Selasa, 05 November 2013

EPIDEMILOGI DAN SURVEILAN GIZI



TRANSISI EPIDEMIOLOGI
Definisi Transisi Epidemiologi
Transisi epidemiologi adalah perubahan distribusi dan faktor-faktor penyebab terkait yang melahirkan masalah epidemiologi yang baru. Keadaan transisi epidemiologi ini ditandai dengan perubahan pola frekuensi penyakit.Transisiepidemiologi bermula dari suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatandan pola penyakit utama penyebab kematian dimana terjadi penurunan prevalensipenyakit infeksi (penyakit menular), sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidakmenular) justru semakin meningkat. Hal ini terjadi seiring dengan berubahnya gayahidup, sosial ekonomi dan meningkatnya umur harapan hidup yang berartimeningkatnya pola risiko timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantungkoroner, diabetes melitus, hipertensi, dan lain sebagainya.
Sejarah Transisi Epidemiologi
Teori transisi epidemiologi sendiri pertama kali dikeluarkan oleh seorang pakar Demografi Abdoel Omran pada tahun 1971. Pada saat itu ia mengamati perkembangan kesehatan di negara industri sejak abad 18. Dia kemudian menuliskan sebuah teori bahwa ada 3 fase transisi epidemiologis yaitu :
1)The age of pestilence and famine, yang ditandai dengan tingginya mortalitas
2)The age of receding pandemics, era di mana angka harapan hidup mulai meningkat antara 30-50 dan
3)The age of degenerative and man-made disease, fase dimana penyakit infeksi mulai turun namun penyakit degeneratif mulai meningkat. gambaran itu memang untuk negara Barat.Teori ini kemudian banyak di kritik. Kritikan dari beberapa tokoh seperti Rogers dan Hackenberg (1987) dan Olshansky and Ault(1986) membuat Omran melakukan sedikit revisi.
Bagi negara Barat, ketiga model tersebut ditambah 2 lagi yaitu:
4)The age of declining CVD mortality, ageing, lifestyle modification, emerging and resurgent diseases ditandai dengan angka harapan hidup mencapai 80-85, angka fertilitas sangat rendah, serta penyakit kardiovakular dan kanker, serta
5)The age of aspired quality of life with paradoxical longevity and persistent inequalities yang menggambarkan harapan masa depan, dengan angka harapan hidup mencapai 90 tahun tetapi dengan karakteristik kronik morbiditas, sehingga mendorong upaya peningkatan quality of life.
Selain itu, Omran juga membuat revisi model transisi epidemiologis untuk negara berkembang dengan mengganti fase ketiganya menjadi “The age of triple health burden” yang ditandai dengan 3 hal yaitu:
a) Masalah kesehatan klasik yang belum terselesaikan (infeksi penyakit menular),
 b)  Munculnya problem kesehatan baru dan
 c) Pelayanan kesehatan yang tertinggal (Lagging), Namun ketika itu dikaitkan dengan jenis penyakit beberapa pakar menggati beban ketiga itu dengan “New Emerging Infectious Disease” Penyakit menular baru/penyakit lama muncul kembali
TRANSISI EPIDEMIOLOGI GIZI
 Kesehatan adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Untuk memperoleh tubuh yang sehat diperlukan makanan yang sehat dan bergizi. Makanan sehat dan bergizi akan memberikan zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi tubuh dengan normal. Pemilihan bahan makanan dan makanan yang tidak baik mengakibatkan tubuh kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. Pemenuhan kebutuhan gizi dalam tubuh ini akan memberikan status gizi seseorang yaitu gizi baik/optimal, gizi kurang dan gizi lebih (arali, 2008).
Menurut Mariani (2011), Gizi baik/optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat gizi dan digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan untuk bekerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Sedangkan gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat gizi esensial, hal ini dapat menyebabkan menurunnya pertahanan tubuh terhadap penyakit infeski seperti diare. Sebaliknya gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan sehingga menimbulkan efek toksis atau dapat membahayakan kesehatan. Gizi lebih menyebabkan kegemukan atau obesitas. Kelebihan energy yang dikonsumsi disimpan dalam jaringan dalam bentuk lemak. Kegemukan merupakan satu factor resiko terjadinya berbagai penyakit degenerative seperti hipertensi, DM, jantng koroner, penyakit hati dan kantong empedu.
