TRANSISI EPIDEMIOLOGI
Definisi Transisi Epidemiologi
Transisi
epidemiologi adalah perubahan
distribusi dan faktor-faktor penyebab terkait yang melahirkan masalah epidemiologi yang baru.
Keadaan transisi
epidemiologi ini ditandai dengan perubahan pola frekuensi penyakit.Transisiepidemiologi
bermula dari suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatandan pola
penyakit utama penyebab kematian dimana terjadi penurunan prevalensipenyakit
infeksi (penyakit menular), sedangkan penyakit non infeksi (penyakit
tidakmenular) justru semakin meningkat. Hal ini terjadi seiring dengan
berubahnya gayahidup, sosial ekonomi dan meningkatnya umur harapan hidup yang
berartimeningkatnya pola risiko timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit
jantungkoroner, diabetes melitus, hipertensi, dan lain sebagainya.
Sejarah Transisi Epidemiologi
Teori
transisi epidemiologi sendiri pertama kali dikeluarkan oleh seorang pakar
Demografi Abdoel Omran pada tahun 1971. Pada saat itu ia mengamati
perkembangan kesehatan di negara industri sejak abad 18. Dia kemudian
menuliskan sebuah teori bahwa ada 3 fase transisi epidemiologis yaitu :
1)The
age of pestilence and famine, yang ditandai dengan tingginya mortalitas
2)The age of receding pandemics,
era di mana angka harapan hidup mulai meningkat antara 30-50 dan
3)The
age of degenerative and man-made disease, fase dimana penyakit infeksi
mulai turun namun penyakit degeneratif mulai meningkat. gambaran itu memang
untuk negara Barat.Teori ini kemudian banyak di kritik. Kritikan dari beberapa
tokoh seperti Rogers dan Hackenberg (1987) dan Olshansky and Ault(1986)
membuat Omran melakukan sedikit revisi.
Bagi
negara Barat, ketiga model tersebut ditambah 2 lagi yaitu:
4)The
age of declining CVD mortality, ageing, lifestyle modification, emerging and
resurgent diseases ditandai dengan angka harapan hidup mencapai 80-85,
angka fertilitas sangat rendah, serta penyakit kardiovakular dan kanker, serta
5)The
age of aspired quality of life with paradoxical longevity and persistent
inequalities yang menggambarkan harapan masa depan, dengan angka harapan
hidup mencapai 90 tahun tetapi dengan karakteristik kronik morbiditas, sehingga
mendorong upaya peningkatan quality of life.
Selain
itu, Omran juga membuat revisi model transisi epidemiologis untuk negara
berkembang dengan mengganti fase ketiganya menjadi “The age of triple health burden” yang ditandai dengan 3 hal
yaitu:
a) Masalah
kesehatan klasik yang belum terselesaikan (infeksi penyakit menular),
b) Munculnya problem kesehatan baru dan
c) Pelayanan kesehatan yang tertinggal (Lagging), Namun
ketika itu dikaitkan dengan jenis penyakit beberapa pakar menggati beban ketiga
itu dengan “New Emerging Infectious Disease” Penyakit menular baru/penyakit
lama muncul kembali
TRANSISI
EPIDEMIOLOGI GIZI
Kesehatan adalah kebutuhan dasar setiap
manusia. Untuk memperoleh tubuh yang sehat diperlukan makanan yang sehat dan
bergizi. Makanan sehat dan bergizi akan memberikan zat gizi yang dibutuhkan
tubuh untuk menjalankan fungsi tubuh dengan normal. Pemilihan bahan makanan dan
makanan yang tidak baik mengakibatkan tubuh kekurangan zat-zat gizi esensial
tertentu. Pemenuhan kebutuhan gizi dalam tubuh ini akan memberikan status gizi
seseorang yaitu gizi baik/optimal, gizi kurang dan gizi lebih (arali, 2008).
Menurut Mariani (2011), Gizi
baik/optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat gizi dan digunakan secara
efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan
untuk bekerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Sedangkan
gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat gizi
esensial, hal ini dapat menyebabkan menurunnya pertahanan tubuh terhadap
penyakit infeski seperti diare. Sebaliknya gizi lebih terjadi bila tubuh
memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan sehingga menimbulkan efek
toksis atau dapat membahayakan kesehatan. Gizi lebih menyebabkan kegemukan atau
obesitas. Kelebihan energy yang dikonsumsi disimpan dalam jaringan dalam bentuk
lemak. Kegemukan merupakan satu factor resiko terjadinya berbagai penyakit
degenerative seperti hipertensi, DM, jantng koroner, penyakit hati dan kantong
empedu.
