan diri sendiri tapi senang mendapat pujian.
low
The Apatetic (Apatetik)
·    Tidak produktif defensif. Menarik diri. Apatis karena takut.
The Donkey (keledai)
·    Tingkat produktivitas rendah. Tidak punya minat terhadap sistem formal status dan imbalan. Tak ada gerakan kecuali di dorong.
The Devian (penyimpang)
·    Tak mungkin untuk di motivasi. Sikap masa bodoh. Turn-over-rate tinggi. Dapat destruktif.

1)     Gaya kepengikutan pemain pertandingan (The Game player)
Gaya kepengikutan ini ditandai denganpeningkatan diri sendiri tinggi dan perlindungan diri tinggi dari kegagalan. Pengikutnya berupaya meningkatkan simbol status, imbalan dan menghindari kegagalan dan resiko secara terus menerus. Pemain pertandingan sensitif terhadap politik organisasi dan jika berupaya tetapberkuasa sangat bernilai bagi pemimpin. Akan tetapi pengikut jenis ini defensif dan resistan terhadap perubahan. Keadaan ini berbahaya bagi pemimpin karena game player mempergunakan kekuasaan dan simbol-simbol secara efektif untuk mendapatkan dukungan, menolak perubahan dan memperoleh posisi optimal dalam konflik.
Makin lemah pemimpin, makin sukses dan berhasil pengikut jenis ini. Manajer yang baik mungkin tidak menyukai Game Player akan tetapi dapat memanfaatkan dengan memanipulasi simbol status yang diinginkan pengikut ini. Game Player menghindari resiko dengan meramalkan berpihak kepada yang benar terrhadap suatu masalah berdasarkan siapa yang mendukungnya. Para pengikut jenis Game player senang mengitari pemimpin dan memperoleh kekuasaan dari eksekutif yang lebih tinggi. Mereka kemudian melaksanakan tugas dengan ilusi sebagai produser.
Para Game Player mudah diidentifikasi sebab kesenangan akan status. Mereka senang berfoto dengan eksekutif kunci, ruang kerja penuh dengan medali, penghargaan, serrtifikat dan sebagainya untuk menciptakan ilusi yang terus-menerus mengenai kekuasaan dan pengaruh. Game player biasanya mempunyai pendidikan formal untuk memperkuat kredibilitasnya. Pengikut jenis ini mudah dimanajemeni akan tetapi tak pernah loyal.

2)     Gaya kepengikutan pencapaiprestasi (The Achiever)
Para pengikut pencapai prestasi adalah pengikut yang menyenangi simbol-simbol nyata yang mencerminkan kesuksesan dan mengambil resiko, akan tetapi menghindari risiko besar untuk memperoleh kesuksesan. Mereka merupakan orang-orang yang produktif, menentukan tujuan dan menginginkan balikan prestasi tinggi. Mereka orang yang menerima dan ikut serta menciptakan perubahan.
The Achiever ingin mengembangkan hubungan personal dengan pekerjaan dan supervisornya. Mereka mengharapkan pemimpin mengetahui pengetahuan teknikal, bagaimana mencapai hasil dan kemampuan memberikan imbalan, jika tidak pengikut jenis ini akan menurunkan rasa hormat mereka kepada pemimpinnya. Memanajemeni pengikut tipe pencapai prestasi memerlukan kompetensi lebih tinggi dari memanajemenipengikut jenis lainnya. Para pengikut pencapi prestasi memerlukan seorang manajer yang merencanakan ke muka, tegas dan dinamik. Mereka juga memerlukan rencana aktivitas baru, melaksanakan rencana, sukses dan mendapatkan imbalan.
3)      Gaya kepengikutan kamikaze
Pengikut tipe ini merupakan orang yang menginginkan perubahan organisasi apapun risikonya. Akan tetapi Kamikaze merupakan orang yang tidak matang, mempunyai konsep mengembangkan diri sendiri kecil, tidak takut gagal dan mempunyai kebutuhan simbol kesuksesan yang besar. Mereka umumnya pengikut yang produktif dan inovatif.
Walapun merupakan pengikut yang produktif dan inovatif, mereka bukan problem solver yang baik. Mereka melihat problem dan langsung mengambil kesimpulan. Mereka merupakan orang yang sangat antusias terus-menerus akan tetapi sering menimbulkan ketersinggungan bagi orang yang berhubungan bagi mereka. Pemimpin sebaiknya memberikan tugas yang memerlukan penyelesaian cepat dengan imbalan yang nyata. Kamikaze mudah dimanajemeni pada awal pelaksanaan tugas akan tetapi sering menimbulkan ketersinggungan bagi orang yang berhubungan dengan mereka. Karena perilakunya yang beresiko tinggi terhadap organisasinya, pemimpin harus mempunyai rencana dari awal untuk mengeluarkan perilaku kamikaze dari tugas.