Di Indonesia terdapat dua masalah gizi yang umumnya terjadi dimasyarakat yaitu masih banyaknya masyarakat yang mengalami gizi kurang dan terjadinya peningkatan masyarakat dengan gizi lebih. Gaya hidup masyarakat yang berubah membuat permasalahan gizi mengalami perubahan baik dari segi bentuknya maupun akibat penyakit yang akan ditimbulkan. Transisi epidemiologi gizi ini membuat beberapa masyarakat mengalami gizi lebih (over nutrition).
Kasus kecukupan gizi bagi anak-anak masih saja menjadi persoalan khususnya di Propinsi Sumatera Utara (Propsu). Buktinya selama kurun waktu tahun 2011, sebanyak 375 kasus gizi buruk masih terjadi. Dijelaskannya, kasus gizi buruk yang tertinggi berada di Nias yaitu di Nias Barat ada 5 orang, Gunung Sitoli 6 orang, Nisel 10 orang dan Nias Utara 6 orang (medanbisnis, 2012).
Disamping itu, jumlah orang yang mengalami gizi lebih juga semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kasus penyakit degenerative. Penyakit degenerative adalah istilah medis untuk menjelaskan suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk. Penyakit yang masuk dalam kelompok ini antara lain diabetes melitus, stroke, jantung koroner, kardiovaskular, obesitas, dislipidemia dan sebagainya.
World Health Organization (WHO) menyatakan akan ada satu miliar orang di dunia, khususnya di wilayah perkotaan yang di bayangi akan menderita obesitas atau kegemukan. Jumlah ini juga di prediksi oleh WHO tetap akan meningkat pada 2015 mendatang dengan jumlah penderita obesitas sebanyak 1,5 miliar orang. Hal ini di anggap wajar terjadi, pasalnya masyarakat perkotaan yang hidup di bawah tuntutan ekonomi di paksa melupakan gaya hidup yang sehat.
Kepadatan rutinitas merupakan satu faktor utama pergeseran masyarakat untuk berolah raga dan makan makanan yang sehat (Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan, 2009). Menurut WHO, penyakit degenerative menjadi pembunuh manusia terbesar. Angka kematian tertinggi ada di negara-negara dengan pendapatan nasional rendah ataupun tinggi.
SURVEILANS GIZI
Surveilans gizi merupakan salah satu bagian dari surveilans epidemiologi masalah kesehatan. Menurut Depkes RI (2008) Surveilans gizi adalah proses pengamatan berbagai masalah yang berkaitan dengan upaya perbaikan gizi masyarakat secara terus-menerus baikpada situasi normal maupun darurat dan informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka mencegah memburuknya status gizi masyarakat, menentukan intervensi yang diperlukan, manajemen program, dan evaluasi dari program yang sedang dan telah dilaksanakan.
Sedangkan menurut NAS (National Academy of Science) dalam Adi dan Mukono (2000) surveilans gizi adalah kegiatan pengamatan terhadap status gizi yang bertujuan agar pengambilan keputusan dalam penentuan kebijakan dan program dapat terarah kepada perbaikan gizi masyarakat golongan miskin. Informasi harus dikumpulkan secara teratur dan harus digunakan oleh para penentu kebijakan dan perencana program. Institusi yangterlibat harus mempunyai hubungan yang erat dengan mekanisme perencanaan dan intervensi.
Surveilans gizi berbeda dengan surveilans penyakit pada umumnya. Meskipun antara keduanya memiliki kesamaan dalam hal kegiatan mengumpulkan informasi untuk kebijakan program dan tindakan, tetapi terdapat beberapa perbedaan yang menjadi ciri tersendiri dari surveilans gizi. Beberapa perbedaan tersebut antara lain (Adi dan Mukono 2000):
1. Masalah yang dihadapi oleh kegiatan surveilans gizi lebih rumit dari surveilans penyakit. Hal ini disebabkan masalah gizi mempunyai penyebab yang multi faktor dan sangat erat kaitannya dengan masalah kemiskinan.
2. Identifikasi gejala dan cara penanggulangan masalah gizi lebih sulit dari pada masalah penyakit