Di Indonesia terdapat dua
masalah gizi yang umumnya terjadi dimasyarakat yaitu masih banyaknya masyarakat
yang mengalami gizi kurang dan terjadinya peningkatan masyarakat dengan gizi
lebih. Gaya hidup masyarakat yang berubah membuat permasalahan gizi mengalami
perubahan baik dari segi bentuknya maupun akibat penyakit yang akan
ditimbulkan. Transisi epidemiologi gizi ini membuat beberapa masyarakat
mengalami gizi lebih (over nutrition).
Kasus kecukupan gizi bagi
anak-anak masih saja menjadi persoalan khususnya di Propinsi Sumatera Utara
(Propsu). Buktinya selama kurun waktu tahun 2011, sebanyak 375 kasus gizi buruk
masih terjadi. Dijelaskannya, kasus gizi buruk yang tertinggi berada di Nias
yaitu di Nias Barat ada 5 orang, Gunung Sitoli 6 orang, Nisel 10 orang dan Nias
Utara 6 orang (medanbisnis, 2012).
Disamping
itu, jumlah orang yang mengalami gizi lebih juga semakin meningkat. Hal ini
dapat dilihat dari jumlah kasus penyakit degenerative. Penyakit degenerative
adalah istilah medis untuk menjelaskan suatu penyakit yang muncul akibat proses
kemunduran fungsi sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk.
Penyakit yang masuk dalam kelompok ini antara lain diabetes melitus, stroke,
jantung koroner, kardiovaskular, obesitas, dislipidemia dan sebagainya.
World Health Organization (WHO) menyatakan akan ada satu miliar orang di dunia,
khususnya di wilayah perkotaan yang di bayangi akan menderita obesitas atau
kegemukan. Jumlah ini juga di prediksi oleh WHO tetap akan meningkat pada 2015
mendatang dengan jumlah penderita obesitas sebanyak 1,5 miliar orang. Hal ini
di anggap wajar terjadi, pasalnya masyarakat perkotaan yang hidup di bawah tuntutan
ekonomi di paksa melupakan gaya hidup yang sehat.
Kepadatan rutinitas merupakan satu faktor utama
pergeseran masyarakat untuk berolah raga dan makan makanan yang sehat (Pusat
Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan, 2009). Menurut WHO, penyakit degenerative
menjadi pembunuh manusia terbesar. Angka kematian tertinggi ada di
negara-negara dengan pendapatan nasional rendah ataupun tinggi.
SURVEILANS
GIZI
Surveilans
gizi merupakan salah satu bagian dari surveilans epidemiologi masalah
kesehatan. Menurut Depkes RI (2008) Surveilans
gizi adalah proses pengamatan berbagai masalah yang berkaitan dengan upaya
perbaikan gizi masyarakat secara terus-menerus baikpada situasi normal maupun
darurat dan informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk pengambilan
keputusan dalam rangka mencegah memburuknya status gizi masyarakat, menentukan
intervensi yang diperlukan, manajemen program, dan evaluasi dari program yang sedang
dan telah dilaksanakan.
Sedangkan
menurut NAS (National Academy of Science) dalam Adi dan Mukono (2000)
surveilans gizi adalah kegiatan pengamatan terhadap status gizi yang bertujuan
agar pengambilan keputusan dalam penentuan kebijakan dan program dapat terarah
kepada perbaikan gizi masyarakat golongan miskin. Informasi harus dikumpulkan
secara teratur dan harus digunakan oleh para penentu kebijakan dan perencana
program. Institusi yangterlibat harus mempunyai hubungan yang erat dengan
mekanisme perencanaan dan intervensi.
Surveilans
gizi berbeda dengan surveilans penyakit pada umumnya. Meskipun antara keduanya
memiliki kesamaan dalam hal kegiatan mengumpulkan informasi untuk kebijakan
program dan tindakan, tetapi terdapat beberapa perbedaan yang menjadi ciri
tersendiri dari surveilans gizi. Beberapa perbedaan tersebut antara lain (Adi
dan Mukono 2000):
1. Masalah yang dihadapi
oleh kegiatan surveilans gizi lebih rumit dari surveilans penyakit. Hal ini
disebabkan masalah gizi mempunyai penyebab yang multi faktor dan sangat erat
kaitannya dengan masalah kemiskinan.