4)     Gaya kepemimpinan birokrat
Pengikut jenis birokrat terutama terdapat pada organisasi yang birokrasinya ketat yang menurut Max Weber merupakan aparat yang ideal. Dari sini birokrat merupakan pengikut yang produktif, menginginkan status, memperoleh peningkatan jabatan dan kekuasaan. Sungguhpun demikian mereka memahami keterbatasan perannya. Para birokrat merupakan orang pengambil risiko rendah, bahkan sering tidak mau mengambil risiko. Jika diperlukan adanya perubahan sering menjadi ragu-ragu dan menunda-nunda untuk menghindari kegagalan.
      Dalam organisasi yang pertumbuhanya lambat, birokrat dianggap sebagai pengikut yang sangat baik oleh pemimpin. Tingkat kerjanya tetap, perilaku mereka dapat diramalkan dan dapat dipercaya serta mudah dimanajemeni karenanya dalam kepemimpinan birokratik, pemimpin banyak menciptakan birokrat. Akan tetapi jika lingkungan internal dan eksternal organisasi berubah mereka bereaksi lambat. Jika pemimpin dapat mengarahkan dan melindungi, mereka akan mengikutinya. Para birokrat merupakan administrator yang baik. Mereka mempertahankan sistem birokrasi, tidak mentoleransi ambiguitas dan mempertahankan lingkungan kerjanya.

5)     Gaya kepengikutan super (Super Follower)
Pengikut super merupakan bentuk tertinggi dari kepengikutan. Pengikut jenis ini menginginkan imbalan walaupun tidak sebanyak pencapai prestasi. Ia berupaya mendapatkan posisi dengan risiko sedang dan umumnya sangat produktif dalam posisinya. Ia mempunyai motivasi kerja dan berprestasi tinggi untuk perubahan, ia dapat digerakkan pemimpin disamping dapat bekerja secara mandiri dalam menghadapi situasi baru dan mempunyai komitmen tinggi terhadap organisasi. Ia menyeimbangkan antara apa yang ia berikan kepada organisassi dan apa yang ia peroleh dari organisasi.
Pengikut super mudah dimanajemeni sebab mereka matang, terbuka dan sopan yang tidak ditemukan dalam pengikut Kamikaze atau Pemain Pertandingan. Ia merupakan aset organisasi yang sesungguhnya yang perlu diberi imbalan.

6)     Gaya kepengikutan Artis
Pengikut tipe artis bekerja untuk menghasilkan kinerja dan kepuasan individu secara provesional yang dapat menimbulkan resiko bagi orang lain. Jadi pengikut dengan tipe ini merupaka orang yang produktif, walaupun pemimpin harus sabar memonitornya dalam waktuyang lama. Untuk mengarahkan dan memperkecil risiko. Artis juga seorang yang suka pamer dan menginginkan pengakuan dari organisasi.
Motivasi seorang artis adalah menemukan pekerjaan yang cocok untuk dirinya yang sering berbeda dengan pekerjaan teman sekerjanya. Ia juga mengerjakan pekerjaan dengan caranya sendiri yang sering tidak sesuai dengan prosedur organisasi. Sifat ini sering menimbulkan masalah dalam memanajemeni mereka.

7)     Gaya kepengikutan Apatetik
Ciri khas dari gaya kepemimpinan apaoertik adalah keinginan kecil untuk berpartisipasi dalam sistem formal organisasi tetapi ingin memperoleh imbalan. Jika pengikut tidak mempunyai keinginan seperti itu ditambah kekawatiran kegagalan, mereka akan bersikap dan berprilaku apatis. Mereka berprilaku defensif dan menarik diri. Sifat apatis ini sering disebabkan sejarah organisasi dan pemimpin dalam memeberikan imbalan dan reaksi terhadap kegagalan yang tidak menyenangkan mereka.
Untuk menanggulangi apatisme dari para pengikut apapetik, pemimpin perlu meredesain elemen struktural pekerjaan yang menjadi sumber apatis. Pendekatannya antara lain pemberian tanggungjawab, pelatihan dan perubahan pekerejaan. Ini perlu dilakukan karena pengikut apapetik merupakan kanker dalam organisasi. Mereka sembunyi dalam sistem pekerjaan, dibawah permukaan mereka melawan perubahan yang akan merugikan mereka. Para pengikut apapetik sulit dipimpin tanpa kemungkinan untuk memecat mereka.
8)  Gaya Kepengikutan Keledai.
Perbedaan antara pengikut apapetikdan pengikut keledai adalah jumlah kekuasaan yang dapat diterapkan kepada mereka. Para pengikut tipe keledai merespon terhadap perubahan bukan karena harapan imbalan formal. Pengikut tipe keledai sangat sedikit bergerak, kecuali didorong karenanya produktifitasnya rendah. Pola perilaku pengikut keledai seperti di asumsikan oleh teori X nya McGregor karena itu kepemimpinan yang cocok adalah otoritarian. Produktifitas hanya dihasilkan jika dilakukan ancaman hukuman secara terus-menerus.
Para pengikut keledai tidak menginginkan yang ditawarkan pemimpin, jika mereka menginginkan tidak akan berepengaruh terhadap peningkatan upaya dan kinerjanya. Mereka mengharapkan imbalan untuk upaya mereka tapi tanpa mengkaikan dengan kinerjanya.
9)  Gaya kepengikutan Penyimpang
Para pengikut jenis ini, tidak mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dengan sitem andalan dan tidak takut keliatan gagal dalam organisasi, karenanya mereka merespon bertentangan dengan organisasi. Mereka masa bodoh mengenai apa yang dipikirkan pemimpin dan turnovernya tinggi. Para pengikut ini seperti semut merah, harus dihindari sebelum menggigit. Mereka sulit dirubah karena itu perekrutan dan seleksi karyawan baru harus berupaya menghindari calon karyawan jenis ini. Stager Maner, Jr, dan Zimmerer mengemukakan 4 faktor yang mempengaruhi pemilihan gaya kepengikutan dan intensitasnya oleh para pengikut yaitu:
1)     Sistim simbol status
2)     Imbalan terhadap kenaikan kinerja
3)     Asumsi mengenani tanggungjawab
4)     Respon terhadap kegagalan individual kelompok.
Faktor-faktor tersebut mempengaruhi terbentuknya gaya kepengikutan. Tabel 25 menunjukkan tinggi rendahnya faktor imbalan untuk kenaikan kinerja dalam suatu posisi dan imbalan untuk kenaikan kinerja dalam suatu posisi dan imbalan terhadap posisi terbentuknya gaya kepengikutan.
Tabel 2.5. Jenis Gaya Kepengikutan Muncul karena Distribusi Imbalan Imbalan untuk Kenaikan kerja
Imbalan untuk kenaikan kinerja dalam suatu posisi
 