3. Dalam penanganan masalah gizi jauh lebih sulit dibandingkan dengan masalah penyakit karena dalam penggulangan masalah gizi melibatkan lintas sektor yang lebih luas.
Syarat pertama dari kegiatan surveilans adalah pengumpulan informasi secara teratur. Dengan demikian, suatu pengkajian yang tidak didasarkan atau dikaitkan dengan data yang dikumpulkan secara periodik tidak disebut sebagai suatu surveilans. Syarat kedua adalah data yang dikumpulkan secara periodik dan setelah dianalisis harus dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam pengelolaan program perbaikan gizi masyarakat.
Oleh karena itu, data yang dikumpulkan harus merupakan data yang bersifat tetap dan siap untuk digunakan sesuai tujuan tersebut. Disamping itu harus terdapat hubungan yang erat antara instansi-instansi yang bertanggung jawab dalam hal surveilans dan perencanaan atau penentu kebijakan (Adi dan Mukono 2000).



 Tujuan Surveilans Gizi
Sebagai sebuah sistem, surveilans gizi merupakan suatu proses berkelanjutan yang mempunyai tujuan sebagai berikut (Adi dan Mukono 2000):
1. Menentukan status gizi penduduk dengan merujuk secara khusus pada kelompok penduduk yang diketahui sedang dalam keadaan menderita atau berisiko. Penentuan status gizi tersebut meliputi tanda-tanda dan luasnya masalah gizi yang ada dan gambaran tentang trend kejadian
Menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk menganalisa tentang sebab-sebab dan faktor-faktor yang terkait. Hasil kajian tersebut digunakan dalam menentukan tindakan pencegahan yang dilaksanakan.
2. Menyediakan informasi bagi pemerintah untuk menentukan prioritas yang sesuai dengan tersedianya sumber daya dalam memperbaiki status gizi penduduk baik dalam situasi normal maupun darurat.
3. Memberikan peramalan tentang perkembangan masalah gizi yang akan datang berdasarkan analisis perkembangan (trend) yang telah dan sedang terjadi dan dilengkapi dengan informasi tentang potensi kemampuan dan sumber daya yang tersedia. Hasil dari peramalan tersebut akan membantu perumusan kebijakan yang tepat.Melakukan pemantauan (monitoring) program-program gizi serta menilai (evaluasi) tentang efektifitasnya.

 Kegiatan Surveilans Gizi
Kegiatan surveilans dapat dilaksanakan melalui beberapa tahapan tergantung pada kebutuhan-kebutuhan yang spesifik (Adi dan Mukono 2000):
Penilaian Pendahuluan
Sebelum menentukan desain suatu sistem surveilans gizi, maka perlu terlebih dahulu dilakukan penilaian keadaan dan kondisi suatu tempat. Penilaian ini mencakup beberapa hal berikut:


1. Jenis, tingkat dan waktu terjadinya masalah gizi
Penilaian terhadap masalah gizi yang meliputi jenis, tingkat keparahan dan juga waktu terjadinya harus sedapat mungkin berdasarkan pengambilan sampel yang memenuhi syarat statistik dan mencakup penduduk dengan resiko masalah gizi yang paling gawat. Hasil penilaian akan sangat berguna jika dapat membedakan kelompok-kelompok beresiko menurut pola waktu, misalnya kejadian berulang (insiden siklis) dan kejadian tak tentu (insiden acak).
2. Pengenalan dan penggambaran kelompok-kelompok yang khusus mempunyai resiko
Proses untuk mengenal dan menggambarkan sifat-sifat kelompok resiko dimulai dengan menggambarkan kelompok berisiko. Sebagai contoh adalah Balita yang hidup di suatu daerah yang mempunyai curah hujan rata-rata tahunan rendah. Makanan terutama berasal dari hewan peliharaan. Contoh lain adalah anak-anak dari penduduk yang bermigrasi ke daerah perkotaan dan orang tuanya tidak bekerja. Suatu pendekatan dalam menggambarkan kelompok berisiko dapat digunakan tiga klasifikasi berikut ini:
a. Keadaan biologis, meliputi: umur, jenis kelamin, status faal (hamil), penyakit menular atau gangguan kesehatan lain.