2.
Identifikasi gejala dan cara penanggulangan masalah gizi lebih sulit dari pada
masalah penyakit
3.
Dalam penanganan masalah gizi jauh lebih sulit dibandingkan dengan masalah
penyakit karena dalam penggulangan masalah gizi melibatkan lintas sektor yang
lebih luas.
Syarat
pertama dari kegiatan surveilans adalah pengumpulan informasi secara teratur.
Dengan demikian, suatu pengkajian yang tidak didasarkan atau dikaitkan dengan
data yang dikumpulkan secara periodik tidak disebut sebagai suatu surveilans.
Syarat kedua adalah data yang dikumpulkan secara periodik dan setelah
dianalisis harus dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam
pengelolaan program perbaikan gizi masyarakat.
Oleh
karena itu, data yang dikumpulkan harus merupakan data yang bersifat tetap dan
siap untuk digunakan sesuai tujuan tersebut. Disamping itu harus terdapat
hubungan yang erat antara instansi-instansi yang bertanggung jawab dalam hal
surveilans dan perencanaan atau penentu kebijakan (Adi dan Mukono 2000).
Tujuan Surveilans Gizi
Sebagai
sebuah sistem, surveilans gizi merupakan suatu proses berkelanjutan yang
mempunyai tujuan sebagai berikut (Adi dan Mukono 2000):
1.
Menentukan status gizi penduduk dengan merujuk secara khusus pada kelompok
penduduk yang diketahui sedang dalam keadaan menderita atau berisiko. Penentuan
status gizi tersebut meliputi tanda-tanda dan luasnya masalah gizi yang ada dan
gambaran tentang trend kejadian
Menyediakan informasi yang
dapat digunakan untuk menganalisa tentang sebab-sebab dan faktor-faktor yang
terkait. Hasil kajian tersebut digunakan dalam menentukan tindakan pencegahan
yang dilaksanakan.
2. Menyediakan informasi
bagi pemerintah untuk menentukan prioritas yang sesuai dengan tersedianya
sumber daya dalam memperbaiki status gizi penduduk baik dalam situasi normal
maupun darurat.
3.
Memberikan peramalan tentang perkembangan masalah gizi yang akan datang
berdasarkan analisis perkembangan (trend) yang telah dan sedang terjadi
dan dilengkapi dengan informasi tentang potensi kemampuan dan sumber daya yang
tersedia. Hasil dari peramalan tersebut akan membantu perumusan kebijakan yang
tepat.Melakukan pemantauan (monitoring) program-program gizi serta
menilai (evaluasi) tentang efektifitasnya.
Kegiatan Surveilans Gizi
Kegiatan
surveilans dapat dilaksanakan melalui beberapa tahapan tergantung pada
kebutuhan-kebutuhan yang spesifik (Adi dan Mukono 2000):
Penilaian
Pendahuluan
Sebelum
menentukan desain suatu sistem surveilans gizi, maka perlu terlebih dahulu
dilakukan penilaian keadaan dan kondisi suatu tempat. Penilaian ini mencakup
beberapa hal berikut:
1.
Jenis, tingkat dan waktu terjadinya masalah gizi
Penilaian
terhadap masalah gizi yang meliputi jenis, tingkat keparahan dan juga waktu
terjadinya harus sedapat mungkin berdasarkan pengambilan sampel yang memenuhi
syarat statistik dan mencakup penduduk dengan resiko masalah gizi yang paling
gawat. Hasil penilaian akan sangat berguna jika dapat membedakan
kelompok-kelompok beresiko menurut pola waktu, misalnya kejadian berulang (insiden
siklis) dan kejadian tak tentu (insiden acak).
2.
Pengenalan dan penggambaran kelompok-kelompok yang khusus mempunyai resiko
Proses
untuk mengenal dan menggambarkan sifat-sifat kelompok resiko dimulai dengan
menggambarkan kelompok berisiko. Sebagai contoh adalah Balita yang hidup di
suatu daerah yang mempunyai curah hujan rata-rata tahunan rendah. Makanan
terutama berasal dari hewan peliharaan. Contoh lain adalah anak-anak dari
penduduk yang bermigrasi ke daerah perkotaan dan orang tuanya tidak bekerja.
Suatu pendekatan dalam menggambarkan kelompok berisiko dapat digunakan tiga
klasifikasi berikut ini:
a.