 

   Tinggi
 
Tinggi
 
Rendah
 
                  
Imbalan untuk posisi
 
Birokrat Pertandingan

Pencapaian prestasi


rendah
 
?

Kamikaze


Tabel 2.6. Jenis Gaya Kepengikutan Muncul karena Reaksi Kegagalan dan Toleransi Ekspresi Diri


Toleransi Ekspresi
 
 
Rendah
 
Tinggi
 
 
Reaksi negatif terhadap kegagalan
 
                    
Birokrat

?

rendah
 
atris

Pengikut Super








Tabel 26 menunjukkan hubungan antara reaksi negatif dengan kegagalan dan toleransi ekspresi terhadap gaya kepemimpinan birokrat, artis dan pengikut super.
Gaya kepengikutan Apapetik, Keledai dan Penyimpang dapat ditempat kan dalam konteks organisasi dengan memahami distribusi kekuasaan.dimensi peningkatan diri rendah dari pengikut dapat diramalkan melalui:
1)     Hubungan rendah antara kinerja dan amalan
2)     Reaksi negatif tinggi terhadap kegagalan oleh organisasi
3)     Toleransi rendah terhadap ekspresi diri oleh organisasi, jumlah kekuasaan yang dapat dilaksanakan oleh organisasi menjadi sangat penting.
Tabel 27 menunjukkan hubungan antara tinggi rendahnya hubungan dalam organisasi dan kekuasaan dalam memberikan imbalan (contervailing) terhadap berkembangnya gaya kepengikutan apetik. Jika terjadi kekuasaan memberikan kompensasi (contervailing power) tinggi pengikut yang memilih gaya kepengikutan apapetik banyak. Sebaliknya jika kekuasaan countevailing  rendah menjadi prediktor munculnya gaya kepengikutan keledai dan penyimpang.
Tabel 27. Jenis Gaya Kepengikutan yang Muncul karena Distribusu Kekuasaan.
Rendah
 
                     
Tinggi
 

Imbalan untuk posisi
 
Birokrat Pertandingan

Pencapaian prestasi


rendah
 
?

Kamikaze



Strager, Manners Jr. dan Zimmerer berpendapat bahwa gaya kepengikutan dapat menjadi hambatan perubahaan organisasi. Dengan memahami kecendrungan prilaku para pengikutnya, pemimpi dapt menyusun strstegi perubahan menurut mereka ada 3 pendekatan untuk perubahan organisasi:
1)     Pendekatan kekuasaan langsung
2)     Pendekatan perkembangan suportif
3)     Pendekatan manipulatif berliku.
Ketiga pendekatan tersebut merupakan strategi yang paling tepat untuk melakukan perubahan tergantung pada besarnya perubahan dan target jenis kepengikutan para pengikut. Tabel 28 mengemukakan pola dasar pendekatan perubahan yang cocok untuk setiap jenis gaya kepengikutan.
Karana pengikut super, pencapai prestasi, kamikaze dan artist mau mengambil risiko dan ingin peningkatan prestasi maka strategi dukungan dan developmental lebih cocok. Birokrat juga mendapat dukungan dan penjelasan dan pengembangan walaupun pemimpin agak menyembunyikaN fakta perubahan. Makin besar proteksi diri dari pemain pertandingan makin besar keperluan untuk pendekatan manipulatif.
Tabel 28. Pendekatan perubahan terhadap gaya kepengikutan