b. Situasi fisik, meliputi: jenis daerah (kota/desa), ekologi, jenis pangan, geografis, sanitasi dan penyakit endemis.
c. Sosio-ekonomis dan budaya, meliputi: kelompok etnis atau budaya, pekerjaan, pelayanan kesehatan.
Ketelitian dalam mengenal dan menggambarkan kelompok berisiko sangat tergantung pada kecermatan analisis terhadap keterangan yang tersedia. Keterangan yang dihasilkan dari sistem surveilans gizi akan membantu dalam identifikasi kelompok berisiko sehingga penggambaran tersebut menjadi lebih tepat.

Indikator yang dipergunakan dalam surveilans gizi
Setelah dilaksanakan penilaian pendahuluan tentang masalah gizi yang akan dihadapi oleh suatu sistem surveilans gizi, maka langkah berikutnya adalah mempertimbangkan dan memilih indikator-indikator yang akan digunakan dalam sistem tersebut.
Dalam menentukan suatu indikator darus dipertimbangkan beberapa hal berikut:
a. Mudah dalam melakukan pengukuran
Data yang dapat dikumpulkan dengan mudah dengan peralatan yang minimal dan sedikit memerlukan pengolahan serta dapat dianalisis dengan mudah lebih baik dari pada data yang memerlukan metode yang rumit dalam pengumpulan maupun interpretasinya.

b. Kecepatan dan frekuensi ketersediaan data
Bila data yang dihasilkan bersifat berkesinambungan, maka indikatornya mempunyai kelebihan dalam hal waktu. Hal ini sangat penting bagi penemuan dini perubahan yang mungkin
terjadi. Nilai indikator dapat ditingkatkan dengan semakin seringnya frekuensi pengumpulan data, tetapi harus dipertimbangkan tambahan biaya yang diperlukan.

c. Biaya
Biaya dalam pengumpulan data merupakan salah satu hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih indikator yang akan dipergunakan. Dana berkaitan erat dengan sifat-sifat indikator diatas. Oleh karena itu harus diperhatikan dengan seksama keseimbangan antara nilai data dan biaya untuk mencapainya.



Sumber data surveilans gizi
Pada penilaian pendahuluan data yang telah dikumpulkan dapat dipergunakan untuk menggambarkan kelompok berisiko. Pada waktu yang bersamaan sumber data lain yang ada harus pula diidentifikasi sambil menentukan syarat-syarat sebuah sumber data. Sumber data dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Data yang dicatat belum lama berselang atau tersedia secara potensial dalam rangka sistem pengumpulan yang sedang dilaksanakan.
b. Data tambahan/baru yang didapat melalui dinas-dinas yang ada (dinas pertanian, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya).

Tipe-tipe data dari sumber yang ada dan biasa digunakan dalam sistem surveilans gizi dapat diperlihatkan pada tabel berikut:
Tabel 2.1 Sumber Data dan Variabel Surveilans Gizi


No
Sumber
Variabel
Actual
Potensial
1
Klinik kesehatan
BB, TB, umur, prevalensi penyakit, cakupan imunisasi

Pekerjaan, jarak klinik
2
Sekolah
BB, TB, umur
Jarak sekolah dari rumah
3
Laporan administrasi
Angka kelahiran dan kematian

Pekerjaan, BB lahir
4
Sensus, demografi, perumahan, pertanian
Demografi, sosial ekonomi, petanian, lingkungan


5
Survey rumah tangga
Variabel sosial ekonomi

BB,TB, umur
6
Laporan pertanian
Produksi pertanian (hasil, area)
Sumber daya pertanian