Keadaan biologis, meliputi: umur,
jenis kelamin, status faal (hamil), penyakit menular atau gangguan
kesehatan lain.
b. Situasi fisik, meliputi: jenis daerah (kota/desa), ekologi, jenis
pangan, geografis, sanitasi dan penyakit endemis.
c.
Sosio-ekonomis dan budaya, meliputi:
kelompok etnis atau budaya, pekerjaan, pelayanan kesehatan.
Ketelitian
dalam mengenal dan menggambarkan kelompok berisiko sangat tergantung pada
kecermatan analisis terhadap keterangan yang tersedia. Keterangan yang
dihasilkan dari sistem surveilans gizi akan membantu dalam identifikasi
kelompok berisiko sehingga penggambaran tersebut menjadi lebih tepat.
Indikator yang
dipergunakan dalam surveilans gizi
Setelah
dilaksanakan penilaian pendahuluan tentang masalah gizi yang akan dihadapi oleh
suatu sistem surveilans gizi, maka langkah berikutnya adalah mempertimbangkan
dan memilih indikator-indikator yang akan digunakan dalam sistem tersebut.
Dalam menentukan
suatu indikator darus dipertimbangkan beberapa hal berikut:
a.
Mudah dalam melakukan pengukuran
Data
yang dapat dikumpulkan dengan mudah dengan peralatan yang minimal dan sedikit
memerlukan pengolahan serta dapat dianalisis dengan mudah lebih baik dari pada
data yang memerlukan metode yang rumit dalam pengumpulan maupun
interpretasinya.
b.
Kecepatan dan frekuensi ketersediaan data
Bila
data yang dihasilkan bersifat berkesinambungan, maka indikatornya mempunyai
kelebihan dalam hal waktu. Hal ini sangat penting bagi penemuan dini perubahan
yang mungkin
terjadi. Nilai indikator dapat ditingkatkan dengan
semakin seringnya frekuensi pengumpulan data, tetapi harus dipertimbangkan
tambahan biaya yang diperlukan.
c. Biaya
Biaya dalam pengumpulan data merupakan salah satu hal
yang harus dipertimbangkan dalam memilih indikator yang akan dipergunakan. Dana
berkaitan erat dengan sifat-sifat indikator diatas. Oleh karena itu harus
diperhatikan dengan seksama keseimbangan antara nilai data dan biaya untuk
mencapainya.
Sumber data
surveilans gizi
Pada
penilaian pendahuluan data yang telah dikumpulkan dapat dipergunakan untuk
menggambarkan kelompok berisiko. Pada waktu yang bersamaan sumber data lain
yang ada harus pula diidentifikasi sambil menentukan syarat-syarat sebuah
sumber data. Sumber data dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Data yang dicatat
belum lama berselang atau tersedia secara potensial dalam rangka sistem
pengumpulan yang sedang dilaksanakan.
b.
Data tambahan/baru yang didapat melalui dinas-dinas yang ada (dinas pertanian,
kesehatan, pendidikan, dan sebagainya).
Tipe-tipe data
dari sumber yang ada dan biasa digunakan dalam sistem surveilans gizi dapat
diperlihatkan pada tabel berikut:
Tabel 2.1 Sumber Data dan
Variabel Surveilans Gizi
|
No
|
Sumber
|
Variabel
|
|
|
Actual
|
Potensial
|
||
|
1
|
Klinik kesehatan
|
BB, TB, umur, prevalensi
penyakit, cakupan imunisasi
|
Pekerjaan, jarak klinik
|
|
2
|
Sekolah
|
BB, TB, umur
|
Jarak sekolah dari rumah
|
|
3
|
Laporan administrasi
|
Angka kelahiran dan kematian
|
Pekerjaan, BB lahir
|
|
4
|
Sensus, demografi, perumahan,
pertanian
|
Demografi, sosial ekonomi,
petanian, lingkungan
|
|
|
5
|
Survey rumah tangga
|
Variabel sosial ekonomi
|
BB,TB, umur
|
|
6
|
Laporan pertanian
|
Produksi pertanian (hasil,
area)
|
Sumber daya pertanian
|
Pengolahan dan Penyajian Data
Setelah
data dikumpulkan selanjutnya diolah, dianalisis, dan diinterpretasikan.
Pengolahan data dimaksudkan untuk menyiapkan data agar dapat dianalisis dengan
mudah dan terbebas dari kesalahan (Adi dan Mukono, 2000).