2. Teori Kepengikutan Robert Kelley
Robert Kelley (1992) dalam bukunya berjudul The Power Of Followership mengemukakan teorinya mengenai gaya kepengikutan berdasarkan 2 dimensi:
1.      Dimensi Derajat Berpikir Kritis atau Independent Critical Thingking (as vertikal) dengan skala dari 0 sampai 60. Yaitu dimensi yang merupakan kontinum dari berfikir kritis independen (independent, critical thingking) sampai dengan berfikir tidak kritis tergantung (dependent, uncritical thingking). Pada ujung yang satu terdapat pengikut yang terbaik dalam dimensi ini adalah individu yang berfikir untuk diri sendiri, memberikan kritik yang konstruktif, kreatif dan inovatif. Pada ujung yang lain pengikut yang terburuk adalah pengikut yang harus diberitahu apa yang harus dilakukan, tidak dapat kekamar mandi dan pengikut yang tidak berfikir. Diantara kedua ujung itu terdapat pengikut yang memerlukan pengarahan dan tidak menentang pemimpin.
2.      Dimensi derajat keaktifan pengikut dalam bekerja atau degree of active engagement in work (as horizontal dengan skala dari 0 sampai 60). Dimensi ini merupakan kontinum dari aktif sampai ke pasif. Menurut Kelley pengikut yang baik adalah pengikut yang mengambil inisiatif, mengasumsikan memilki organisasi, berpartisipasi aktif, pemulla sendiri dan bekerja melebihi target yang ditetapkan. Pada ujung yang lain adalah pengikut yang paling buruk yaitu pengikut yang pasif, malas, memerlukan dorongan, memerlukan supervisi yang terus-menerus dan menghindari tanggungjawab. Ditengah-tengah adalah pengikut yang menyelesaikan pekerjaannya tanpa supervisi setelah diberi tahu apa yang harus dikerjakannya.
Berdasarkan ke dua dimensi tersebut kelley menggolongkan pengikut menjadi 5 jenis yaitu:
1.      Allienated Followers (pengikut terasing)
Ciri utama jenis pengikut terasing adalah berfikir kritisnya tinggi sedangkan derajat keikutsertaaanya dalam pekerjaan rendah. Ia seorang yang pasif dalam bertindak tapi sangat kritis terhadap organisasi dan pemimpin. Pengikut jenis ini adalah pengikut yang menambah luka bagi organisasi, iritan konstan yang menunjukkan aspek negatif (tak pernah menunjukkan aspek positif) terhadap tujuan, kebijakan dan prosedur kerja organisasi.
Menurut kelley pengikut jenis ini jumlahnya 15 sampai 25 persen dlam organisasi. Merek merupakan pengikut yang mampu melksanakan tugas akan tetapi sinis dan menambah upaya mereka. Citra dirinya berbeda jelas dengan persepsi pemimpin mengenai citra diri mereka. Para alienated follower sering melukiskan diri mereka sebagai orang netral (marverik) yang berfikir untuk diri sendiri, mempunyai suatu skeptisme sehat dan sering mengnggap dirinya sebagai suara hati organisasi. Pemimpin sering menganggap pengikut jenis ini sebagai biang kerok, sinis, negatif dan kurang pertimbangan. Kelley yakin allienated follower berasal dari exemplary  follower  (pengikut yang patut di contoh) yang mengeluh karena kemunduran atau hambatan. Pengikut ini dapat kembali menjadi  exemplary  follower  jika mereka dapat mengurangi tingkat kenegatifannya melalui belajar sendiri dan problem solving konstruktif.
2.      Exemplarry Follower (pengikut patutu di contoh)
Para pengikut patutudi contoh menunjukkan prilaku kepada pemimpin dan teman kerjanya sebagai orang yang indenpenden, inovatif, kreatif, konsisiten dan mau membela pemimpin. Ia menerapkan bakatnya untuk kepentingan organisasi bahkan ketika mereka terbentur pada hambatan birokratik, teman kerja passif atau situasi pragmatik. Pemimpin yang efektif sangat menghargai pengikut seperti ini. Ia dapat bekerjasama dengan pemimpin dan rekan kerjanya.
Exemplarry Follower  berfikir kritis dan aktif dan untuk menciptakan pengikut jenis ini kelley menyarankan pemimpin untuk memilih karakteristik jenis pemimpin seperti inidan menciptakan kondisi yang menimbulkan dan mengembangkan jenis prilaku seperti ini.
Pemikir kritis indenpenden
Gambar 33. Jenis Pengikut Menurut Kelley (1992)
3.      Pragmatist Follower ( pengikut pragmatis)
Seorang pengikut pragmatis tingkat berfikir kritiknya dan sifat sedang dan menurut kelley jumlahnya 25-35 persen dari seluruh pengikut. Ia jarang setia terhadap tujuan organisasi tapi tak pernah berusaha untuk merubahnya. Ia meletakkan segala sesuatu dalam perspektif dan tahu bagaimana menyelesaikan pekerjaan serta mampu menjga organisasi tetap nerjalan sesuaia arahnya dengan menggunakana aturan main. Akan tetapi dalam waktu bersamaan ia akan bermain politik melakukan tawar-menawar untuk keuntungan dirinya sendiri. Kerena tidak senang mengaitkan dirinya secera keseluruhan pada organisasi, maka kinerjanya sedang-sedang saja.
4.      Passive Follower (pengikut pasif)
Pengikut pasif derajat berfikirnya rendah dan dan keikutsertaan dalm pekerjaan pasif dan jumlahnya 5 sampai 10 persen dari semua pengikut. Ia tergantung pada pemimpin ntuk melaksanakan tugasnya yang ia lakukan tanpa antusias. Ia tidak punya inisiatif dan tanggung jawab dan selalu diarahkan serta tidak melakukan pekerjaannya melebihi yang telah ditetapkan.
Para pemimpin memandang pengikut pasif merupakan hasil personalitas pengikut bukan akibat perannya dalam organisasi, mereka menganggap pengikut ini malas, tak kompoten, tak termotivasi bahkan bodoh.
5.      Confromist Follower (pengikut konformis)
Pengikut konformis berfikir tidak kritis tapi ikut sertanya dalam pekerjaan sangat aktif. Ia mempunyai karakteristik Exemplarry Follower yaitu aktif melaksanakan tugas dan dan karakteristik Pasive Follower yaitu berfikir tidak kritis. Jumlahnya 20 sampai 30 persen dari jumlah pekerja. Ia melaksanakan tugas tanpa kritik dan aktif melaksanakannya. Oleh karena itu sering disebut yes men  atau dalam bahasa jawa Pejah Gesang Ndrek.
3. Teori Kisi-Kisi Pengikut
Teori Leadership Grid yang dikemukakan oleh Robert R. Blake dan Anne Adams McCanse (1991) juga mengemukakan teori kepengikutan yang disebut sebagai The subordinate gird atau  Teori Kisi-Kisi Pengikut. Teori ini paralel dengan teori Leadership Grid dan didasrka pada 2 dimensi :
1)     Concern for the boss atau memeperhatika atasan
Yaitu dimensi yang  melukiskan tinggi-rendahnya (minimal 1 dan maksimal 9) prilaku pengikut ingin menyenangkan pemimpin atau menejernya.
2)     Concern for accomplishing the Task atau memeperhatikan menyelesaikan tugas
Yaitu dimensi as horizontal yang melikisnkan tinggi-rendahnya (minimal 1 dan maksimal 9) pengikut ingin menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Berdasarkan kedua faktor tersebut The Subbordinate Girdmengemukakan 5 gaya kepengikutan utama yaitu:
a)     Gaya Pengikut Picik (Closed-Mided Subbordinate) atau The 9,1- Oriented Subordinate. Perhatian umum gaya kepengikutan ini adalah menyelesaikan tugas tunggi dan perhatian terhadap pemimpinnya dan teman kerja minimal. Jika terjadi interaksi dengan atasnnya pengikut cendrung untuk menggurui atasannya mengenai bagaimana bekerja. Jika terjadi perbedaan maka ia cendrung mengabaikan pendapat orang lain dan bersikukuh dengan pendapatnya sendiri dan ia terus sibuk melaksanakan tugasnya. Ia tidak memberikan kesempatan oarang lain mendahuluinya.
b)     Gaya Kepengikutan Ingin Menyenangkan (Eager To Plese Subordinate) atau 1,9 Oriented subordinate. Pengikut yang mempunyai gaya ini mempunyai perhatian terhadap perhatian terhadap pekerjaan rendah dan perhatian untuk menyenangkan pemimpinnya. Jika gaya kepemimpinannya Country Club management, dapat dipastikan produktifitas organisasi rendah. Pengikut jenis ini ingin mempertahankan iklim hubungan baik dengan pemimpinnya maupun dengan teman kerjanya. Ia mempunyai kecendrungan untuk tidak dapat mengatakan tidak terhadap permintaan orang lain. Jika terjadi perbedaan pendapat pengikut jenis ini cendrung untuk mundur dari posisinya. Jika terjadi konflik takut hubungan baiknya terganggu dan penolakan lawan konflik ia cendrung menarik diri.
c)      Gaya Kepengikutan Paternalistik (paternalistik subordiante) atau 9+9 subordinate. Jika pengikut mempunyai gaya kepengikutan seperti ini maka ia mempunyai sifat ingin mengontrol dan tidak ingin dikontrol.  Sungguhpun demikian posisinya sebagai bawahan tidak dapat mementang pemimpinnya. Hubungannya dengan atasan dapt dilakukan dengan dua cara yaitu:
a.       Meneyetujui apa yang dikatan atasan. Dengan cara ini pengikut memposisikan diri sebagai sisitem pemimpin atau tangan kanan dengan sposisi ini ia dapat mengontrol teman sekerjanya atau mejadi team leader.
b.      Jika tidak dapat dengan apa yang dikemukakan pemimpin pengikut mungkin akan menunda-nunda atrau mengulur-ngulur waktu. Dalam waktu yang bersamaan ia akan mencari strategi atau taktik untuk merubah pemimpinnya.
d)     Gaya Kepengikutan Masabodoh (Could’t- care subordinate) atau the 1,1 Oriented Subordinate. Gaya kepengikutan ini ditandai dengan perhatian rendah terhdap atasan dan perhatian rendah terhadap pekerjaan. Pengikut menyandarkan diri kepada orang lain untuk melaksanakan pekerjaan. Ia mencari jalan sekecilpun untuk bertentangan dengan orang lain dan menghindari pertentangan. Ia mematuhi instruksi atasannya dengan sepenuhnya tanpa menilai dan menafsirkannya. Pengikut hanya meras sekedar menjalankan tugas dan tanggung jawab berad di tangan atasannya.
e)     Gaya Kepengikutan Sadar Status (Status-Concious Subordinate) atau The 5,5 Oriented Subordinate. Ciri utama dari kepengikutan ini adalah perhatian terhadp bos dan terhadap sedang. Pengikut dengan gaya ini diperlakukan dengan sopan dan dengan cara give and take. Ia beroperasi menurut apa yang pernah ia lakkan dan menurut protokoler. Jika atasannya mengemukakan cara untuk melakukan tugas, maka ia mengganggap atasannya sebagai orang yang hirarkinya lebih tinggi dan lebih benar dan harus diikuti apa adanya. Jika ia diperintahkan untuk melaksanakan sesuatu yang baru yang ia belum mempunyai pengalaman dan prosedur yang tidak ada maka ia akan bergantung pada bosnya. Ia takut gagal, takut mengambil resiko yang asalah. Dalam menghadapi konflik ia berusaha memperoleh solusi win and win  atau menggunakan gaya manajemen konflik konpromi.
f)       Gaya Kepengikutan Oportunistik (The Opportunistic Subordinate)Inti dari gaya kepengikutan oppurtunistik adalah mengutamakan interes pribadi baik secara terang-terangan maupun secara terselubung. Pengikut dengan gaya ini ingin mencapai apa ia inginkan tanpa tanpa mengancam atasan dan teman kerjanya. Dia menghindari terjadi friksi dengan atasannya dan menjadi target antoginistik teman sekerjanya. Pengikut menganngap bos adlah bantu loncatan ke atas, karenanya kemungkinan besar pengikut akan bersikap menjilat atasan.
g)     Gaya Kepengikutan Pencari Solusi (Solution-Seeking Subordinate) atau The 9,9- Oriented Subordinate. Gaya kepengikutan tipe ini ditandai dengan tingginya memperhatikan atasan dan menyelesaikan tugas. Jika pengikut tidak sejalan dengan atasan, pengikut berusaha mendiskusuikan pokok masalah dalam problem solving. Pengikut tidak mau pembatasan atau menerima pendapt dari orang lain tanpa adanya fakta pendukung. Ia tidak dapat menerima prilaku atsan dan teman sekerjanya yang tidak efektif. Blake dan McCanse lebih lanjut melukiskan pengikut sebagai berikut:
“ thought it is necessary  to work to some degree wthin the confines protocol (you can’t fire your boss),the 9,9-Oriented subordinate persist is establishing a problem-solving atmosphere characterized by open inquiry and critique, confrontation of conflict, active advocacy based on sound convictions, the persuit of shared goals and objebtives, and decisions Making aimed at finding the sound solutions of problems”
Menurut Blake dan McCanse orang yang mempunyai kecendrungan untuk mempergunakan salah stu dari 7 gaya kepengikutan tersebut atau gaya gird dominan (dominant grid style). Akan tetapi tidak secara terus-menerus menggunakan gaya yang sama. Ia dapat menggunakan gaya cadangan atau back up grid styles jika gaya dominan tidak berhasil. Ada beberapa faktor yang menentukan pemilihan gaya dominan grid.
a.       Budaya Organisasi.
Budaya organisasi mempengaruhi hubungan antara anggota organisasi. Slah satu diantaranya adalah asumsi dan prilaku kepemimpinan dan kepengikutan. Misalnya, dalam organisasi yang ketat peraturan tidak memungkinkan orang menggunakan gaya grid dominan sehingga orang merubah gayanya kepada gaya yang diperbolehkan.
b.      Nilai-nilai.
Asumsi seorang konsisiten dengan nilai-nilainya, kepercayaan dan ide yang berhubungan dengan memperlakukan orang lain untuk  mencapai tujuan. Setiap gaya grid mencerminkan gaya-gaya tertentu. Misalnya gaya grid 9,1 mencerminkan nilai-nilai hasil sedangkan nilai grid 9,9 menghargai hasil melalui motivasi dan memenuhi harapan orang lain.
c.       Sejarah pribadi.
Oarang mempunyai kecendrungan gaya grid tertentu karena pengalaman keberhasilan melaksanakan grid tersebut secara berulang-ulang.
d.      Tidak ada kesadaran pilihan.
Prilaku orang diarahkan oleh asumsinya yang diadopsi semenjak awal kehidupannya tanpa memahami konsekuensi prilaku tersebut. Dengan demikian sistem keppercayaan orang yang menentukan bahwa pilihan suatu gaya grid adalah pilihan yang benar. Sampai menemukan asumsi baru prilaku orang yang cendrung sama.