 Pengolahan dan Penyajian Data
Setelah data dikumpulkan selanjutnya diolah, dianalisis, dan diinterpretasikan. Pengolahan data dimaksudkan untuk menyiapkan data agar dapat dianalisis dengan mudah dan terbebas dari kesalahan (Adi dan Mukono, 2000).
Data yang telah dikumpulkan dari kegiatan surveilans gizi dapat diolah menurut waktu (bulanan atau tahunan), kelompok umur, jenis kelamin, dan wilayah (insidens, proporsi, dan prevalensi). Setelah dilakukan pengolahan, data selanjutnya disajikan dalam berbagai bentuk sesuai jenis data dalam bentuk narasi, tabel, grafik, dan peta wilayah.
Penyajian secara narasi adalah penjelasan dengan menggunakan kalimat tertulis tentang informasi kesehatan. Kalimat yang dipakai singkat dan jelas serta mampu memberikan gambaran tentang apa yang disampaikan. Narasi biasanya digunakan untuk menjelaskan arti dari suatu tabel atau grafik.
(Depkes, 2006). Menurut Muninjaya (2004) terdapat tiga teknik penyajian data yang biasa digunakan untuk menggambarkan informasi yang berhasil dikumpulkan dan dalam rangka mempermudah dalam menganalisis data, yaitu bentuk narasi, tabel, dan grafik. Beberapa bentuk penyajian data dijelaskan sebagai berikut:
1. Narasi
Penyajian secara narasi adalah penjelasan dengan menggunakan kalimat tertulis tentang informasi kesehatan. Kalimat yang dipakai singkat dan jelas serta mampu memberikan gambaran tentang apa yang disampaikan. Narasi biasanya digunakan untuk menjelaskan arti dari suatu tabel atau grafik.

2. Tabel
Tabel adalah penyajian data yang disusun dalam kolom dan baris dengan lebih mengutamakan frekuensi suatu kejadian dalam bentuk kategori data yang berbeda. Tabel dapat menggambarkan satu variabel atau lebih. Apabila menggambarkan dua variabel atau lebih disebut dengan tabel silang. Tabel silang digunakan untuk melihat hubungan antar dua variabel atau lebih yang dapat bersifat deskriptif maupun analitik (Adi dan Mukono, 2000).
Semua data yang disajikan dalam bentuk tabel sebaiknya diklasifikasikan dengan jelas agar dapat dengan cepat dan mudah dimengerti oleh pembaca tanpa melihat data aslinya. Beberapa prinsip pokok yang harus diperhatikan adalah tabel harus sederhana, maksimal memiliki tiga variabel, dan harus menjelaskan dirinya sendiri (self explanatory) (Muninjaya, 2004).

3. Grafik
Grafik adalah suatu metode untuk menyajikan data kuantitatif menggunakan sistem koordinat x dan y. Sumbu x menggambarkan variabel independen (tidak tergantung), dan sumbu y menggambarkan variabel dependen (tergantung). Grafik dapat membantu pembaca mengerti dengan cepat perbedaan yang ada pada data yang disajikan.
Beberapa macam bentuk grafik yang biasanya dipakai dalam menyajikan data diantaranya grafik garis, histogram, poligon, grafik balok/batang, grafik lingkaran, dan peta.

4. Peta
Peta adalah cara penyajian data dengan mempergunakan peta suatu wilayah. Setiap data atau kasus digambarkan dengan simbol data absolut. Jika simbol menggambarkan rate (angka), penyajian peta dikenal dengan area map. Spot map dapat digambarkan dengan angka mutlak, misalnya jumlah penderita suatu penyakit di daerah tertentu maupun dengan angka relatif, misalnya insidens atau prevalens penyakit.