Data
yang telah dikumpulkan dari kegiatan surveilans gizi dapat diolah menurut waktu
(bulanan atau tahunan), kelompok umur, jenis kelamin, dan wilayah (insidens,
proporsi, dan prevalensi). Setelah dilakukan pengolahan, data
selanjutnya disajikan dalam berbagai bentuk sesuai jenis data dalam bentuk
narasi, tabel, grafik, dan peta wilayah.
Penyajian secara narasi adalah penjelasan dengan
menggunakan kalimat tertulis tentang informasi kesehatan. Kalimat yang dipakai
singkat dan jelas serta mampu memberikan gambaran tentang apa yang disampaikan.
Narasi biasanya digunakan untuk menjelaskan arti dari suatu tabel atau grafik.
(Depkes,
2006). Menurut Muninjaya (2004) terdapat tiga teknik penyajian data yang biasa
digunakan untuk menggambarkan informasi yang berhasil dikumpulkan dan dalam
rangka mempermudah dalam menganalisis data, yaitu bentuk narasi, tabel, dan
grafik. Beberapa bentuk penyajian data dijelaskan sebagai berikut:
1.
Narasi
Penyajian
secara narasi adalah penjelasan dengan menggunakan kalimat tertulis tentang
informasi kesehatan. Kalimat yang dipakai singkat dan jelas serta mampu
memberikan gambaran tentang apa yang disampaikan. Narasi biasanya digunakan
untuk menjelaskan arti dari suatu tabel atau grafik.
2.
Tabel
Tabel
adalah penyajian data yang disusun dalam kolom dan baris dengan lebih
mengutamakan frekuensi suatu kejadian dalam bentuk kategori data yang berbeda.
Tabel dapat menggambarkan satu variabel atau lebih. Apabila menggambarkan dua
variabel atau lebih disebut dengan tabel silang. Tabel silang digunakan untuk
melihat hubungan antar dua variabel atau lebih yang dapat bersifat deskriptif
maupun analitik (Adi dan Mukono, 2000).
Semua
data yang disajikan dalam bentuk tabel sebaiknya diklasifikasikan dengan jelas
agar dapat dengan cepat dan mudah dimengerti oleh pembaca tanpa melihat data
aslinya. Beberapa prinsip pokok yang harus diperhatikan adalah tabel harus
sederhana, maksimal memiliki tiga variabel, dan harus menjelaskan dirinya
sendiri (self explanatory) (Muninjaya, 2004).
3.
Grafik
Grafik
adalah suatu metode untuk menyajikan data kuantitatif menggunakan sistem
koordinat x dan y. Sumbu x menggambarkan variabel independen (tidak
tergantung), dan sumbu y menggambarkan variabel dependen (tergantung). Grafik
dapat membantu pembaca mengerti dengan cepat perbedaan yang ada pada data yang
disajikan.
Beberapa
macam bentuk grafik yang biasanya dipakai dalam menyajikan data diantaranya
grafik garis, histogram, poligon, grafik balok/batang, grafik lingkaran, dan peta.
4.
Peta
Peta
adalah cara penyajian data dengan mempergunakan peta suatu wilayah. Setiap data
atau kasus digambarkan dengan simbol data absolut. Jika simbol menggambarkan rate
(angka), penyajian peta dikenal dengan area map. Spot map dapat
digambarkan dengan angka mutlak, misalnya jumlah penderita suatu penyakit di
daerah tertentu maupun dengan angka relatif, misalnya insidens atau prevalens
penyakit.
Analisis dan
Interpretasi Hasil Surveilans Gizi
Analisis
data merupakan suatu proses untuk menghasilkan rumusan masalah dan
faktor-faktor yang berhubungan dengan data yang telah terkumpul. Untuk dapat
mengidentifikasi masalah program atau masalah kesehatan masyarakat, hasil
analisis pada umumnya dibandingkan dengan target atau ukuran keberhasilan program
yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini tergantung dari tujuan analisis dan
data yang tersedia (Muninjaya, 2004).
Selain
itu analisis data dilakukan untuk melihat variabel-variabel yang dapat
menggambarkan suatu permasalahan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya serta
bagaimana data yang ada dapat menjelaskan tujuan dari suatu sistem surveilans
gizi. Sejauh mana kemampuan dalam menganalisis data tergantung pada organisasi
pelaksana yang bersangkutan serta keterampilan petugas yang menangani hal tersebut
(Adi dan Mukono, 2000).