IV.        Penelitian Gaya Kepemimpinan dan Gaya Kepengikutan
4.1      Penelitian gaya kepemimpinan

Penelitian mengenai gaya kepemimpinan merupakan penelitian yang paling banyak dilakukan oleh pakar-pakar semenjak awal berkembangnyailmu kepemimpinan. Para pakar dari universitas-universitas di Amerika Serikat seperti Ohio University dan Michigan university merupakan pendahulu dari penelitian ini.

Penelitian mengenai gaya kepemimpinan dilakukan dengan 3 tujuan:
(1)  Menciptakan teori baru, memperkuat teori yang sudah ada atau melemahkan teori yang ada. Jenis penelitian ini merupakan penelitian dasar (basic research).
(2)  Memecahkan masalah kepemimpinan dalam organisasi. Misalnya, dalam suatu organisasi terjadi “turn over” yang tinggi di kalangan manajer lini pertama dan manajer tengah. Sebagian dari mereka merupakan manajer yang telah menunjukkan prestasi tinggi. Mereka meninggalkan organisasi karena tidak senang dengan gaya kepemimpinan manajer puncak. Untuk memecahkan masalah ini dilakukan penlitian terapan (applied research).
(3)  Penelitian juga dilakukan dalam pengembangan sumber daya manusia. Misalnya, sebelum dilakukan pelatihan dilakukan penelitian mengenai kepemimpinan pra manajer. Hasilnya dipergunakan untuk menyusun kurikulum program pelatihan.
Penelitian mengenai gaya kepemimpinan dapat dilakukan secara kuantitatif dan secara kualitatif. Yang paling banyak dilakukan adalah penelitian kuantitatif karena jenis penelitian ini dapat dilakukan dengan cara cepat, mudah, dan murah.di samping itu peneliti dapat menggunakan berbagai instrumen yang memungkinkan peneliti dapat menjaring data daru responden yang berada di tempat jauh dan tidak mungkin terjangkau secara fisik. Penelitian kualitatif dapat menjaring data sangat rinci mengenai obyek penelitian yang sempit. Dalam penelitian peneliti perlu melakukan kontak langsung dengan obyek penelitian. Peneliti juga dapat dengan menggunakan metode kuantitatif dan metode kualititif.
Penelitian korelasional merupakan jenis penelitian yang banyak dilakukan dalam bidang kepemimpinan. Dalam penelitian gaya kepemimpinan dapat menjadi variabel independen (x1) dengan variabel-variabel independen lainnya (x2, x3, xn) dan variabel dependen (y). Misalnya, peneliti mencari korelasi antara gaya kepemimpinan manajer dengan lini pertama (x1) dan kompensasi yang diterima karyawan (x2) dengan variabel dependennya (y) kecenderungan untuk mogok pabrik tekstil. Dalam disain ini misalnya dipergunakan Teori Gaya Kepemimpinan.