Analisis dan Interpretasi Hasil Surveilans Gizi
Analisis data merupakan suatu proses untuk menghasilkan rumusan masalah dan faktor-faktor yang berhubungan dengan data yang telah terkumpul. Untuk dapat mengidentifikasi masalah program atau masalah kesehatan masyarakat, hasil analisis pada umumnya dibandingkan dengan target atau ukuran keberhasilan program yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini tergantung dari tujuan analisis dan data yang tersedia (Muninjaya, 2004).
Selain itu analisis data dilakukan untuk melihat variabel-variabel yang dapat menggambarkan suatu permasalahan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya serta bagaimana data yang ada dapat menjelaskan tujuan dari suatu sistem surveilans gizi. Sejauh mana kemampuan dalam menganalisis data tergantung pada organisasi pelaksana yang bersangkutan serta keterampilan petugas yang menangani hal tersebut (Adi dan Mukono, 2000).
Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data, dapat dibuat tanggapan-tanggapan dan saran-saran dalam menentukan tindakan dalam menghadapi masalah yang ada. Selain itu juga dapat ditentukan apakah masalah gizi yang terjadi perlu mendapat prioritas untuk ditangani terlebih dahulu.
Data yang dikumpulkan dalam surveilans gizi sebaiknya dimasukkan dalam program komputer. Penggunaan komputer memudahkan dalam melakukan analisis data yang bersifat kompleks. Program yang sering digunakan antara lain SPSS dan Epi-info (Adi dan Mukono, 2000).
Menurut Adi dan Mukono (2000) dalam melakukan analisis dan interpretasi data yang harus dilakukan adalah:
1. Memahami kualitas data dan mencari metode terbaik untuk menarik kesimpulan. Hal ini dilakukan karena setiap data mempunyai kelemahan yang harus dipahami benar sebelum seorang petugas surveilans memanfaatkan data tersebut.
2. Menarik kesimpulan dari suatu rangkaian data deskriptif. Kesimpulan yang dibuat dapat dilakukan dengan beberapa cara analisis berikut:
a. Kecenderungan
Analisis kecenderungan merupakan hubungan antara jumlah kejadian gizi atau kondisi populasi dengan waktu kejadian pada sekelompok populasi. Misalnya: data bulanan penimbangan (BB/U), data tahunan kasus gizi buruk (prevalensi KEP), dan data periodik lainnya.
b. Perbandingan
Analisis perbandingan merupakan upaya untuk membandingkan antara jumlah satu kejadian dengan kejadian yang lain pada satu populasi atau populasi berbeda. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyamakan jumlah populasi yang diamati dengan mengubah data menjadi ukuran frekuensi yang sesuai. Misalnya prevalensi KEP menurut tingkatannya berdasarkan batas yang telah disepakati.

c. Perbandingan dari suatu kecenderungan
Dilakukan dengan cara membandingkan kecenderungan perubahan dari data kejadian berdasarkan waktu terhadap data kejadian lain berdasarkan waktu pada populasi yang sama atau berbeda. Misalnya frekuensi makan, ketersediaan pangan antar waktu (musim), grafik pertumbuhan individu.
Menurut Muninjaya (2004) analisa data program pelayanan kesehatan di lapangan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu analisis dampak dan analisis cakupan.
1. Analisis dampak
Analisis dampak biasanya diolah di tingkat nasional atau provinsi dengan memanfaatkan data umum, antara lain berupa angka kematian umum atau Crude Death Rate (CDR), Angka Kematian Bayi (AKB), angka kelahiran kasar atau Crude Birth Rate (CBR), dan angka kesakitan beberapa kejadian sakit yang dihitung dengan angka insidens dan prevalens.
2. Analisis cakupan
Analisis cakupan biasanya dilakukan pada lingkup pelaksana program (Puskesmas) sesuai dengan program pelayanan yang dilaksanakan di tempat tersebut, misalnya cakupan imunisasi, KB, KIA, dan sebagainya. Analisis cakupan dilakukan dengan membandingkan antara cakupan suatu program kesehatan dengan standar keberhasilan program yang ditetapkan dalam bentuk target. Dari hasil perbandingan ini akan dapat ditentukan besarnya kesenjangan antara target yang diharapkan dengan hasil kegiatan program.
Untuk mengetahui distribusi masalah, informasi cakupan program dapat dianalisis lebih lanjut menurut orang, tempat, dan waktu. Dengan cara ini dapat diketahui dimana, kapan, dan kelompok penduduk mana yang menderita masalah kesehatan ini dan memerlukan perhatian pengelola program yang lebih besar.
Selanjutnya, untuk menyusun rencana operasional program penanggulangan terhadap masalah ini, masalah tersebut dapat dianalisis lagi menurut faktor-faktor yang diperkirakan menjadi resiko dengan distribusi masalah tersebut (Muninjaya, 2004).
Selain beberapa cara analisis diatas hasil dari kegiatan surveilans gizi dapat juga dianalisis dengan mengaitkannya kepada surveilans kesehatan lainnya untuk dapat dilakukan analisis situasi dan identifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan masalah gizi, misalnya penggabungan grafik gizi
dengan grafik diare, penggabungan grafik kemiskinan dan gizi kurang, atau penggabungan grafik kemiskinan, gizi kurang, dan kejadian diare (Depkes, 2006).

 Penyebarluasan (Diseminasi) Hasil Analisis Surveilans Gizi
Hasil dari suatu pelaksanaan surveilans gizi akan bermanfaat apabila hasil tersebut diinformasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan bahasa yang mudah dipahami. Namun kenyataannya penyebaran informasi yang disampaikan masih sering diartikan dalam bentuk data-data yang begitu banyak dan belum diinterpretasikan menjadi suatu informasi yang mudah dipahami (Adi dan Mukono, 2000).
Diseminasi informasi lebih tepat dimaksudkan untuk memberi informasi yang dapat dimengerti dan kemudian dimanfaatkan dalam menentukan arah kebijakan kegiatan, upaya pengendalian dan evaluasinya, baik berupa data atau interpretasi dan kesimpulan analisis (Adi dan Mukono, 2000).
Terdapat beberapa cara dalam diseminasi informasi hasil surveilans gizi, antara lain sebagai berikut (Adi dan Mukono, 2000):
1. Membuat suatu laporan yang disampaikan kepada unit kesehatan pada tingkat yang lebih tinggi
2. Membuat suatu laporan yang disampaikan dalam seminar atau pertemuan lain
3. Membuat suatu tulisan dalam majalah atau jurnal kesehatan
Rekomendasi merupakan salah satu bentuk diseminasi informasi. Rekomendasi dapat disampaikan pada penanggung jawab program pencegahan dan penanggulangan, serta pada pelaksana kegiatan surveilans gizi. Hasil dari surveilans yang akan disebarluaskan dalam bentuk laporan harus ditulis sesuai dengan sasaran dari pengguna laporan tersebut.
Jika laporan ditujukan kepada pimpinan atau pengelola program, maka sebaiknya laporan disajikan dengan informasi yang mempunyai implikasi untuk perubahan dan perbaikan program saja. Sedangkan jika laporan ditulis dengan tujuan kepada kalangan akademik atau profesional, maka harus menggunakan bahasa baku epidemiologi dengan kecermatan analisis statistik dan laporan disajikan dalam bentuk lengkap.

Umpan Balik dalam Surveilans Gizi
Surveilans merupakan suatu kegiatan yang berjalan terus-menerus dan berkesinambungan. Oleh karena itu, maka umpan balik atau pengiriman informasi kembali sebagai umpan balik kepada sumber-sumber data mengenai arti data yang telah mereka berikan dan kegunaannya setelah selesai diolah, merupakan suatu kegiatan yang yang sangat penting, sama pentingnya dengan tindakan follow up lainnya. Dengan dilakukannya hal tersebut diharapkan pelapor secara terus-menerus mengadakan pengamatan penyakit dan melaporkan hasil pengamatannya (Adi dan Mukono, 2000).
Bentuk dari umpan balik dapat berupa ringkasan dari informasi yang dimuat dalam buletin atau surat yang berisi pertanyaan terkait informasi yang dilaporkan atau berupa kunjungan ke tempat asal laporan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya serta mengadakan perbaikan jika perlu. Jika umpan balik berupa buku laporan atau buletin maka harus diperhatikan ketepatan dalam waktu terbit (Adi dan Mukono, 2000).

Organisasi Pelaksanaan Surveilans Gizi
Dalam mengorganisasikan kegiatan surveilans perlu terlebih dahulu ditetapkan beberapa hal berikut ini (Depkes, 2006):
1. Alur informasi dari sumber data paling bawah sampai kepada pengguna dan pengambil keputusan. Alur informasi surveilans gizi dapat dilihat pada bagan 2.1.
2. Penentuan siapa yang berperan sebagai simpul.
3. Identifikasi tugas pokok dan fungsi masing-masing tingkat yang dilalui alur informasi.
4. Identifikasi pengguna potensial (potential users) pada berbagai tingkat pengguna.

Bagan 2.1 Alur Informasi Surveilans Gizi






Keterangan :
Distribusi data surveilans dari sumber data kepada unit surveilans yang akan melakukan kompilasi data.
Distribusi data surveilans/umpan balik dari unit surveilans yang melakukan kompilasi data kepada semua sumber data.
a. Sumber data
Sumber data adalah institusi atau lembaga yang memiliki data yang dapat dimanfaatkan, misalnya: Posyandu sebagai sumber data pertumbuhan, bidan desa sebagai sumber data anemia.
b. Simpul
Simpul adalah institusi atau lembaga yang mengolah atau menganalisis dan menyebarluaskan hasil dari kegiatan surveilans kepada pengguna. Pada kondisi tertentu simpul dapat melakukan konfirmasi ke sumber data, misalnya bidan desa sebagai simpul data pertumbuhan di tingkat kecamatan.
c. Pengguna
Pengguna adalah institusi atau lembaga atau individu yang memanfaatkan informasi yang dihasilkan oleh masing-masing simpul, diantaranya adalah:
1) Pelaksana program dari tingkat kecamatan kebawah, informasi digunakan untuk keperluan konfirmasi, koordinasi dan intervensi.
2) Pelaksana program di tingkat kabupaten/kota dan provinsi, informasi digunakan untuk keperluan konfirmasi, perumusan kebijakan, pengmabilan keputusan, perencanaan, koordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi.
3) Pelaksana program di tingkat pusat, informasi digunakan untuk konfirmasi, perumusan kebijakan, dan bimbingan serta evaluasi.

Prinsip Umum Pelaksanaan Surveilans Gizi
WHO (2002) menjelaskan bahwa prinsip umum pelaksanaan surveilans terdiri dari kegiatan pengumpulan data dari kejadian dan peristiwa kesehatan yang terjadi dimasyarakat kemudian dilakukan analisis dan interpretasi terhadap data yang telah dikumpulkan untuk menghasilkan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan intervensi yang akan dilakukan terhadap keadaan yang terjadi. Kegiatan umpan balik (feedback) dari informasi yang dihasilkan kepada unit pelapor dilakukan guna pengambilan keputusan di daerah masing-masing. Prinsip umum ini juga berlaku dalam proses pelaksanaan surveilans gizi. Prinsip umum surveilans dapat dilihat pada bagan 2.2

Bagan 2.2 Prinsip Umum Pelaksanaan Surveilans














BAB III
KESIMPULAN

Transisi epodemiologi adalah perubahan distribusi dan faktor-faktor penyebab terkait yang melahirkan masalah epodemiologi yang baru. Keadaantransisi epidemiologi ini ditandai dengan perubahan pola frekuensi penyakit.Transisiepidemiologi bermula dari suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatandan pola penyakit utama penyebab kematian dimana terjadi penurunan prevalensipenyakit infeksi (penyakit menular), sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidakmenular) justru semakin meningkat. Hal ini terjadi seiring dengan berubahnya gayahidup, sosial ekonomi dan meningkatnya umur harapan hidup yang berartimeningkatnya pola risiko timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantungkoroner, diabetes melitus, hipertensi, dan lain sebagainya. Perubahan pola kesehatan dan pola penyebab kematian mengakibatkan munculnya masalah gizi baru, tidak hanya maslah gizi kurang, namun masalah gizi lebih juga menjadi prioritas yag harus diselesaikan. 
Surveilans gizi merupakan salah satu bagian dari surveilans epidemiologi masalah kesehatan. Menurut Depkes RI (2008) Surveilans gizi adalah proses pengamatan berbagai masalah yang berkaitan dengan upaya perbaikan gizi masyarakat secara terus-menerus baikpada situasi normal maupun darurat dan informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka mencegah memburuknya status gizi masyarakat, menentukan intervensi yang diperlukan, manajemen program, dan evaluasi dari program yang sedang dan telah dilaksanakan.





DAFTAR PUSTAKA

Anonym.Gizi lebih (over nutrition) dalam kaitannya dengan peningkatan resiko penyakit degenerative

Azwar, Azrul. Kecenderungan masalah gizi dan tantangan di masa datang*)

1 komentar:

  1. Casino Bonus codes | DRMCD
    The best Casino 전주 출장마사지 bonuses, 공주 출장마사지 free cash, casino slots, casino games, casino bonuses. 구리 출장마사지 Best Casino Bonus codes, 태백 출장안마 casino bonus codes, casino 안양 출장마사지 bonuses. Best Casino Bonus

    BalasHapus