Berdasarkan
hasil analisis dan interpretasi data, dapat dibuat tanggapan-tanggapan dan
saran-saran dalam menentukan tindakan dalam menghadapi masalah yang ada. Selain
itu juga dapat ditentukan apakah masalah gizi yang terjadi perlu mendapat
prioritas untuk ditangani terlebih dahulu.
Data yang
dikumpulkan dalam surveilans gizi sebaiknya dimasukkan dalam program komputer.
Penggunaan komputer memudahkan dalam melakukan analisis data yang bersifat
kompleks. Program yang sering digunakan antara lain SPSS dan Epi-info (Adi dan
Mukono, 2000).
Menurut
Adi dan Mukono (2000) dalam melakukan analisis dan interpretasi data yang harus
dilakukan adalah:
1. Memahami kualitas data
dan mencari metode terbaik untuk menarik kesimpulan. Hal ini dilakukan karena
setiap data mempunyai kelemahan yang harus dipahami benar sebelum seorang
petugas surveilans memanfaatkan data tersebut.
2.
Menarik kesimpulan dari suatu rangkaian data deskriptif. Kesimpulan yang dibuat
dapat dilakukan dengan beberapa cara analisis berikut:
a.
Kecenderungan
Analisis
kecenderungan merupakan hubungan antara jumlah kejadian gizi atau kondisi
populasi dengan waktu kejadian pada sekelompok populasi. Misalnya: data bulanan
penimbangan (BB/U), data tahunan kasus gizi buruk (prevalensi KEP), dan data
periodik lainnya.
b.
Perbandingan
Analisis
perbandingan merupakan upaya untuk membandingkan antara jumlah satu kejadian
dengan kejadian yang lain pada satu populasi atau populasi berbeda. Langkah
pertama yang dilakukan adalah menyamakan jumlah populasi yang diamati dengan
mengubah data menjadi ukuran frekuensi yang sesuai. Misalnya prevalensi KEP
menurut tingkatannya berdasarkan batas yang telah disepakati.
c.
Perbandingan dari suatu kecenderungan
Dilakukan
dengan cara membandingkan kecenderungan perubahan dari data kejadian
berdasarkan waktu terhadap data kejadian lain berdasarkan waktu pada populasi
yang sama atau berbeda. Misalnya frekuensi makan, ketersediaan pangan antar
waktu (musim), grafik pertumbuhan individu.
Menurut
Muninjaya (2004) analisa data program pelayanan kesehatan di lapangan dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu analisis dampak dan analisis cakupan.
1.
Analisis dampak
Analisis
dampak biasanya diolah di tingkat nasional atau provinsi dengan memanfaatkan
data umum, antara lain berupa angka kematian umum atau Crude Death Rate (CDR),
Angka Kematian Bayi (AKB), angka kelahiran kasar atau Crude Birth Rate (CBR),
dan angka kesakitan beberapa kejadian sakit yang dihitung dengan angka insidens
dan prevalens.
2.
Analisis cakupan
Analisis
cakupan biasanya dilakukan pada lingkup pelaksana program (Puskesmas) sesuai
dengan program pelayanan yang dilaksanakan di tempat tersebut, misalnya
cakupan imunisasi, KB, KIA, dan sebagainya. Analisis cakupan dilakukan dengan
membandingkan antara cakupan suatu program kesehatan dengan standar
keberhasilan program yang ditetapkan dalam bentuk target. Dari hasil perbandingan
ini akan dapat ditentukan besarnya kesenjangan antara target yang diharapkan
dengan hasil kegiatan program.
Untuk mengetahui
distribusi masalah, informasi cakupan program dapat dianalisis lebih lanjut
menurut orang, tempat, dan waktu. Dengan cara ini dapat diketahui dimana,
kapan, dan kelompok penduduk mana yang menderita masalah kesehatan ini dan
memerlukan perhatian pengelola program yang lebih besar.
Selanjutnya,
untuk menyusun rencana operasional program penanggulangan terhadap masalah ini,
masalah tersebut dapat dianalisis lagi menurut faktor-faktor yang diperkirakan
menjadi resiko dengan distribusi masalah tersebut (Muninjaya, 2004).
Selain
beberapa cara analisis diatas hasil dari kegiatan surveilans gizi dapat juga
dianalisis dengan mengaitkannya kepada surveilans kesehatan lainnya untuk dapat
dilakukan analisis situasi dan identifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan
masalah gizi, misalnya penggabungan grafik gizi
dengan grafik
diare, penggabungan grafik kemiskinan dan gizi kurang, atau penggabungan grafik
kemiskinan, gizi kurang, dan kejadian diare (Depkes, 2006).
Penyebarluasan (Diseminasi) Hasil
Analisis Surveilans Gizi
Hasil
dari suatu pelaksanaan surveilans gizi akan bermanfaat apabila hasil tersebut
diinformasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan bahasa yang mudah
dipahami. Namun kenyataannya penyebaran informasi yang disampaikan masih sering
diartikan dalam bentuk data-data yang begitu banyak dan belum diinterpretasikan
menjadi suatu informasi yang mudah dipahami (Adi dan Mukono, 2000).
Diseminasi
informasi lebih tepat dimaksudkan untuk memberi informasi yang dapat dimengerti
dan kemudian dimanfaatkan dalam menentukan arah kebijakan kegiatan, upaya
pengendalian dan evaluasinya, baik berupa data atau interpretasi dan kesimpulan
analisis (Adi dan Mukono, 2000).
Terdapat
beberapa cara dalam diseminasi informasi hasil surveilans gizi, antara lain
sebagai berikut (Adi dan Mukono, 2000):
1. Membuat suatu laporan
yang disampaikan kepada unit kesehatan pada tingkat yang lebih tinggi
2. Membuat suatu laporan
yang disampaikan dalam seminar atau pertemuan lain
3.
Membuat suatu tulisan dalam majalah atau jurnal kesehatan
Rekomendasi
merupakan salah satu bentuk diseminasi informasi. Rekomendasi dapat disampaikan
pada penanggung jawab program pencegahan dan penanggulangan, serta pada
pelaksana kegiatan surveilans gizi. Hasil dari surveilans yang akan
disebarluaskan dalam bentuk laporan harus ditulis sesuai dengan sasaran dari
pengguna laporan tersebut.
Jika
laporan ditujukan kepada pimpinan atau pengelola program, maka sebaiknya
laporan disajikan dengan informasi yang mempunyai implikasi untuk perubahan dan
perbaikan program saja. Sedangkan jika laporan ditulis dengan tujuan kepada
kalangan akademik atau profesional, maka harus menggunakan bahasa baku
epidemiologi dengan kecermatan analisis statistik dan laporan disajikan dalam
bentuk lengkap.
Umpan Balik
dalam Surveilans Gizi
Surveilans
merupakan suatu kegiatan yang berjalan terus-menerus dan berkesinambungan. Oleh
karena itu, maka umpan balik atau pengiriman informasi kembali sebagai umpan
balik kepada sumber-sumber data mengenai arti data yang telah mereka berikan
dan kegunaannya setelah selesai diolah, merupakan suatu kegiatan yang yang
sangat penting, sama pentingnya dengan tindakan follow up lainnya.
Dengan dilakukannya hal tersebut diharapkan pelapor secara terus-menerus
mengadakan pengamatan penyakit dan melaporkan hasil pengamatannya (Adi dan
Mukono, 2000).
Bentuk
dari umpan balik dapat berupa ringkasan dari informasi yang dimuat dalam buletin
atau surat yang berisi pertanyaan terkait informasi yang dilaporkan atau berupa
kunjungan ke tempat asal laporan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya serta
mengadakan perbaikan jika perlu. Jika umpan balik berupa buku laporan atau
buletin maka harus diperhatikan ketepatan dalam waktu terbit (Adi dan Mukono,
2000).
Organisasi
Pelaksanaan Surveilans Gizi
Dalam
mengorganisasikan kegiatan surveilans perlu terlebih dahulu ditetapkan beberapa
hal berikut ini (Depkes, 2006):
1. Alur informasi dari
sumber data paling bawah sampai kepada pengguna dan pengambil keputusan. Alur
informasi surveilans gizi dapat dilihat pada bagan 2.1.
2. Penentuan siapa yang
berperan sebagai simpul.
3. Identifikasi tugas
pokok dan fungsi masing-masing tingkat yang dilalui alur informasi.
4.
Identifikasi pengguna potensial (potential users) pada berbagai tingkat
pengguna.
Bagan 2.1 Alur Informasi Surveilans Gizi
Keterangan
:
Distribusi
data surveilans dari sumber data kepada unit surveilans yang akan melakukan
kompilasi data.
Distribusi
data surveilans/umpan balik dari unit surveilans yang melakukan kompilasi data
kepada semua sumber data.
a.
Sumber data
Sumber
data adalah institusi atau lembaga yang memiliki data yang dapat dimanfaatkan,
misalnya: Posyandu sebagai sumber data pertumbuhan, bidan desa sebagai sumber
data anemia.
b.
Simpul
Simpul
adalah institusi atau lembaga yang mengolah atau menganalisis dan
menyebarluaskan hasil dari kegiatan surveilans kepada pengguna. Pada kondisi
tertentu simpul dapat melakukan konfirmasi ke sumber data, misalnya bidan desa
sebagai simpul data pertumbuhan di tingkat kecamatan.
c.
Pengguna
Pengguna
adalah institusi atau lembaga atau individu yang memanfaatkan informasi yang
dihasilkan oleh masing-masing simpul, diantaranya adalah:
1) Pelaksana program
dari tingkat kecamatan kebawah, informasi digunakan untuk keperluan konfirmasi,
koordinasi dan intervensi.
2) Pelaksana program di
tingkat kabupaten/kota dan provinsi, informasi digunakan untuk keperluan
konfirmasi, perumusan kebijakan, pengmabilan keputusan, perencanaan,
koordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi.
3)
Pelaksana program di tingkat pusat, informasi digunakan untuk konfirmasi,
perumusan kebijakan, dan bimbingan serta evaluasi.
Prinsip Umum
Pelaksanaan Surveilans Gizi
WHO
(2002) menjelaskan bahwa prinsip umum pelaksanaan surveilans terdiri dari
kegiatan pengumpulan data dari kejadian dan peristiwa kesehatan yang terjadi
dimasyarakat kemudian dilakukan analisis dan interpretasi terhadap data yang
telah dikumpulkan untuk menghasilkan informasi yang berguna dalam pengambilan
keputusan intervensi yang akan dilakukan terhadap keadaan yang terjadi. Kegiatan
umpan balik (feedback) dari informasi yang dihasilkan kepada unit
pelapor dilakukan guna pengambilan keputusan di daerah masing-masing. Prinsip
umum ini juga berlaku dalam proses pelaksanaan surveilans gizi. Prinsip umum
surveilans dapat dilihat pada bagan 2.2
Bagan
2.2 Prinsip Umum Pelaksanaan Surveilans
BAB
III
KESIMPULAN
Transisi
epodemiologi adalah perubahan distribusi dan faktor-faktor penyebab terkait
yang melahirkan masalah epodemiologi yang baru. Keadaantransisi epidemiologi
ini ditandai dengan perubahan pola frekuensi penyakit.Transisiepidemiologi
bermula dari suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatandan pola
penyakit utama penyebab kematian dimana terjadi penurunan prevalensipenyakit
infeksi (penyakit menular), sedangkan penyakit non infeksi (penyakit
tidakmenular) justru semakin meningkat. Hal ini terjadi seiring dengan
berubahnya gayahidup, sosial ekonomi dan meningkatnya umur harapan hidup yang
berartimeningkatnya pola risiko timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit
jantungkoroner, diabetes melitus, hipertensi, dan lain sebagainya. Perubahan pola
kesehatan dan pola penyebab kematian mengakibatkan munculnya masalah gizi baru,
tidak hanya maslah gizi kurang, namun masalah gizi lebih juga menjadi prioritas
yag harus diselesaikan.
Surveilans
gizi merupakan salah satu bagian dari surveilans epidemiologi masalah
kesehatan. Menurut Depkes RI (2008) Surveilans gizi adalah proses pengamatan
berbagai masalah yang berkaitan dengan upaya perbaikan gizi masyarakat secara
terus-menerus baikpada situasi normal maupun darurat dan informasi yang
dihasilkan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka mencegah
memburuknya status gizi masyarakat, menentukan intervensi yang diperlukan,
manajemen program, dan evaluasi dari program yang sedang dan telah
dilaksanakan.
DAFTAR
PUSTAKA
http://imeinars.blogspot.com/2011/02/tinjau-ulang-masalah-kesehatan.html diakses pada tanggal 1 pukul 17.03
Anonym.Gizi
lebih (over nutrition) dalam
kaitannya dengan peningkatan resiko penyakit degenerative
Azwar, Azrul. Kecenderungan masalah
gizi dan tantangan di masa datang*)
Casino Bonus codes | DRMCD
BalasHapusThe best Casino 전주 출장마사지 bonuses, 공주 출장마사지 free cash, casino slots, casino games, casino bonuses. 구리 출장마사지 Best Casino Bonus codes, 태백 출장안마 casino bonus codes, casino 안양 출장마사지 bonuses. Best Casino Bonus