 




      Gambar konstelasi penelitian
Penelitian gaya kepemimpinan dapat mempergunakan disain analisis multivariate. Alexander Ardichvili (2001) misalnya mempergunakan disain penelitian ini ketika membandingkan gaya wirausaha dan manajer Rusia setelah jatuhnya Rezim Komunis. Ia mendefinisikan gaya kepemimpinan sbb:
(1)  Kepemimpinan Transformasional (TF)
(2)  Laissez-Faire (LFL)
(3)  Contigent Reward (CR)
(4)  Management by Exception (ME)
Ia mengajukan 6 buah hipotesa sbb:
(1)  Para wirausaha menggunakan kepemimpinan transformasional lebih tinggi daripada para manajer.
(2)  Para manajer menggunakan dua gaya kepemimpinan transaksional --- imbalan kontijen dan manajemen berdasarkan pengecualian --- dari pada para wirausaha.
(3)  Para wirausaha menggunakan level lebih rendah gaya kepemimpinan laisez-faire daripada para manajer.
(4)  Baik perilaku kepemimpinan laisssez-faire para manajer dan para wirausaha secara negatif berhubungan dengan evaluasi diri subyektif dari kinerja kepemimpinan mereka.
(5)  Baik kepemimpinan transaksional imbalan kontinjen secara positif berhubungan dan manajemen berdasarkan pengecualian berhubungan secara negatif dengan evaluasi diri subyektif kinerja kepemimpinan mereka.
(6)  Perilaku kepemimpinan transformasional para manajer dan para wirausaha secara positif berhubungan dengan evaluasi diri mereka terhadap kinerja kepemimpinannya.

Sampel dari penelitian ini adalah seperti dilukiskan tabel 30:
Tabel 30. Sampel penelitian (N=288)
Demografi
Wirausaha (138)
Manajer (150)
% laki-laki
59
67
% perempuan
41
33
Pendidikan
95 % atau lebih tinggi
88 % atau lebih tinggi
Rerata umur
35
41

Temuannya adalah sbb:
(1)  Analisis varians dengan kontrol untuk umur dan jenis kelamin dilakukan untuk menentukan apakah para wirausaha dan manajer berbeda mengenai gaya kepemimpinan mereka dan persepsi subyektif mengenai keluaran kepemimpinan mereka. Perbedaan signifikan terjadi pada keempat gaya kepemimpinan seperti dilukiskan Tabel 31.
     
Tabel 31. Analisis Varians Untuk Mentes Perbedaan Gaya Kepemimpinan Wirausaha dan Manajer
Gaya kepemimpinan
Wirausaha (N=138)
Manajer (N=150)
F (3.288)
Sig
Omega Kuadrat
Kepemimpinan Transformasional
3,1
2,5
24,971
0,001
0,261
Laissez-Faire
1,3
1,6
4,995
0,001
0,060
Imbalan Kontijensi
3,2
3,0
5,676
0,001
0,074
Imbalan berdasarkan Perkecualian
2,3
2,2
4,267
0,001
0,057

Hipotetis 1 diterima wirausaha secara signifikan (pada level 0,001) mempunyai perilaku kepemimipinan transformasional lebih tinggi daripada manajer. Hipotesis 2 ditolak. Wirausaha mempunyai lebih tinggi imbalan kontijensi jika dibandingkan dengan manajer. Di samping itu perbedaan dalam level manajemen berdasarkan pengecualian antara kedua kelompok secara statistik tidak signifikan. Hipotesis 3 diterima: wirausaha secara signifikan (pada level 0,001) mempunyai level lebih rendah LFL daripada manajer (1,3 vs 1,6).
(2) Untuk mentes hipotesis 4,5, dan 6 korelasi parsial dilakukan untuk TF, CR, ME, LFL dan SAT (satisfaction = kepuasan). Hasilnya dilukiskan pada Tabel 3.2.


Tabel 32. Koofesien Parsial Gaya Kepemimpinan Manajer
(Mengontrol Kelamin dan Umur)

TF
LFL
CR
ME
SAT
TF
1,0000
-0,6107
0,6200
0,3262
0,7309
LFL
-0,6107
1,0000
-0,4136
-0,0109
-0,5146
CR
0,6200
-0,4136
1,0000
0,2694
0,4881
ME
0,3262
-0,0109
0,2694
1,0000
0,2310
SAT
0,7309
-0,5146
0,4881
0,2310
1,0000

Untuk mengetes hipotesi 4,5, dan 6 lebih lanjut dilakukan analisis stepwise multiple. Hasilnya seperti Tabel 33.

Tabel 33. Koefisien Korelasi Parsial: Wirausaha (Mengontrol Kelamin dan Umur)

TF
LFL
CR
ME
SAT
TF
1,0000
-0,6107
0,6200
0,3262
0,7309
LFL
-0,6107
1,0000
-0,4136
-0,0109
-0,5146
CR
0,6200
-0,4136
1,0000
0,2694
0,4881
ME
0,3262
-0,0109
0,2694
1,0000
0,2310
SAT
0,7309
-0,5146
0,4881
0,2310
1,0000

Penelitian mengenai gaya kepemimpinan juga dapat mempergunakan disain eksperimen. Misalnya, penelitian untuk mengetahui perbedaan hasil belajar Bahasa Inggris murid Sekolah Menengah Umum jika guru mempergunakan gaya kepemimpinan peternalistik dan gaya kepemimpinan otokratik dalam mengajar Bahasa Inggris. Untuk ini dibentuk dua kelompok murid yang dipilih secara random dari peopulasi. Kelompok pertama mendapat perlakuan guru mengajar dengan gaya kepemimpinan paternalistik sedangkan kelompok kedua mendapat perlakuan guru mengajar dengan gaya kepemimpinan otokratik. Disain penelitiannya dilukiskan pada gambar 38. Sebelum dilakukan Perlakuan dilakukan Pretes kemampuan berbahasa Inggris siswa. Setelah perlakuan, kemudian dilakukan Protes. Protes 1 kemudian dibandingkan dengan Protes 2.






Text Box: Guru mengajar dengan gaya Paternalistik


 
      Pretes 1                                Postes 1







Text Box: Guru mengajar dengan gaya Otokratik

 



      Pretes 2                                postes 2
     
4.2   Penelitian Gaya Kepengikutan

Jika dibandingkan dengan gaya kepemimpinan, gaya kepengikutan lebih sedikit mendapat perhatian para peneliti. Penulusaran artikel saintifik dengan mempergunakan Infotrac Business antara tahun 1977-2002 hanya menghasilkan kurang dari 100 artikel mengenai kepengikutan. Ini berarti merupakan lahan penelitian yang perlu dikembangkan.
Pola penelitian kepengikutan sama dengan pola penelitian gaya kepemimpinan, penelitian kekuasaan dsb. Peneliti dapat melakukan pendekatan kuantitatif, kualitatif, atau pendekatan eksperimen. Akan tetapi yang paling banyak dilakukan adalah pendekatan kuantitatif. Sebagian dari penelitian kepengikutan dalam kaitannya denganpenelitian gaya kepemimpinan.
Jerry C. Wofford, J. Lee Whittington dan Vicki L. Goodwin (2001) melakukan penelitian mengenai pola motif pengikut sebagai moderator situasional untuk keefektifan kepemimpinan transformasional. Penelitian ini diajukan untuk meneliti : (1) Apakah pola motif pengikut mempengaruhi keefektifan kepemimpinan transformasional? (2) Apakah kepemimpinan transformasional lebih tepat dipandang dari anaslisis lebih individual atau dari analisi multilevel?
Saratus tiga manajer lembaga layanan teknollogi dan dua bawahan masing-masing manajer diminta untuk mengisi set quesioner yang berbeda-beda secara konfidensial. Hasilnya adalah sbb:
(1)  Pemimpin transformasional lebih efektif dalam satu lingkungan dari pada lingkungan lainnya. Lebih khusus pola motif para pengikut mempengaruhi hasil kepemimpinan transformasional. Sejumlah pengikut lebih mudah terpengaruh dari upaya pemimpin transformasional dari pada para pengikut lainnya. Pengikut dengan kebutuhan tinggi menilai kepemimpinan transformasional lebih efektif dengan kepuasan lebih tinggi.
(2)  Kepemimpinan transformasional dapat dipandang dalam pengertian analisis individual maupun analisi multilevel. Satu set perilaku kepemimpinan transformasional meliputi perilaku yang konsisten terhadap semua anggota kelompok. Sungguhpun demikian beberapa perilaku kepemimpinan transformasional lebih banyak dipergunakan untuk sejumlah kelompok dari pada kelompok lainnya.

Penelitian hubungan antara kepemimpinan transformasional dan para pengikutnya dengan disain eksperimen dilakukan oleh Taly Dvir, Dov Eden, Bruce J. Avolio dan Boas Shamir (2002). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap perkembangan dan kinerja para pengikutnya. Kelompok pemimpin eksperimen menerima pelatihan kepemimpinan transformasional dan kelompok pemimpin kontrol menerima pelatihan bukan kepemimpinan transformasional. Sampel penelitian terdiri dari 54 pemimpin militer, 90 pengikut langsung mereka dan 724 para pengikut mereka tidak langsung. Hasilnya menunjukkan bahwa [ara pemimpin dan dalam kelompok eksperimen mempunyai lebih besar pengaruh positif terhadap perkembangan para pengikut langsung dan kinerja dari pada para pemimpin dalam kelompok kontrol.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar